14. Plong Dien Soebari
Jalanan cukup ramai menemani perjalananku ke kantor pagi ini. Sepanjang jalan dipayungi oleh rimbunnya dedauanan, karena saat ini memasuki kawasan hutan lindung, setelah sebelumnya merasakan jalan padat merayap.
Kupacu sepeda kumbangku agak kencang, mengimbangi kencangnya beberapa sepeda motor dan mobil box membawa galon air. Perjalanan seperti ini biasa kujalani setiap hari, 5 kali seminggu, dan alhamdulilah tak bosan hingga saat ini.
Ketika akan mendeka akhir dari hutan, tampak di depanku seseorang dengan sepeda Mio berjalan pelan, dan tampak kedua kakinya menyentuh aspal. Kupikir kehabisan bensin, aku lanjut melewatinya dengan ide mau cari bensin untuknya.
Tapi setelah beberapa meter melewati, kok merasa kasihan, apalagi beberapa kendaraan tak ada inisiatif untuk berhenti. Kuputuskan berhenti karena merasa tak nyaman di hatiku, bagaimanapun walaupun kita tidak kenal, setidaknya kita teman perjalanan yang searah. Begitu turun dari sepeda lantas mendekati dan menyapa, dia lantas berhenti.
"Mbak kenapa sepedanya, habis bensinnya?"
"Nggak Bu, ini sepeda saya ogel-ogel, kempos Bu," jawabnya senyum manis, mungkin karena ada yang menyapa.
"O, iya Mbak kempos yang belakang. Jalan deh saya ikutin dari belakang." Kataku sambil melihat ban belakang yang peleng ban sudah rata dengan aspal.
"Ya Bu, makasih," ujarnya lantas melanjutkan perjalanan.
"Kerja dimana":;
Merasa kasihan juga, ban yang kempos membuat ban belakang geal-geol jalannya selaksa pantat bebek, terkadang mbaknya mau jatuh karena tak imbang jalannya. Perlahan kuikuti dari belakang dengan harapan kalau ada apa-apa aku bisa membantunya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer tampaklah bengkel yang diidamkan muncul, alhamdulillah. Mbaknya yang kuketahui bidan di puskesmas tersenyum senang ketika aku pamit meneruskan perjalanan.
"Ada uang untuk nembel?" Ujarku basa-basi.
"Ada Bu, makasih banyak ya Bu," senyum Pepsodent membuat plong dadaku.
Bdws090922

Komentar
Posting Komentar