36.Harum Harum
Berjalan di keramaian menoleh kanan kiri, yang tampak gedung-gedung menjulang tinggi dengan pantulan cahaya tembus pandang. Keanggunan yang tercipta, tak ada keramahan untuk sekedar mempersilahkan manusia yang mau melaksanakan tugas alamnya. Seorang satpam perlente dengan tongkat terkokang, mempersilahkan menusia berdasi dengan badan ke depan. Sorot matanya menghujam ketika melihatku datang, menampilkan raut berantakan apalagi gaun yang kusut masai. "Ada apa, cari sapa!?" "Maaf Pak, saya kebelet. Bisa ngampung ke jeding?" " Ada toilet, tapi dalam gedung. Tak sembarang orang bisa memasuki," jawabnya ketus tak selaras dengan wajah tampannya. "Aduh Pak, saya kebelet nih. Gimana kalau keluar disini?" "Heh, menjijikkan! Noh sana, ada sungai. Sana kesana! Hus hus," usirnya tanpa perasaan. Terpaksa aku ngacir, tapi rasa sudah tak tertahan, ya ampun. Keluar deh. Dasar! satpam tampan! Mulut set** teriakku kencang "Ma, Ma! Bangun! Bangun! ...