Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

44.MIE RUWET

Gambar
  Gambar Umay usia 5.4 tahun "Nenda bagus tidak gambarku? "E... E... Bagus!" "Nenda lama bangetmu jawab." "Maaf. Bagus, bener bagus. Gambar apa ini sayang?" "Masak Nenda nggak tahu, Nenda kan udah kuliah, masak nggak tahu?" "Bukan nggak tahu, tapi lupa." "Huh, ini lagi, tadi nggak tahu, sekarang lupa." "Hehe, gambar apa sih sayang, penasaran nih...." "Gambar bagus, memang bikin penasaran. Ini gambar mie Nenda, gitu aja nggak tahu." Kening beradu. Kok ruwet. O, betul mie tumpah di lantai, anggap saja begitu.😄 BDWS250524

09.Kala Itu

Gambar
  Putih abu-abu saksi bisu Bentangan masa lalu yang pernah terjalin Di antara ilmu, bangku dan lemari tua dan bangunan kokoh jaman Belanda Teringatkah kau Masa itu canda tawa dan air mata Di antara tumpukan buku yang terselip di bangku berdebu Saksi bisu betapa tegangnya derita otak Yang bertumpu di antara lelah lapar kantuk Lalu Lembaran kapur, penghapus atau sapu Menghentak di antara deraian tawa Teringatkah kau Ketika waktu terburu Mata terlipat yang menyerang karena lakon India di irama dan menang Seraut wajah tegas Telah menghadang dengan tangan di pinggang Menahan malu takut dan kantuk yang tak hilang Berdiri tegak di sudut tembok Sampai istirahat datang Dengan tudingan telunjuk Enyah kau di belakang sana, cuci muka Kini 36 tahun berlalu Canda tawa itu masih tetap menggema Di antara lipatan kulit jeruk dan sematan pundak Membawa buntut istri suami anak dan cucunda Rasa itu masih menggelora Persaudaraan, kasih sayang, persahabatan Tetap terikat, tetap terjalin erat Semoga teta...

BAB 9. Se.7

Gambar
Dokumen Pribadi "Tante, eh Kakak Ipar, ayo kita pulang." "Hah! Kakak Ipar? Pulang? Kemana?" "Ke rumahlah, ketemu Mama Papa." "Eh, jangan. Eee... Koper Seruni gimana?"  Belum menjawab Seruni menyeret tangannya, sekilas memandang koper besar tergeletak di lantai. Gerakan jalan tergesa mereka menarik perhatian beberapa tamu di sepanjang koridor hotel, heran melihat dua cewek cantik yang tampak saling menarik. Ketemu tuan dan nyonya bos sudah sering, tapi posisi sebagai pengantar sesuatu, bisa makanan atau barang. Tapi sekarang mau ketemu dalam posisi yang berbeda, sama sekali tak ada dalam bayangan. Mau nurut masih bimbang, nggak nurut takut akan efeknya. Bayangan dipecat terbayang di pelupuk  mata. Bagaimana kalau benar itu terjadi, makan apa keluargaku? Walaupun ayahnya pensiunan, tapi kan gajinya sudah habis buat cicilan mobil dan rumah, hanya mengandalkan gajinya untuk makan sehari-hari. Asik melamun tak menyadari ada vas bunga di samping pintu,...

BAB 8 Playboy Dekil 4

Gambar
Dokumen Pribadi "Seruni?" "Ya Tante, ada apa?" "Tante bingung." "Tante nggak usah bingung, pokoknya fokus Tante ke Abang, masalah i' o' i' o' serahkan ma Seruni . Ok!" "I' o' i' o'? Hah! Aih!" Kening Sinta bertautan tanda mikir sedalam lautan eh sedalam kerutan mulut tak bisa bicara apa, senang bercampur senep nggak kebayang akan menghadapi masalah seruwet ini. Seumur-umur ada masalah sekecil apapun selalu berunding dengan ortu, la kalau masalah ini, gimana dong?  Tadi siang masih pede bicara dengan gimbal, sok kuasa lempar uang, mata memandang karena tertawan. Sekarang rasanya berbeda, si gembel gimbal orang muda kaya, bukan orang sembarangan. Sinta menghembuskan nafas kasar, mencoba menghilangkan rasa terbang di awan yang mulai siang tiba-tiba bersemayam tanpa di undang. Apa yang akan dikatakan pada ayah dan bunda? Bagaimana menghadapi masalah rasa ini? Merasa aneh, kalau seorang wanita diberi tugas men...

BAB.7 Playboy Dekil3

Gambar
Dokumen Pribadi Sinta menutup mulutnya cepat, matanya membulat pipinya kemerahan. Tak bisa dibedakan antara kaget, senang, semua campur aduk. Badannya tak mendapat keseimbangan, terjatuh dengan bokong mendarat duluan. Aduh, sakit. "Seruni!" Berdiri cepat berhadapan. "Tante!"  "Seruni, apa yang Kamu katakan? Tante nggak kenal Gimbal." "Kenal!" "Kagak!" "Nggak kenal! Kenapa kasih uang!" Ketus. Sinta linglung berputar, untunglah kesadarannya tak hilang, di putarannya terduduk di empuknya springbet. Tangannya mengatup di kepala, seolah tak kuat menahan beban rasa. Ketika dibuka perlahan pandangannya bersiborok dengan seraut wajah cantik, yang  barusan bersitegang, melihatnya iba. Seruni duduk di dekatnya. "Tante maafkan Seruni, tapi tolong Abang? "Kamu tahu tentang uang itu? Jadi kamu tahu semua?"  Bernada tinggi, perasaan takut yang sempat muncul berubah menjadi keberanian yang membingungkan. "Tante Sinta, ten...

BAB.6 Playboy Dekil 2

Gambar
Dokumen Pribadi Menutupi rasa gugup Sinta meremas perut yang mendadak mules, tergesa turun dari dipan dan melesat ke toilet. Seruni menambah volume senyum, terbahak tanpa suara, tahu Tante Sinta mencoba menghindar. Ke tangkap basah loh Tante, wajah dewasa, sikap seperti abg   tua? Lucu juga. Hhh. Sengaja berlama-lama di toilet, Sinta menepuk-nepuk pipi dan dada, banyak menghirup udara dan menghembuskan berulang. Mencoba secepatnya menghilangkan debar di dada dan semu wajahnya. kenapa Seruni senyum-senyum, apa dia tahu perasaanku? Anak kecil, tahu apa? Hiburnya. Menatap wajah di toilet Sinta melihat pantulan wajahnya yang pucat tanpa ada cahaya. Bedak dan lipstik sudah hilang entah ke mana, bibir yang biasanya merah delima kini agak kepucatan , yang tersisa hanya sisa rona yang mulai tadi tak luntur dari wajahnya. Bagaimana mungkin seorang Sinta bisa taksir anak si embos, orang nomor satu di kantornya, kan aku nggak sengaja Bunda. Lagian kenapa aku harus takut, toh tidak ada o...

BAB 5. Playboy Dekil 1

Gambar
Dokumen Pribadi "Playboy? Seruni, Tante bingung, apa yang kamu maksud Gimbal itu, sama dengan yang Tante kenal?" "Inikan, Tante?"  Memperlihatkan foto di layar hp, yang membuat Sinta terbelalak sambil menutup mulut, ya ampun itu benar dia. Bagaimana ini, merasa takut cemas jadi satu, ternyata si gimbal ada hubungan dengan embos. Setelah bisa menguasai diri dia menjawab pelan. "Iya, Tante ketemu Gimbal, beberapa saat lalu sebelum menjemputmu. Apa hubungan Seruni ma Gimbal?" "Its Tante Sinta biasa kale. Nggak usah cemas. Tante, Abang Gimbal, Abangku sulung. Anaknya Papa Kelana, jelas!" Sinta hanya bisa manggut-manggut diikuti tangannya yang mendadak kacep dan keringetan. Dadanya berdebar dahinya tumbuh air sebiji jagung, mending sebiji ini dah sepasukan. Seruni mendadak iba, tersenyum devil, ada yang jatuh cinta nih. Di bayangan Sinta, degub beberapa jam lalu kini terasa ambyar terselimuti rasa yang menekan dada dan itu sakit sekali. Di usianya yan...

BAB 4. Kangen

Gambar
Mendadak Sinta menjadi tegang melihat sikap Seruni yang agresif setelah menyebut si gimbal. Terbengong, terkaget baru sadar setelah Seruni menaboknya pelan. "Tante! Tante dimana lihat Gimbal. Abang Gimbal, Seruni kangen... Aaaa...." Mau tak mau Sinta memeluk Seruni yang menangis dengan kencang, tak tahu harus berkata apa. Badannya terguncang-guncang, seirama dengan tangisnya yang meledak-ledak. Tangan kiri menahan beban badan, tangan kanan mengelus kepala lembut, jadi merana juga. Seruni tertidur. Hati-hati diletakkannya badan seruni, menyelimuti, lantas diambilnya gawai menelpon sang bos. Seperti biasa deringan pertama, langsung terdengar suara. " Assalamualaikum, ya Sin." "Waalaikum salam. Bapak, Seruni baru saja tidur." "Biarkan saja, tungguin, tar bangun bawa kesini. Atau kalau belum terbangun sampai jam pulang kantor, kamu antar ke rumah." Baru mau membuka mulut, terdengar bunyi Tut Tut, tanda hp dimatikan. Dengan jengkel campursari Sinta ha...

04.Serba Guna

Gambar
"Buk punya uang recah nggak?" "Ada, beli apa sih?" "Kerupuk, dimana Buk?" "Tas ransel di kasur." Sekilas percakapan, ketika aku sedang membuka tudung saji, pulang dari kerja sedang anakku  pulang sekolah. Sama-sama masih dengan seragam masing-masing, karena kelaparan tidak sempat berganti baju, malah langsung ke ruang makan. "Ya ampun... Ibuk! Ibuk!"  Pekik Rosa dari kamar, diikuti langkah tergesa menuju kamar. Apa sih nih anak, nggak tau apa kalau perut lapar, malah main drama. Sampai di kamar langsung menuju Rosa yang terfokus melihat tas ranselku yang terbuka. "Apa sih Ros?" "Lihat Buk!" "Oh itu, Ibuk tadi belanja di kantor." Jawabku enteng lantas mencomot bungkusan resek berisi sayur ketela, dan bahan sambelan dari tas. Rosa terbelalak melihat tingkahku, tak peduli buru-buru pergi ke ruang makan, karena perut yang keroncongan. Membuntuti langkahku menuju dapur, meletakkan bungkusan lantas menuju meja ma...

BAB 3 SERUNI

Gambar
Perlahan meninggalkan parkiran dengan hati yang masih gamang, bergantian antara bayangan si gimbal atau teman kencan si bos yang menunggu di hotel. Hus, hus pergi kau, menghentakkan kepala kiri kanan. Untunglah mengendarai mobil sudah seperti mainan, masih aman, tapi...cittt... "Hei bregsek keluar Lo," terdengar sebuah teriakan, mau tak mau minggir pelan. "Ada apa Pak?" Baru tertegun menyesal, seorang bapak sudah tergeletak di pinggir jalan, dengan kaki agak terpincang berdiri pelan. Kerumunan orang menyadarkan Sinta, mobilnya menyenggol orang. Semua tertegun diam yang keluar seorang cewek dengan sepatu kantoran. "Tanggung jawab Neng." "Jangan ngelamun Non, nyawa orang jadi taruhan." "Ganti rugi saja, biar saya yang antar Bapak ni ke puskesmas." Setelah ada kesepakatan, uang 1 juta melayang, tapi tak apalah, masalah sudah terpecahkan. Dengan dada berdebar kencang Sinta duduk di belakang setir, pikirannya masih melayang-layang di awan. K...

BAB 2. SI GIMBAL

Gambar
 Dien Soebari MASIH DIA Dokumen Pribadi   Dengan senyum sendiri Sinta perlahan berjalan mendekati pintu mobil, detakan sepatu bertumit tinggi, berburu seirama dengan detak jantung yang tak beraturan. Beberapa orang depan toko merasa heran dengan interaksi keduanya, yang bertolak belakang dari semua sisi, mengundang curiga dan memaksa bersiaga. Reaksi Sinta yang biasa saja, terkesan akrab dan manja di pandangan mereka, membuat sikap yang semula siaga menjadi acuhan saja. Lantas menyibukkan dengan aktivitasnya sendiri tanpa peduli. Ketukan berulang di setir, senyuman di ujung bibir, ada sisa yang masih terasa dan entah itu apa. Wajah itu meskipun tertutup elusan debu bau, baju dekil tak pernah ganti, tak mampu menutup aura yang terpancar diiringi badan tegaknya. "Aku terima nikahnya dengan mahar 10 juta" "Kagak apa, kagak pergi aku" "Embak cantik" "Dada... Jumpa lagi. Aku kan ganti berlipat ganda" Senyum simpul merona, seirama...

BAB1.SI GIMBAL

Gambar
  BAB 1 Dien Soebari Mata Sinta tertegun menatap seseorang yang berusaha untuk mecongkel pintu kaca mobilnya, dengan kawat panjang, dia lagi dia lagi. Rambut gimbal, celana yang tak pernah ganti, rambut kucel dan kaos bermerek tapi tampak sudah kusam walaupun masih tampak elegan. Dua kali pertemuan dan sama-sama tidak mengenakkan, anak ini apa memang tercipta untuk memalaknya. tergesa memasukkan tangannya ke dalam tas cangklong, merogoh uang yang hendak disetor ke ATM, seolah takut ada yang akan rampas. Sebenarnya Sinta sudah mau masuk ke ATM, ketika merasa hpnya tertinggal di dashboard mobil, jadi balik ke mobil lagi. Dan pemandangan yang menjengkelkan terpampang di depan matanya. Si gimbal kucel beraksi lagi, berusaha membuka pintu mobil dengan paksa. Anak ini, benar-benar. "Heh! Ngapain loo! Mu nyolong yah" Kepala itu menoleh cepat, membelalak dengan mulut penuh, lantas nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal tanda gugup. Emmbak cantik ketemu lagi kita...

01.DEBAR DEBAR

Gambar
  "kenapa Buk?" Kalimat tanya dari anakku ketika terduduk di kursi tamu sambil terpaku bengong. Tak bisa langsung menjawab, karena aku masih berusaha menenangkan debar jantungku yang berdetak sangat kencang. Aku sendiri sangat heran dengan dadaku, tidak biasanya berdebar sangat cepat seperti ini. Biasanya aman-aman saja tidak ada masalah, walaupun aku beraktifitas banyak dan padat. Sekarang usiaku sudah menginjak hampir kepala 5, dan aktifitas pekerjaan yang kujalani, sama seperti 30 tahun yang lalu ketika pertama kali bekerja. Lantas kenapa sekarang ada yang berbeda dengan detak dadaku? Belakangan ini atau beberapa hari ini, ketika menjalankan suatu kegiatan, aku sering ngos-ngosan seperti dikejar hantu. Padahal kegiatan yang kujalani biasa saja. Seperti saat ini, aku baru saja menstandar sepeda di garasi, lantas duduk di ruang tamu. Jarak antara garasi dan ruang tamu bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tirai bambu. Tapi selama berjalan dan duduk nafasku berdeta...

BAB I Salah Paham

Gambar
  Dokumen Pribadi "Umi, Umii. Umi di mana? Payudaraku kenapa kok keras?" Suara Cika membuat kening abinya berkerut. Abi Yusuf sedang duduk santai di ruang tamu. Menikmati secangkir kopi yang baru disesapnya, serasa tertahan di tenggorokan, menciptakan efek panas yang menjalar di dada. Cika tidak melihat Abi Yusuf yang sedang duduk di kursi tamu, dia malah membuka pelan pintu kamar depan sejajar dengan ruang tamu, karena tau Uminya berada di dalam. Melihat Umi yang tertidur pulas di sebelah Bagas adiknya, menutupnya pintu kembali. Ketika berbalik arah, tertabrak pandangannya dengan Abi Yusuf yang heran. Tanpa malu menghampiri padahal dia hanya memakai penutup handuk. Mungkin karena usianya yang baru berumur 8 tahun dan belum menyadari apa itu kata malu. Langsung saja dia membuka dadanya yang belum berkembang sempurna. "Abiii. Payudara aku sakit, seperti kemeng gitu Bi. Lihat nih Bii...." Ringisnya, membuka sebagian handuk. "Sayang yang mana yang sa...

KEJARLAH

Gambar
Koleksi Pribadi 19. Selayang Pandang  Di  kejaran bayang iringi langkahmu  Bersama angin dan tarian dedaunan Kau langkahkan angan dalam jejak Pergi jauhi luka yang terbuka Pergi saja sejauh yang kau mau Jangan menoleh lagi Agar bayang sakit yang tertoreh Akan terobati dan menepi Kau masih belia Banyak angan bayang yang bisa diraih Angin dan matahari masih setia Gengamlah erat jangan lepaskan Kukan iringi langkahmu Dalam doa tengadahkan tangan Di antara suara pekat keheningan pertiga malam Lagibelajarpuisi Tulissaja libaskansalah BDWS190222