Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

21. Umroh Dien Soebari

Gambar
  Sekarang lagi musim haji umroh, banyak orang melaksanakan ibadah umroh selain hemat waktu, juga hemat uang. Tentu saja kalau kita memakai paket yang biasa. Paket umroh bermacam-macam, mulai dari yang kelas biasa sampai kelas premium. Tinggal memilih sesuai dengan keuangan yang dimiliki. Setelah datang dari umroh banyak yang kedatangan tamu, tak ada acara yang spesial, hanya sekedar mendengar cerita selama perjalanan, dan terakhir kita dibacakan doa oleh tuan rumah. Begitu pak RT datang umroh, ibu-ibu pengajian sudah pada heboh untuk datang bertakziah. Setelah melalui musyawarah di grup chat wa, disepakati kita akan datang malam Selasa sesudah acara pengajian. Ustaz Rosita ketua pengajian datang paling akhir, karena masih merawat suaminya yang sakit, kena gejala struk ringan. Selama ngaji duduknya tidak tenang, gelisah sering berganti posisi. "Cemas apa Bu?" "Bapaknya sakit." "Kan ada yang nungguin?" "Iya ada," jawabnya menghembuskan nafas lega....

20. Kejepit Dien Soebari

Gambar
Perjalanan kali ini agak ribet, sepeda kopling pakai rok panjang, seperti ada yang berkibar-kibar di perjalanan. Sebagai ASN yang baik, kewajiban bagi kita untuk mentaati setiap keputusan yang sudah ditetapkan. Jadi santai saja, dengan badan naik turun mengikuti irama nyanyian jalan, dikipasi lambaian dedaunan, tak terasa sudah sampai di kantor kelurahan. Tempat kerjaku selama  hampir 3 tahun, sedikit jauh, tak apalah tarlagikan mau pensiun. Merasa ada yang menarik rokku, aku hentikan sepeda. Ternyata ujung rok sudah masuk ke jerusi besi, untung aku nggak jatuh, kutarik pelan akhirnya berhasil. Walau agak berlepotan oli, untunglah roknya nggak robek, mungkin karena sepeda tua cengkraman ruji tidak begitu kuat. Temanku pada heboh melihat stempel rokku di ujung kaki. "Untung Bu, pesan nggak jatuh." Ujar Mimi. "Iya alhamdulillah, begitu ketarik aku langsung ngerem." "Bu, kemarin sore ada ibu-ibu yang jatuh di depan rumah, yaitu gara-gara roknya masuk ruji." ...

19. Luppah Dien Soebari

Gambar
Seperti biasa, Senin pagi kusambut dengan senyum ceria memulai aktifitas di mulai pagi buta. Emak merangkap pekerja yang harus selalu siap dalam segala aktifitas. Jam 6 pagi makanan sudah siap di meja, semua masih panas. Ada sayur bayam, tahu goreng ikan cakalan, tak lupa sambal dan krupuk pelengkapnya. Jam 6.30 siap otw kantor, baju keki sedah melekat pas di badan, ditambah kerudung dengan bahan senada. "Berangkat ya Yah?" "Iya, ati-ati. Jangan ngebut Buk," cium tangan. Dengan restu di tangan aku melenggang pergi, mengendarai sepeda kumbang dengan santai. TK berapa lama mendekati SD, banyak anak berjalan ke sekolah, tapi anehnya mereka memakai baju Koko dan baju muslim untuk perempuan. Astagfirullah hal azim baru teringat, seminggu menjelang hari santri ada pemberitahuan dari dinas, bahwa semua ASN diharuskan memakai baju muslim. Kupikir tadi anak SD kenapa kok dah pulang pagi, eh ternyata.... Untunglah, baru sekitar setengah kilometer aku jalan, cepat kuputar halu...

18. Bulan merona Dien Soebari

Gambar
  "Buk Deni, Buk Deni...." Tok tok tok. "Buk... Buk... Adakah orang di dalam?" Telingaku berdenging dan kesadaran jiwaku belum ngumpul, suara-suara bisikan seolah bergentayangan di sekeliling. Perlahan kubuka mata yang seolah ada lem yang merekatkan, suara-suara itu semakin jelas terdengar. Aku berjingkat kaget, dengan kecepatan penuh langsung bablas keluar kamar. Ternyata suara itu bukan bisikan gentayangan, akan tetapi ada tamu yang minta pintu dibukakan. "Ya ampun Bu Deni, kita dah siap, kok Ibuk baru bangun tidur." Bu Lita memakai gamis coklat muda dengan kerudung senada, berkacak pinggang di depan pintu, Bibir merona, tak lupa alis bak bulan sabit. Sedang aku baru bangun, dengan rambut mirip sarang burung, dan mungkin beberapa cetakan lava.  "Iya, iya maaf. Ketiduran saya." "Yowes cepetan, aku mu ke Bu Rini dulu," jawabannya membuatku lega, langsung ngacir ke kamar mandi. Dengan agak ngedumel, menyabun cepat ke seluruh tubuh. Tak h...

17. Lem Biru Dien Soebari

Gambar
Kupandang hp dengan masgul. Bagaimana tidak, tetiba saja hpku bisa SMS dan mengirim stiker sendiri, padahal aku nggak merasa pernah mengirim stiker ke beberapa teman. "Kamu ngirim apa sih Lun?" "Lun, lihat di grup SMP, kamu ngirim apa?" "Ya ampun Lun, hpmu sepertinya butuh lem biru." Beberapa ucapan komplain dari teman melalui sms datang bagai panah yang ditembak dengan beruntun. Tak bisa mengelak apalagi menjawab, karena setelah aku lihat dan scroll, kiriman dari hpku memang benar-benar. Dan lucunya, yang dikirim kalimat-kalimat yang tak ada artinya, berupa kata-kata. Misalnya saja, khghitg, lngfuitrdh, jgyyuknhff. Anehkan? Dengan hp di tangan, terburu aku pergi ke anakku Radit, yang sedang asik mengerjakan tugas kuliahnya. Serius banget dia hingga tak menyadari kalau aku sedang masuk kamarnya, karena pintu kamar memunggungi tempat duduknya. "Radit." "Astagfirullah Ibuk, bikin kaget saja, untung aku nggak jantungan." "Ih lebay, ka...

16. Ucapan Doa Dien Soebari

Gambar
"Ibuk! Lihat ada kupu-kupu," telunjuk Resi anakku balita. "O iya, kupu-kupunya bagus ya Kak," ujarku senang.  Tak hentinya Resi tawanya berderai sambil loncat-loncat hendak menangkapnya. Tapi tubuh kecilnya tak dapat menangkap, karena sudah hinggap di gorden ruang tamu. Aku menutup pintu mencegah kupu-kupu keluar ruangan. "Tangkap Buk, tangkap." "Eh, jangan dong Kak. Kita lihat saja ya, kalau ditangkap, tar kupunya mati. Kasian kan...." ucapanku dibarengi anggukan Resi. Kita berdua hanya memandangnya dengan kagum, warnya coklat tua bercorak mata putih ditiap kelopak. Di antara putih ada beberapa bayangan warna, sungguh indah dipandang mata. Tetiba Mas Ari suamiku nongol dari belakang, memandang heran pada kita berdua yang lagi asik fokus memandang indahnya ciptaan-Nya. "Kupu-kupu to." "Ayah, cantikkan." "Iya cantik. Kupu-kupu datang artinya mau ada tamu datang," gumamnya. "Iya benar, apalagi kalau sambil antar b...

15. Lagi Capek Dien Soebari

Gambar
"Opo'o Bu, kok manyun?" Ditanya nggak dijawab, malah bibir maju beberapa senti. It's bikin dongkol. Mau dibiarkan kasihan, nggak dibiarkan, teman sayang.  "Bu Sri, opo'o." "Rapopoh." "Manyun tok, dari tadi. Bibir tuh, nanti keselip nggak bisa balik, baru tahu rasa!" nah baru ujung bibir ketarik, kan manis Lok gitu. "Opo'o Bu?" " Duitku entek, pinjami raa Bu Nur." "Hah! Pinjam! Lakok enak!" Jawabku sengit. "Tukan, ditanyak! Wes dijawab, marah!" "Gajimu kemana? Tanggal segini, nggak ada duit." "Aku Bu, barusan belikan anakku sepeda BB 25 juta kurang dikit. Jadi, pertengahan gini, habislah uangku," menyesal tanya-tanya. Kuambil nafas panjang, hembuskan. Nafas panjang, hembuskan. Sabar. Mu dikasih apa nggak ya? Bikin panas saja. Bdws101022

14. Plong Dien Soebari

Gambar
Jalanan cukup ramai menemani perjalananku ke kantor pagi ini. Sepanjang jalan dipayungi oleh rimbunnya dedauanan, karena saat ini memasuki kawasan hutan lindung, setelah sebelumnya merasakan jalan padat merayap. Kupacu sepeda kumbangku agak kencang, mengimbangi kencangnya beberapa sepeda motor dan mobil box membawa galon air. Perjalanan seperti ini biasa kujalani setiap hari, 5 kali seminggu, dan alhamdulilah tak bosan hingga saat ini. Ketika akan mendeka akhir dari hutan, tampak di depanku seseorang dengan sepeda Mio berjalan pelan, dan tampak kedua kakinya menyentuh aspal. Kupikir kehabisan bensin, aku lanjut melewatinya dengan ide mau cari bensin untuknya. Tapi setelah beberapa meter melewati, kok merasa kasihan, apalagi beberapa kendaraan tak ada inisiatif untuk berhenti. Kuputuskan berhenti karena merasa tak nyaman di hatiku, bagaimanapun walaupun kita tidak kenal, setidaknya kita teman perjalanan yang searah. Begitu turun dari sepeda lantas mendekati dan menyapa, dia lantas berhe...

2A.Dien Soebari (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

Gambar
Seperti kita ketahui, ada banyak manfaat dari menulis, salah satunya, kita merasa puas, lega karena telah mengeluarkan unek-unek. Secara tidak langsung, menulis pun akan bermanfaat bagi pembaca, misalnya yang saya perhatikan dari tulisan Leni Cahya Pratiwi. Leni Cahya, salah satu peserta Emak Punya Karya yang telah menulis buku berjudul “Happy Mama Melahirkan Generasi Mulia”. Leni Cahya menulis pengalaman pribadi bersama ibu tercintanya. Dia mengambil rujukan dari buku non-fiksi Lori Gottlieb ketika menjadi terapis dan menjadi pasien dari rekannya sesama terapis. Leni Cahya pun mengambil rujukan dari buku-buku lain, seperti buku gurunda kita Cahyadi Takariawan. Ketika saya selesai membaca buku karya Leni Cahya dapat menyimpulkan, menulis pengalaman pribadi sangat banyak manfaatnya. Pengalaman apa saja yang bisa kita tulis? Mungkin kita berpikir, menulis bagi orang-orang yang mempunyai masalah saja. Mereka curhat, akhirnya menjadi tulisan puisi, cerpen, novel. Itu tidak benar, semua ora...

IA.Dien Soebari (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

Gambar
Seperti kita ketahui, ada banyak manfaat dari menulis, salah satunya, kita merasa puas, lega karena telah mengeluarkan unek-unek. Secara tidak langsung, menulis pun akan bermanfaat bagi pembaca, misalnya yang saya perhatikan dari tulisan Leni Cahya Pratiwi. Leni Cahya, salah satu peserta Emak Punya Karya yang telah menulis buku berjudul “Happy Mama Melahirkan Generasi Mulia”. Leni Cahya menulis pengalaman pribadi bersama ibu tercintanya. Dia mengambil rujukan dari buku non-fiksi Lori Gottlieb ketika menjadi terapis dan menjadi pasien dari rekannya sesama terapis. Leni Cahya pun mengambil rujukan dari buku-buku lain, seperti buku gurunda kita Cahyadi Takariawan. Ketika saya selesai membaca buku karya Leni Cahya dapat menyimpulkan, menulis pengalaman pribadi sangat banyak manfaatnya. Pengalaman apa saja yang bisa kita tulis? Mungkin kita berpikir, menulis bagi orang-orang yang mempunyai masalah saja. Mereka curhat, akhirnya menjadi tulisan puisi, cerpen, novel. Itu tidak benar, semua ora...

13. Stater

Gambar
Menatap kesal pada antrian di SPBU yang panjang mengular, bagai ular tangga meliuk tak beraturan. Walaupun antri beberapa menit tidak akan membuatku telat ngantor, tapi melihat antrian membuatku kesal. Seolah bertolak belakang dengan hati, tanganku tanpa sadar mengarahkan stang ke antrian, paling belakang. Ada sekitar 20 sepeda motor jalur kiri kanan, full penuh. Melirik sekilas di sebelah seolah bertolak belakang dengan Pertamax yang jual mahal. Sebenarnya lebih cepat beli Pertamax karena kosong pembeli, tapi mau bagaimana lagi sepeda kumbangku nggak mau kuberi minum Pertamax. Alasannya sih mahal. Hiii... Mataku cuci mata ke sekitar, melihat kanan kiri, bukan melihat orang tapi pemandangan di sekitar SPBU yang mempesona mata. Pantas saja SPBU ini banyak yang beli disini karena pemandangan yang menyejukkan serta, petugasnya yang ramah. Karena hanya SPBU ini saja yang paling dekat dengan rumah, juga tidak terlalu besar, jadi antrian yang sedikit menjadi pilihan termudah. Di sebelah kiri...