Postingan

44.MIE RUWET

Gambar
  Gambar Umay usia 5.4 tahun "Nenda bagus tidak gambarku? "E... E... Bagus!" "Nenda lama bangetmu jawab." "Maaf. Bagus, bener bagus. Gambar apa ini sayang?" "Masak Nenda nggak tahu, Nenda kan udah kuliah, masak nggak tahu?" "Bukan nggak tahu, tapi lupa." "Huh, ini lagi, tadi nggak tahu, sekarang lupa." "Hehe, gambar apa sih sayang, penasaran nih...." "Gambar bagus, memang bikin penasaran. Ini gambar mie Nenda, gitu aja nggak tahu." Kening beradu. Kok ruwet. O, betul mie tumpah di lantai, anggap saja begitu.😄 BDWS250524

43. Wedus Gembel

Gambar
 Tok tok tok "Assalamualaikum...." Suara siapa? Kayak yang kenal. Tok tok tok "Assalamualaikum...." Dok dok dok "Assalamualaikum... Wen... Wen... Ini Mama. Kamu di dalam?" Hah! Mati aku, benar suara Mama. Kemarin sore baru telponan, kok sekarang sudah nongol di kossan. Berjingkat cepat Wenny lari ke kamar mandi, cuci muka cuci mulut, lalu sisir rambut dengan jari. Beres. "Waalaikum salam," tangan kiri menutup mulut, tangan kanan membuka kunci kamar. Seraut wajah yang dirindukan suaranya, tapi tidak  kedatangannya. Merasa aneh, kemarin sudah berjam-jam bicara di telpon. Itrogasi segala macam, lah sekarang kok nongol di kossan. Alamat! "Mama...." "Ya ampun Weny, ini sudah jam berapa, kamu baru bangun tidur dan belum mandi?" Seru Mama Kiki, membelalakkan mata dan mengendus-endus hidungnya. Wedus gembel belum hilang ternyata. Makasiswi jam 9 pagi, masih belekan, dengan rambut awut-awutan. Huh, apa kata dunia? Beberapa kepala menye...

43. Iiii...

Gambar
 "Buk, nggak libur taa?" Tati anakku, menata menu sarapan.  "Nggak, mana ada libur kalau di kantor. Paling nanti, akhir tahun baru libur," sambil mengambil oseng kangkung, tempe, dadar telur. "Rara udah bangun?" Tanyaku sambil menggigit tempe, lauk andalan. " Udah dari tadi Buk, tuh lagi main di kasur, tarlagi kumandiin. Ibuk nggak beli ikan hiunya?" "Ada di kulkas." "Buk, Mbak Tati, mana ada ikan hiu. Adanya ikan pindang," seru Bik Sari, meledak tawa kita  bertiga. Ulah cucuku Rara, memberi nama setiap ikan laut, ikan hiu. Kita orang tua, bukannya membenarkan,  malah ikut-ikutan salah. Biar saja wong nggak dosa, toh nanti kalau sudah besar, akan tahu sendiri. Menjelaskan dengan gambar, ikan hiu itu besar, bukan sejari telunjuk, tapi tetap saja. "Mas berangkat," pamit sambil cium tangan, tak lupa dapat kis di dahi, lagi kumat lebaynya. "Hati-hati, jangan ngebut," sambil melambai tangan, aku gas sepeda denga...

42. Lahiran

Gambar
  Dengan tertatih-tatih ke hempaskan pelan bokongku di tepi tempat tidur, merasakan perut yang sebentar-sebentar menegang kaku. Mungkin efek menjelang lahiran.  "Sakit ya Dek, nggak usah mendesis. Eleng, eleng. Bu bidan dalam perjalanan, tahan dulu yaa. " Mas Ravi mengelus perutku pelan, tapi malah membuatku tak nyaman, tapi kubiarkan agar menenangkannya. Omongannya kalau kujawab akan tambah lebay, pakai rayuan segala, nggak tahu suasana.  "Wes ta Dek, jangan meringis gitu, sakit gigiku, " tak lupa mengelus rahang, tanganku mau menabok tapi kutahan.  "Mas! Sakitt...." Pekikku tak tahan, bukannya tambah berkurang, perutku tambah melilit.  "Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum! " Gedoran pintu terdengar bertubi, ya ampun, mules merambah perutku. Bergegas Mas Ravi bukakan pintu, seperti suara ibu.  "Ya ampun Mimi, sakit ya Nak? Aduh cucu Ibu mau lahir. Aduh, aduh," ya ampun ibu, kenapa nggak diam. "Ini minum," membuka botol...

41. Sepotong Hati

Gambar
  Hatiku mengkerut Melihatmu berlutut Pada rembulan berwajah imut Di malam larut Hatiku berasa masam Menatap wajah rembulan Yang mampu menaklukkan malam Dengan senyum dan alunan Bukan bukan aku cemburu Pada tarian yang melenggang Di antara hiruk-pikuk rindu Yang saling berbungkus pedang Hanya saja Luruh hati tak bisa kusangga Dengan galah yang menjulang pongah Menanti rindu tak kunjung datang

40. Debar Debar

Gambar
 Kucoba mengambil nafas panjang berulang, mencoba bersikap tenang, debaran dada terus saja menggema. Terdengar pintu kamar berderit, Mas Aak menyembuhkan kepala, aku beri senyuman sambil menggulung mukena dan meletakkan di atas tempat tidur.  Tampak heran di wajahnya melihatku yang mandi sebelum Asyar, kebiasaan selalu Asyar dulu mandi setelah mau Maghrib. Tapi sebelum membuka mulut aku sudah membungkamnya.  "Aku mu ke arisan Mas, arisan jam 4, sekarang jam 3," sambil melipat sajadah menumpuknya di atas mukena.  "O. Sekarang tanggal 4, Hari Minggu," tangannya tampak seperti menghitung, mulut komat kamit, aneh. "Pakai baju kuning Ma." tambahnya.  "Ich! Kenapa emang? " heran.  "Kalau mau ngena arisan, turuti deh," ujar Mas Aak ngeloyor pergi.  Ich sejak kapan jadi dukun, ada aja. Tapi emang sih Mas Aak ada keturunan orang pinter, nggak pinter-pinter juga. Dulu, ibu Mas Aak selalu jadi andalan ketika ada barangku yang hilang. Barang apa sa...

39.TAKI

Gambar
Aku tak tahu apa yang menyebabkan anggota keluarga baru itu benci, tidak seperti di awal datang ke rumah Yayang Vivi, membelai sayang bulu lembutku. Sayang itu hanya beberapa hari saja, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak menyentuh apalagi mendekati. Seolah aku, binatang najis yang menjijikkan. Apa salahku?  "Mas dadaku bunyi krek krek, gatal dalam dada," adunya pada Mas Viko yang baru datang dari kantor. Reaksiku langsung lari di bawah meja begitu mendengar jawaban Mas Viko. "Biar kukandangin!" samar tapi kudengar dengan jelas. Pasrah saja saat Mas Viko menyambar tubuhku dan Doi ke dalam kandang. Sebenarnya tak masalah asal makanan dan minuman aman. "Sayang...." ucap yayang Vivi lembut.  Uh, leganyaaa. Gadis manis adik mas Viko ini membebaskanku dan si Doi. Sebenarnya aku tak begitu suka pada Mas Viko, orangnya suka angin-anginan, kadang sayang kadang badanku terlempar karena tangannya yang melayang. Karakternya berseberangan d...