Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

BAB.6 Playboy Dekil 2

Gambar
Dokumen Pribadi Menutupi rasa gugup Sinta meremas perut yang mendadak mules, tergesa turun dari dipan dan melesat ke toilet. Seruni menambah volume senyum, terbahak tanpa suara, tahu Tante Sinta mencoba menghindar. Ke tangkap basah loh Tante, wajah dewasa, sikap seperti abg   tua? Lucu juga. Hhh. Sengaja berlama-lama di toilet, Sinta menepuk-nepuk pipi dan dada, banyak menghirup udara dan menghembuskan berulang. Mencoba secepatnya menghilangkan debar di dada dan semu wajahnya. kenapa Seruni senyum-senyum, apa dia tahu perasaanku? Anak kecil, tahu apa? Hiburnya. Menatap wajah di toilet Sinta melihat pantulan wajahnya yang pucat tanpa ada cahaya. Bedak dan lipstik sudah hilang entah ke mana, bibir yang biasanya merah delima kini agak kepucatan , yang tersisa hanya sisa rona yang mulai tadi tak luntur dari wajahnya. Bagaimana mungkin seorang Sinta bisa taksir anak si embos, orang nomor satu di kantornya, kan aku nggak sengaja Bunda. Lagian kenapa aku harus takut, toh tidak ada o...

05. Fenomena BBM

Gambar
Pagi-pagi aktivitasku memanaskan sepeda Sambil melap dengan kanebo yang sudah pudar tapi masih bagus dipakai. Teringat tiga hari lalu isi bensin, hari ini waktunya minum untuk si kumbang hitam. Menyebutnya begitu karena hiasan plastik sudah aku babat habis, yang tersisa hanya cat hitam legam memenuhi seluruh permukaannya. Begitu melewati pom bensin baru teringat, kepalang basah kuteruskan saja jalan, agak cemas takutnya bensin habis. Perhitungan lima kilometer masih cukup buat jalan. Dengan tenang aku jalan dan berharap sepeda kumbang tidak mogok. Alhamdulillah di ujung jalan ada bensin eceran yang sudah buka, pelan jalan kepinggir dan memencet bel yang terletak di pintu kecil lapak bensin. Tak lama seraut wajah bapak usia 50 puluhan datang. "Berapa liter Bu?" "Dua Pak." Bapaknya dengan sigap mengambil 2 botol bensin, membuka tutupnya, lantas menuangkan di bibir tangki yang sudah kubuka. Teringat fenomena bensin, lantas kutanya iseng. "Pak tarlagi beli bensin h...

BAB 5. Playboy Dekil 1

Gambar
Dokumen Pribadi "Playboy? Seruni, Tante bingung, apa yang kamu maksud Gimbal itu, sama dengan yang Tante kenal?" "Inikan, Tante?"  Memperlihatkan foto di layar hp, yang membuat Sinta terbelalak sambil menutup mulut, ya ampun itu benar dia. Bagaimana ini, merasa takut cemas jadi satu, ternyata si gimbal ada hubungan dengan embos. Setelah bisa menguasai diri dia menjawab pelan. "Iya, Tante ketemu Gimbal, beberapa saat lalu sebelum menjemputmu. Apa hubungan Seruni ma Gimbal?" "Its Tante Sinta biasa kale. Nggak usah cemas. Tante, Abang Gimbal, Abangku sulung. Anaknya Papa Kelana, jelas!" Sinta hanya bisa manggut-manggut diikuti tangannya yang mendadak kacep dan keringetan. Dadanya berdebar dahinya tumbuh air sebiji jagung, mending sebiji ini dah sepasukan. Seruni mendadak iba, tersenyum devil, ada yang jatuh cinta nih. Di bayangan Sinta, degub beberapa jam lalu kini terasa ambyar terselimuti rasa yang menekan dada dan itu sakit sekali. Di usianya yan...

BAB 4. Kangen

Gambar
Mendadak Sinta menjadi tegang melihat sikap Seruni yang agresif setelah menyebut si gimbal. Terbengong, terkaget baru sadar setelah Seruni menaboknya pelan. "Tante! Tante dimana lihat Gimbal. Abang Gimbal, Seruni kangen... Aaaa...." Mau tak mau Sinta memeluk Seruni yang menangis dengan kencang, tak tahu harus berkata apa. Badannya terguncang-guncang, seirama dengan tangisnya yang meledak-ledak. Tangan kiri menahan beban badan, tangan kanan mengelus kepala lembut, jadi merana juga. Seruni tertidur. Hati-hati diletakkannya badan seruni, menyelimuti, lantas diambilnya gawai menelpon sang bos. Seperti biasa deringan pertama, langsung terdengar suara. " Assalamualaikum, ya Sin." "Waalaikum salam. Bapak, Seruni baru saja tidur." "Biarkan saja, tungguin, tar bangun bawa kesini. Atau kalau belum terbangun sampai jam pulang kantor, kamu antar ke rumah." Baru mau membuka mulut, terdengar bunyi Tut Tut, tanda hp dimatikan. Dengan jengkel campursari Sinta ha...

04.Serba Guna

Gambar
"Buk punya uang recah nggak?" "Ada, beli apa sih?" "Kerupuk, dimana Buk?" "Tas ransel di kasur." Sekilas percakapan, ketika aku sedang membuka tudung saji, pulang dari kerja sedang anakku  pulang sekolah. Sama-sama masih dengan seragam masing-masing, karena kelaparan tidak sempat berganti baju, malah langsung ke ruang makan. "Ya ampun... Ibuk! Ibuk!"  Pekik Rosa dari kamar, diikuti langkah tergesa menuju kamar. Apa sih nih anak, nggak tau apa kalau perut lapar, malah main drama. Sampai di kamar langsung menuju Rosa yang terfokus melihat tas ranselku yang terbuka. "Apa sih Ros?" "Lihat Buk!" "Oh itu, Ibuk tadi belanja di kantor." Jawabku enteng lantas mencomot bungkusan resek berisi sayur ketela, dan bahan sambelan dari tas. Rosa terbelalak melihat tingkahku, tak peduli buru-buru pergi ke ruang makan, karena perut yang keroncongan. Membuntuti langkahku menuju dapur, meletakkan bungkusan lantas menuju meja ma...

03.Macet

Gambar
Sudah beberapa hari aku memosting cerita tentang si gimbal, sudah sampai bab ke 7. terbayang di benakku akan sampai berujung dimana cerita yang akan aku buat. Tapi terus terang kalau aku menulis cerpen tak pernah membuat kerangka, karena ujung-ujungnya di perjalanan menulis malah melenceng dari cerita. Aku mengatakan demikian karena dari pengalaman yang kualami. Tapi kalau membuat artikel, baru aku buat kerangka. Saat membuat cerita muncullah kelas baru yang dimotori oleh Pak Ali, yaitu kelas membuat blog dengan segala fasilitasnya. Tertariklah hatiku untuk mengikuti kelas ini. Setelah konfirmasi dan masuk grup, ibu ketua memposting apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum mengikuti pelajaran pelatihan. Banyak fasilitas yang ditawarkan di kelas, Menjadi Penulis Blog Produktif" antara lain, memulai menjadi blog produktif materi pelatihan Template blog menarik mentoring selama 1 bulan, blacklink promosi blog, contoh artikel beniche, konsumsi. Dasar aku, rasanya menarik sekali kelas ...

BAB 3 SERUNI

Gambar
Perlahan meninggalkan parkiran dengan hati yang masih gamang, bergantian antara bayangan si gimbal atau teman kencan si bos yang menunggu di hotel. Hus, hus pergi kau, menghentakkan kepala kiri kanan. Untunglah mengendarai mobil sudah seperti mainan, masih aman, tapi...cittt... "Hei bregsek keluar Lo," terdengar sebuah teriakan, mau tak mau minggir pelan. "Ada apa Pak?" Baru tertegun menyesal, seorang bapak sudah tergeletak di pinggir jalan, dengan kaki agak terpincang berdiri pelan. Kerumunan orang menyadarkan Sinta, mobilnya menyenggol orang. Semua tertegun diam yang keluar seorang cewek dengan sepatu kantoran. "Tanggung jawab Neng." "Jangan ngelamun Non, nyawa orang jadi taruhan." "Ganti rugi saja, biar saya yang antar Bapak ni ke puskesmas." Setelah ada kesepakatan, uang 1 juta melayang, tapi tak apalah, masalah sudah terpecahkan. Dengan dada berdebar kencang Sinta duduk di belakang setir, pikirannya masih melayang-layang di awan. K...

BAB 2. SI GIMBAL

Gambar
 Dien Soebari MASIH DIA Dokumen Pribadi   Dengan senyum sendiri Sinta perlahan berjalan mendekati pintu mobil, detakan sepatu bertumit tinggi, berburu seirama dengan detak jantung yang tak beraturan. Beberapa orang depan toko merasa heran dengan interaksi keduanya, yang bertolak belakang dari semua sisi, mengundang curiga dan memaksa bersiaga. Reaksi Sinta yang biasa saja, terkesan akrab dan manja di pandangan mereka, membuat sikap yang semula siaga menjadi acuhan saja. Lantas menyibukkan dengan aktivitasnya sendiri tanpa peduli. Ketukan berulang di setir, senyuman di ujung bibir, ada sisa yang masih terasa dan entah itu apa. Wajah itu meskipun tertutup elusan debu bau, baju dekil tak pernah ganti, tak mampu menutup aura yang terpancar diiringi badan tegaknya. "Aku terima nikahnya dengan mahar 10 juta" "Kagak apa, kagak pergi aku" "Embak cantik" "Dada... Jumpa lagi. Aku kan ganti berlipat ganda" Senyum simpul merona, seirama...

02.Panggung Wisuda

Gambar
 Dien Soebari dokumen pribadi   Beberapa hari lalu tepatnya hari Sabtu tanggal 13 Juni 2022, aku mendapat undangan dari salah satu lembaga binaanku di kecamatan Pakem. Lembaga itu mengadakan acara perpisahan dan wisuda untuk anak didik pada tahun pelajaran 2021-2022. Bertemu dengan para kepala sekolah dan guru se-kecamatan Pakem, rupanya mereka di undang juga dalam acara ini. Akhirnya kami duduk di kursi yang telah disediakan yakni di depan panggung. Lembaga TK Kuncup Harapan yang dimotori oleh kepala sekolah Hosniati, S.Pd dibantu satu guru berdiri sejak tahun 1985, dan tetap bertahan sampai sekarang, walaupun setiap tahun muridnya hanya sekitar dua puluh sampai tiga puluhan. Hal ini dikarenakan memang lingkungan rumah yang sedikit dan jumlah kelahiran yang terbatas. Walaupun tidak banyak muridnya, tetapi mereka sangat antusias sekali ketika ada kegiatan, sangat kompak, terlihat dari tertatanya panggung dengan segala pernak-perniknya. Panggung besar megah bukti hasi...

BAB1.SI GIMBAL

Gambar
  BAB 1 Dien Soebari Mata Sinta tertegun menatap seseorang yang berusaha untuk mecongkel pintu kaca mobilnya, dengan kawat panjang, dia lagi dia lagi. Rambut gimbal, celana yang tak pernah ganti, rambut kucel dan kaos bermerek tapi tampak sudah kusam walaupun masih tampak elegan. Dua kali pertemuan dan sama-sama tidak mengenakkan, anak ini apa memang tercipta untuk memalaknya. tergesa memasukkan tangannya ke dalam tas cangklong, merogoh uang yang hendak disetor ke ATM, seolah takut ada yang akan rampas. Sebenarnya Sinta sudah mau masuk ke ATM, ketika merasa hpnya tertinggal di dashboard mobil, jadi balik ke mobil lagi. Dan pemandangan yang menjengkelkan terpampang di depan matanya. Si gimbal kucel beraksi lagi, berusaha membuka pintu mobil dengan paksa. Anak ini, benar-benar. "Heh! Ngapain loo! Mu nyolong yah" Kepala itu menoleh cepat, membelalak dengan mulut penuh, lantas nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal tanda gugup. Emmbak cantik ketemu lagi kita...

01.DEBAR DEBAR

Gambar
  "kenapa Buk?" Kalimat tanya dari anakku ketika terduduk di kursi tamu sambil terpaku bengong. Tak bisa langsung menjawab, karena aku masih berusaha menenangkan debar jantungku yang berdetak sangat kencang. Aku sendiri sangat heran dengan dadaku, tidak biasanya berdebar sangat cepat seperti ini. Biasanya aman-aman saja tidak ada masalah, walaupun aku beraktifitas banyak dan padat. Sekarang usiaku sudah menginjak hampir kepala 5, dan aktifitas pekerjaan yang kujalani, sama seperti 30 tahun yang lalu ketika pertama kali bekerja. Lantas kenapa sekarang ada yang berbeda dengan detak dadaku? Belakangan ini atau beberapa hari ini, ketika menjalankan suatu kegiatan, aku sering ngos-ngosan seperti dikejar hantu. Padahal kegiatan yang kujalani biasa saja. Seperti saat ini, aku baru saja menstandar sepeda di garasi, lantas duduk di ruang tamu. Jarak antara garasi dan ruang tamu bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tirai bambu. Tapi selama berjalan dan duduk nafasku berdeta...

Membuat Blog

Gambar
Dokumen Pribadi  Mendengar kata blogger identik dengan blog, Blogger adalah orang yang membuat blog sedang blog tempat kita membuat tulisan, bisa berupa cerpen, puisi, artikel, vidio, petualangan atau yang lainnya. Beberapa aspek perlu diperhatikan untuk menjadi bloger *Memahami mana blog * Tujuan blog *Membuat blog *mengelola blog *mengembangkan blog *Berpenghasilan dari blog Sebagai seorang bloger harus memahami niche yaitu, jenis blog yang berisi tulisan dengan tema tertentu. Jenis-jenis BLOG terdiri dari pendidikan, olahraga, hobby, pariwuisata, keuangan, kesehatan, hukum, hiburan, kuliner, traveling, sains, tehknologi dan laiinya. Kehidupan yang paling luas dan penting adalah pendidikan. Dipentingkan NICHE untuk menyajikan informasi terkini, sehingga setiap orang bisa mendapatkan informasi terbaik.  Aleepenaku informasi selengkapnya kunjungi  https://dhini1960.blogspot.com/

BAB I Salah Paham

Gambar
  Dokumen Pribadi "Umi, Umii. Umi di mana? Payudaraku kenapa kok keras?" Suara Cika membuat kening abinya berkerut. Abi Yusuf sedang duduk santai di ruang tamu. Menikmati secangkir kopi yang baru disesapnya, serasa tertahan di tenggorokan, menciptakan efek panas yang menjalar di dada. Cika tidak melihat Abi Yusuf yang sedang duduk di kursi tamu, dia malah membuka pelan pintu kamar depan sejajar dengan ruang tamu, karena tau Uminya berada di dalam. Melihat Umi yang tertidur pulas di sebelah Bagas adiknya, menutupnya pintu kembali. Ketika berbalik arah, tertabrak pandangannya dengan Abi Yusuf yang heran. Tanpa malu menghampiri padahal dia hanya memakai penutup handuk. Mungkin karena usianya yang baru berumur 8 tahun dan belum menyadari apa itu kata malu. Langsung saja dia membuka dadanya yang belum berkembang sempurna. "Abiii. Payudara aku sakit, seperti kemeng gitu Bi. Lihat nih Bii...." Ringisnya, membuka sebagian handuk. "Sayang yang mana yang sa...