38.Grudak Gruduk
Ya ampun, malam yang dingin. Tak mampu selembar selimut menghangatkan badan, setelah seharian berjibaku memindahkan barang-barang, ke dalam rumah.
Menjadi mimpi buruk di malam harinya, suara tikus yang berjalan cepat di plafon, tanpa ada jeda. Mungkin para tikus mengira, rumah masih kosong tak ada penghuni, jadi aman kalau dipakai jalan-jalan malam.
Meong... Meong... Grudak.
Bibirku merekah melihat pahlawan kemalaman datang. Seekor kucing liar loncat dari atap, menimpa selimut ku yang reflek ku tarik. Aich, alamat ini.
"Hal loh Empus, pa kabar? " sapaku melucu, Empus mengeong.
"Empus lapar? Noh, banyak makanan di atas, " telunjuk ku diikuti kepala empus. Mungkin empus ijin mau berburu, karena ada tuan rumah baru.
"Empus, mau makan malam? Tuh atas plafon banyak makanan. Gratis buatmu!" ulasku senang.
"Meong... Meong.... "
Seolah mengerti, dalam sekali loncat, si empus menghilang dalam gelap malam.
Teringat dulu punya si Taki yang klemeng-klemeng, kerjanya makan dan tidur, berbeda banget dengan pahlawan kemalaman ini. Mataku sendu mengingatnya, akibat ulahku yang usil, membuatku kehilangannya.
Dimana kamu Taki, aku rindu. Tak terbayang setelah engkau purik tak pulang, betapa hari-hariku dilanda kesepian.
Doi juga ikut merana atas kepergianmu, membuatnya tak enak makan dan minum, sehari. Lalu, dua hari, berhari-hari. Dan akhirnya Doi pergi, tidur dan tak bangun lagi.
Taki... Taki... Dimana kau...
Gubrak, gubrak.
Meong... Meong... Siuttt, gedebuk!
Brak bruk! Meong...
Rupanya plafon sudah jadi arena balap lari, terdengar dari cuitan dan desingan kaki tiada henti. Mataku yang ingin terpejam, jadi menghilang.
Hehh...
Tidur malam tak nyenyak, rumah milik sendiri. Kemarin tinggal di kontrakan rasanya aman-aman saja. Aich.

Oh Taki....medan lag si kucing bikin tak tenang ya bu
BalasHapus