Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

09.Kala Itu

Gambar
  Putih abu-abu saksi bisu Bentangan masa lalu yang pernah terjalin Di antara ilmu, bangku dan lemari tua dan bangunan kokoh jaman Belanda Teringatkah kau Masa itu canda tawa dan air mata Di antara tumpukan buku yang terselip di bangku berdebu Saksi bisu betapa tegangnya derita otak Yang bertumpu di antara lelah lapar kantuk Lalu Lembaran kapur, penghapus atau sapu Menghentak di antara deraian tawa Teringatkah kau Ketika waktu terburu Mata terlipat yang menyerang karena lakon India di irama dan menang Seraut wajah tegas Telah menghadang dengan tangan di pinggang Menahan malu takut dan kantuk yang tak hilang Berdiri tegak di sudut tembok Sampai istirahat datang Dengan tudingan telunjuk Enyah kau di belakang sana, cuci muka Kini 36 tahun berlalu Canda tawa itu masih tetap menggema Di antara lipatan kulit jeruk dan sematan pundak Membawa buntut istri suami anak dan cucunda Rasa itu masih menggelora Persaudaraan, kasih sayang, persahabatan Tetap terikat, tetap terjalin erat Semoga teta...

08. Budaya Mengantar Manten

Gambar
                              Baru mau sholat Isyak ketika kudengar ketokan pintu depan. Terburu tanpa melepas rukuk bergegas menuju ke ruang tamu. Begitu kubuka pintu ternyata suami istri Pak Sosro dan Santi.  "Assalamualaikum Bu Dien." "Waalaikum salam, ayo masuk-masuk, silahkan duduk," ternyata ada suamiku mengekor baru datang dari mesjid. "Tamu jauh, ada perlu apa nih," ujarku basa-basi. "Kami mau mengantar Sarah besok ke rumah mertuanya, ada acara walimahan juga disana." Memang seminggu yang lalu Pak Sosro dan Santi menikahkan putri kedua mereka Rini dengan Rusdi asal Desa Kemusuk Kecamatan Kalianyar yang berprofesi sebagai tenaga sekuriti di bank SS. Dengan senang hati aku terima, dan mereka bilang tidak usah bawa kue dan juga kendaraan karena semua sudah disediakan, jadi tinggal bawa badan saja. Begitu selesai langsung mereka berdua pamit pulang. Keesokan harinya sesuai jam yang telah d...

07.Libur Semester

Gambar
Mendengar kata libur, dalam bayangan kita adalah tidak masuk bekerja bagi pekerja dan tidak pergi bersekolah bagi pelajar atau mahasiswa.  Libur yang dimaksud di sini yaitu bukan tanggal merah, tetapi libur akhir semester. Sekitar 15 hari ditunggu oleh semua kalangan, terutama yang biasa menjadi sasarannya. Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 32 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Menjelang Libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19, menimbulkan gelisah bagi penikmat libur. Bagaimana tidak, surat edaran tersebut menghapus libur yang selama ini ditunggu oleh kalangan yang sasaran, terutama kalangan warga satuan pendidikan. Surat edaran tersebut menuai berbagai tanggapan dari kalangan warga pendidikan. Pada dasarnya keberatan, merasa kegiatan yang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun akan terbengkalai. Namun, sebagai petugas satuan pendidikan yang bersentuhan langsung dengan anak didik mau tidak mau mem...

06. Tahun Ajaran Baru

Gambar
Menjelang tahun ajaran 2022/2023 banyak diberitakan di surat kabar online tentang fenomena sekolah kekurangan siswa baru yang terjadi di beberapa daerah. Keberadaan siswa merupakan hal yang utama dalam roda keberlangsungan sebuah lembaga. Bagaimana mungkin akan ada kegiatan belajar mengajar jika tidak memiliki siswa, meskipun lembaga tersebut sudah mempunyai program unggulan? Seperti diketahui bahwa tahun ajaran baru 2022-2023 akan dimulai beberapa hari lagi. Lembaga pendidikan menyambut awal tahun ajaran baru dengan kegelisahan yang disebabkan adanya kecenderungan berkurangnya siswa baru, meskipun tidak semua lembaga menghadapi situasi ini. Bagi lembaga yang memiliki guru bersertifikat pendidik, kekurangan siswa merupakan saat-saat yang sangat menggelisahkan. Kekurangan siswa membuat kelompok/kelas yang mereka ampu tidak memenuhi kriteria yang harus dipenuhi kelas. Bagi guru bersertifikat pendidik, memenuhi jumlah siswa di kelompok dan menjadi guru kelompok/kelas merupakan suatu...

BAB 9. Se.7

Gambar
Dokumen Pribadi "Tante, eh Kakak Ipar, ayo kita pulang." "Hah! Kakak Ipar? Pulang? Kemana?" "Ke rumahlah, ketemu Mama Papa." "Eh, jangan. Eee... Koper Seruni gimana?"  Belum menjawab Seruni menyeret tangannya, sekilas memandang koper besar tergeletak di lantai. Gerakan jalan tergesa mereka menarik perhatian beberapa tamu di sepanjang koridor hotel, heran melihat dua cewek cantik yang tampak saling menarik. Ketemu tuan dan nyonya bos sudah sering, tapi posisi sebagai pengantar sesuatu, bisa makanan atau barang. Tapi sekarang mau ketemu dalam posisi yang berbeda, sama sekali tak ada dalam bayangan. Mau nurut masih bimbang, nggak nurut takut akan efeknya. Bayangan dipecat terbayang di pelupuk  mata. Bagaimana kalau benar itu terjadi, makan apa keluargaku? Walaupun ayahnya pensiunan, tapi kan gajinya sudah habis buat cicilan mobil dan rumah, hanya mengandalkan gajinya untuk makan sehari-hari. Asik melamun tak menyadari ada vas bunga di samping pintu,...

BAB 8 Playboy Dekil 4

Gambar
Dokumen Pribadi "Seruni?" "Ya Tante, ada apa?" "Tante bingung." "Tante nggak usah bingung, pokoknya fokus Tante ke Abang, masalah i' o' i' o' serahkan ma Seruni . Ok!" "I' o' i' o'? Hah! Aih!" Kening Sinta bertautan tanda mikir sedalam lautan eh sedalam kerutan mulut tak bisa bicara apa, senang bercampur senep nggak kebayang akan menghadapi masalah seruwet ini. Seumur-umur ada masalah sekecil apapun selalu berunding dengan ortu, la kalau masalah ini, gimana dong?  Tadi siang masih pede bicara dengan gimbal, sok kuasa lempar uang, mata memandang karena tertawan. Sekarang rasanya berbeda, si gembel gimbal orang muda kaya, bukan orang sembarangan. Sinta menghembuskan nafas kasar, mencoba menghilangkan rasa terbang di awan yang mulai siang tiba-tiba bersemayam tanpa di undang. Apa yang akan dikatakan pada ayah dan bunda? Bagaimana menghadapi masalah rasa ini? Merasa aneh, kalau seorang wanita diberi tugas men...

BAB.7 Playboy Dekil3

Gambar
Dokumen Pribadi Sinta menutup mulutnya cepat, matanya membulat pipinya kemerahan. Tak bisa dibedakan antara kaget, senang, semua campur aduk. Badannya tak mendapat keseimbangan, terjatuh dengan bokong mendarat duluan. Aduh, sakit. "Seruni!" Berdiri cepat berhadapan. "Tante!"  "Seruni, apa yang Kamu katakan? Tante nggak kenal Gimbal." "Kenal!" "Kagak!" "Nggak kenal! Kenapa kasih uang!" Ketus. Sinta linglung berputar, untunglah kesadarannya tak hilang, di putarannya terduduk di empuknya springbet. Tangannya mengatup di kepala, seolah tak kuat menahan beban rasa. Ketika dibuka perlahan pandangannya bersiborok dengan seraut wajah cantik, yang  barusan bersitegang, melihatnya iba. Seruni duduk di dekatnya. "Tante maafkan Seruni, tapi tolong Abang? "Kamu tahu tentang uang itu? Jadi kamu tahu semua?"  Bernada tinggi, perasaan takut yang sempat muncul berubah menjadi keberanian yang membingungkan. "Tante Sinta, ten...