BAB 4. Kangen




Mendadak Sinta menjadi tegang melihat sikap Seruni yang agresif setelah menyebut si gimbal.

Terbengong, terkaget baru sadar setelah Seruni menaboknya pelan.

"Tante! Tante dimana lihat Gimbal. Abang Gimbal, Seruni kangen... Aaaa...."

Mau tak mau Sinta memeluk Seruni yang menangis dengan kencang, tak tahu harus berkata apa. Badannya terguncang-guncang, seirama dengan tangisnya yang meledak-ledak. Tangan kiri menahan beban badan, tangan kanan mengelus kepala lembut, jadi merana juga. Seruni tertidur.

Hati-hati diletakkannya badan seruni, menyelimuti, lantas diambilnya gawai menelpon sang bos. Seperti biasa deringan pertama, langsung terdengar suara.

" Assalamualaikum, ya Sin."

"Waalaikum salam. Bapak, Seruni baru saja tidur."

"Biarkan saja, tungguin, tar bangun bawa kesini. Atau kalau belum terbangun sampai jam pulang kantor, kamu antar ke rumah."

Baru mau membuka mulut, terdengar bunyi Tut Tut, tanda hp dimatikan. Dengan jengkel campursari Sinta hanya bisa mendengus kesal, menonjok-nonjok hp jadi sasaran kekesalannya.

Embos dilawan!

Dipikir-pikir enak juga nungguin anak si bos, melenggang kangkung perlahan duduk di pembaringan di pinggir Seruni, memperhatikan wajahnya yang mulus bagai boneka. Iya benar, dia benar-benar cetakan yang sama dengan si gimbal.

Walaupun melihat hanya beberapa kali sekilas, tapi hatinya yang sudah tertancap raut si gimbal, bisa membedakan bahwa mereka ada sebuah ikatan. Capek bicara sendiri tak terapa lama, 2 hembusan nafas terdengar saling bersahutan, mereka tidur berdampingan.

Geli di telinga dan suara cekikikan, membuat Sinta terbangun dan reflek terduduk. Ya ampun, ternyata Seruni yang ngerjain, sambil tertawa senang memperlihatkan bulu ayam yang diacungkan. Anak ini, baru kenal tapi sudah berani ngerjain orang yang lebih tua, menjengkelkan.

Eh tunggu dulu, menjengkelkan? Berani pada anak embos? Terpaksa Sinta menarik kedua ujung bibir ke atas, setelah tadi pasang wajah setengah garang. Ampun deh, bisa dipecat gua, pikirnya.

Teringat kak Lila guru PNS, melakukan kesalahan paling-paling diberi peringatan, dirinya hanya seorang staf di sebuah perusahaan. Nggak bisa menyenangkan anak embos, alamat sangsi di depan mata.

"Tante marah ya?" Dengan wajah polos tanpa dosa, tangannya memeluk manja ke pinggangnya.

"Nggak lah Sayang, Tante hanya kaget saja. Jangan bilang Embos ya, tar Tante dipecat," ucapnya melembut, tapi tak urung membuatnya malu.

"Ich Tante, Embos, siapa Embos?.

"Maksud Tante, Bos," jawabnya terbata, malu dan takut menyelimuti hatinya.

" O, Papa nggak sekejam itu. Oh ya, kapan Tante ketemu Abang Gimbal?"

"Abang, dia Abangmu?"

"Iya, Abangku yang ganteng. Rambutnya mekrok kayak beringin di alun-alun itu kan?" Ujarnya sambil tawa berderai, tak lupa badannya berguncang dengan tangan nyakar-nyakar, lucunya anak ini. Batin Sinta.

"Pantas deh Seruni, Abangmu itu meskipun kayak gembel, tapi tetap keren dan ganteng," reflek menutup bibir, tanda bersalah.

" Yeee... Tante Seruni kesemsem yaa. Abang Gimbal memang ganteng. Jangan terpedayah, Abang banyak pacarnya," ucapnya yakin sambil tersenyum devil, membuat hati Sinta mengkerut seketika. Hatinya tak rela, ternyata hatinya tertaut pada seorang playboy.


BDWS040622

Komentar