43. Iiii...
"Buk, nggak libur taa?" Tati anakku, menata menu sarapan. "Nggak, mana ada libur kalau di kantor. Paling nanti, akhir tahun baru libur," sambil mengambil oseng kangkung, tempe, dadar telur. "Rara udah bangun?" Tanyaku sambil menggigit tempe, lauk andalan. " Udah dari tadi Buk, tuh lagi main di kasur, tarlagi kumandiin. Ibuk nggak beli ikan hiunya?" "Ada di kulkas." "Buk, Mbak Tati, mana ada ikan hiu. Adanya ikan pindang," seru Bik Sari, meledak tawa kita bertiga. Ulah cucuku Rara, memberi nama setiap ikan laut, ikan hiu. Kita orang tua, bukannya membenarkan, malah ikut-ikutan salah. Biar saja wong nggak dosa, toh nanti kalau sudah besar, akan tahu sendiri. Menjelaskan dengan gambar, ikan hiu itu besar, bukan sejari telunjuk, tapi tetap saja. "Mas berangkat," pamit sambil cium tangan, tak lupa dapat kis di dahi, lagi kumat lebaynya. "Hati-hati, jangan ngebut," sambil melambai tangan, aku gas sepeda denga...