39.TAKI
Aku tak tahu apa yang menyebabkan anggota keluarga baru itu benci, tidak seperti di awal datang ke rumah Yayang Vivi, membelai sayang bulu lembutku.
Sayang itu hanya beberapa hari saja, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak menyentuh apalagi mendekati. Seolah aku, binatang najis yang menjijikkan. Apa salahku?
"Mas dadaku bunyi krek krek, gatal dalam dada," adunya pada Mas Viko yang baru datang dari kantor. Reaksiku langsung lari di bawah meja begitu mendengar jawaban Mas Viko.
"Biar kukandangin!" samar tapi kudengar dengan jelas. Pasrah saja saat Mas Viko menyambar tubuhku dan Doi ke dalam kandang. Sebenarnya tak masalah asal makanan dan minuman aman.
"Sayang...." ucap yayang Vivi lembut.
Uh, leganyaaa. Gadis manis adik mas Viko ini membebaskanku dan si Doi.
Sebenarnya aku tak begitu suka pada Mas Viko, orangnya suka angin-anginan, kadang sayang kadang badanku terlempar karena tangannya yang melayang. Karakternya berseberangan dengan Yayang Vivi, padahal mereka berasal dari rahim yang sama.
Dulu pernah ada kejadian, Mas Viko lagi kerja laptop, aku duduk manis di kakinya. Begitu ekor matanya menyadari kehadiran ku, langsung saja main sepak. Emang aku bola apa?
Kudengar Sayang Vivi menegur Mas Viko karena kelakuannya yang tak berkepribinatangan, tapi ditanggap santai saja. Emang aku dan Doi bukan mahkluk Tuhan juga yang perlu disayang dan dihormati.
Kelakuannya menular pada Lili istrinya, tubuhku dan Taki seolah jadi samsak bagi Lili. Tubuhku jadi sakit, Doi enak, bisa menghindar sana sini lain dengan aku. Badanku sakit dan bentol kehitaman, untunglah bulu cantik menutupi lebam itu.
Apa Mas Viko anak tiri, karena karakter mereka yang berbeda sekali. Ya mana kutahu, ketika aku diadopsi oleh Mama Santi dan Pak Heru, mereka berdua sudah besar-besar. Mas Viko sudah berkerja kantoran dan Yayang Vivi masih SMP.
Jika Mbak Lili tak mau mendekatiku karena alergi, sebenarnya tak masalah bagiku, akukan hanya ingin duduk manis di dekatnya tanpa berniat menyakiti. Tapi akhir-akhir ini tangan dan kaki Mbak Lili sepertinya perlu dislameti, bagaimana tidak, tangan dan kaki lembut itu ringan sekali bergerak.
Kaki menendang, nyubit-nyubit pakai jempol kaki, apalagi kalau tangannya yang kerja mematuk-matuk kepala seperti ular. Apa Mbak Lili keturunan ular cobra, karena ketukan jarinya membuat kepalaku pening dan berputar layaknya gasing.
"Kamu datangin saja dalam mimpi Mbak Lili," usul Doi.
"Hah! Dalam mimpi? Maksudmu? "
"Kita binatang tidak bisa bicara dengan manusia, tapi kita bisa datang dalam mimpinya."
"Ooo... Boleh juga usulmu. Tumben pinter," ejekku.
"Aku memang pintar dari dulu," sombong sekali.
Tanpa banyak pikir aku datangi Lili dalam mimpinya. Aku caci maki dia, semua yang menjadi unek-unek dalam hati dan penderitaan yang kualami.
'Mentang-mentang manusia, mentang-mentang cantik suka memukul binatang, dasar tak berkebinatangan'
Hari pertama tak ada reaksi.
Hari kedua tak ada reaksi, tapi Lili sering mencuri tatapan padaku.
Hari ketiga, aku terkaget ketika dia mengambil tanganku dikawal seluruh anggota keluarga. Hemm... Akhirnya, sadar rupanya. Walaupun agak sinis, aku menerima maafnya. Sebagai makhluk Tuhan, tak boleh menyimpan dendam.
"Taki, maafkan aku ya. Aku berjanji tak akan menyakiti kamu lagi. Tidak akan menendang, memukul, apalagi ketok-ketok kepala kamu. "

Komentar
Posting Komentar