42. Lahiran
Dengan tertatih-tatih ke hempaskan pelan bokongku di tepi tempat tidur, merasakan perut yang sebentar-sebentar menegang kaku. Mungkin efek menjelang lahiran. "Sakit ya Dek, nggak usah mendesis. Eleng, eleng. Bu bidan dalam perjalanan, tahan dulu yaa. " Mas Ravi mengelus perutku pelan, tapi malah membuatku tak nyaman, tapi kubiarkan agar menenangkannya. Omongannya kalau kujawab akan tambah lebay, pakai rayuan segala, nggak tahu suasana. "Wes ta Dek, jangan meringis gitu, sakit gigiku, " tak lupa mengelus rahang, tanganku mau menabok tapi kutahan. "Mas! Sakitt...." Pekikku tak tahan, bukannya tambah berkurang, perutku tambah melilit. "Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum! " Gedoran pintu terdengar bertubi, ya ampun, mules merambah perutku. Bergegas Mas Ravi bukakan pintu, seperti suara ibu. "Ya ampun Mimi, sakit ya Nak? Aduh cucu Ibu mau lahir. Aduh, aduh," ya ampun ibu, kenapa nggak diam. "Ini minum," membuka botol...