Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

39.TAKI

Gambar
Aku tak tahu apa yang menyebabkan anggota keluarga baru itu benci, tidak seperti di awal datang ke rumah Yayang Vivi, membelai sayang bulu lembutku. Sayang itu hanya beberapa hari saja, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak menyentuh apalagi mendekati. Seolah aku, binatang najis yang menjijikkan. Apa salahku?  "Mas dadaku bunyi krek krek, gatal dalam dada," adunya pada Mas Viko yang baru datang dari kantor. Reaksiku langsung lari di bawah meja begitu mendengar jawaban Mas Viko. "Biar kukandangin!" samar tapi kudengar dengan jelas. Pasrah saja saat Mas Viko menyambar tubuhku dan Doi ke dalam kandang. Sebenarnya tak masalah asal makanan dan minuman aman. "Sayang...." ucap yayang Vivi lembut.  Uh, leganyaaa. Gadis manis adik mas Viko ini membebaskanku dan si Doi. Sebenarnya aku tak begitu suka pada Mas Viko, orangnya suka angin-anginan, kadang sayang kadang badanku terlempar karena tangannya yang melayang. Karakternya berseberangan d...

38.Grudak Gruduk

Gambar
Ya ampun, malam yang dingin. Tak mampu selembar selimut menghangatkan badan, setelah seharian berjibaku memindahkan barang-barang, ke dalam rumah.  Menjadi mimpi buruk di malam harinya, suara tikus yang berjalan cepat di plafon, tanpa ada jeda. Mungkin para tikus mengira, rumah masih kosong tak ada penghuni, jadi aman kalau dipakai jalan-jalan malam.  Meong... Meong... Grudak.  Bibirku merekah melihat pahlawan kemalaman datang. Seekor kucing liar loncat dari atap, menimpa selimut ku yang reflek ku tarik. Aich, alamat ini.  "Hal loh Empus, pa kabar? " sapaku melucu, Empus mengeong.  "Empus lapar? Noh, banyak makanan di atas, " telunjuk ku diikuti kepala empus. Mungkin empus ijin mau berburu, karena ada tuan rumah baru.  "Empus, mau makan malam? Tuh atas plafon banyak makanan. Gratis buatmu!" ulasku senang.  "Meong... Meong.... " Seolah mengerti, dalam sekali loncat, si empus menghilang dalam gelap malam.  Teringat dulu punya si Taki yang klemeng-k...

37.SI TAKI SONGONG

Gambar
                                                   POV 3 Ketika baru menikah, aku langsung ikut suami di perumahan mertua indah. Kaget juga, ketika disambut dua ekor kucing di pintu masuk, berwarna putih totol-totol hitam dan abu-abu. Mata keduanya yang tajam cantik mempesona, menggerakkan tanganku untuk membelainya. "Mbak suka kucing? Taki yang warna hitam putih. Doi yang abu-abu."  " Suka juga," membelai bulu sehalus sutra. "Asyik." "Huh, gitu aja senang!" Mas Viko menoyor VIvi. "Biarin! Mbak jangan ikutan Mas Viko, dia jahat ma kucing." Mata bulat bibir mengerucut membuatku gemas, aha! Selain dua kucing lucu, ada adik lucu juga. Kubayangkan hari-hari indah yang akan kulalui, benar kata Mas Viko, aku tak akan sedih lagi kalau tinggal disini. "Lololo, anggota baru kok disambut begini sih!"  Grecep. ...