35.PINTU AJAIB
Aku heran dengan pintu rumahku, yang bisa menutup dan membuka sendiri dengan bantuan tanganku atau siapapun yang keluar masuk rumah. Hehehe...
"Lewat pintu kecil Ma, jangan lewat garasi."
"Akukan mau keluarin sepeda Mas. Kemarin kunci garasi aku patahin, garasi tetap saja nggak kebuka."
"Lo, tinggal 1 dong kuncinya. Emang mau kemana?"
"Ke pasar."
"Ayo, aku ajarin buka pintu Ma."
"Nanti aja, tar pulang."
Pintu rumah ada 2. Pintu kecil terhubung dengan ruang tamu, sedang pintu besar bernama pintu garasi tempat beberapa sepeda nongkrong. Punyaku, suami dan dua punya cowok cewek masing-masing. Sepeda banyak bukan mau buka showroom, tapi lebih kepada kebutuhan dan kepraktisan.
Pintu mempunyai tugas masing-masing. Tugas pintu kecil tempat lewat orang terhubung langsung ke ruang tamu, sedang pintu garasi tempat lewat sepeda.
Ketika keluar sendiri-sendiri, menutup atau mengunci pintu tak jadi masalah, tinggal tutup saja, bereslah. Lantas kalau keluar bersama siapa tugas menutup pintu? Suamilah. Alasannya? Waktu mau keluar, rumah dibacain doa dulu, agar rumah bisa ditinggal dengan selamat. Takut rumahnya digondol maling kale. Hehehe.
Acara berkuncian begitu saja turun-temurun dari tahun ke tahun, hingga anak-anak sudah besar. Si sulung Reta kuliah semester 6, dan si bungsu Rendi SMA kelas 10.
Acara hari ini kita mau jalan ke rumah saudara, kulihat mas suami jagongan ma tetangga, jadi aku yang belakangan kabagian ngunci pintu. Pintu aku selot, lalu kunci. Lantas aku keluar lewat garasi yang tinggal menggeser kedua sisinya. Beres.
"Lo Ma, belum aku bacain doa," kata mas suami sambil mendekatiku.
"Habis kelamaan, takut telat acaranya. Baca diluar sa Mas," mas suami langsung saja komat-kamit depan pintu.
12 jam kemudian, tibalah kita pulang di depan pintu rumah, yang dalam keadaan gelap gulita. Semula mau sebentar, karena asik ngobrol, kebablasan sampai malam. Untunglah, tetangga kanan kiri, sorot lampunya mengenai halaman, jadi masih amanlah.
Kuobok-obok tas mencari kunci yang tadi aku merasa dimasukkan kedalam tas. Sudah hampir beberapa menit, bahkan sampai di sudut tas sudah aku jelajahi, yang namanya kunci tidak kutemui.
"Mama yang kunci tadi."
"Iya, Ayahkan masih jagongan tadi, langsung masuk mobil."
"Hilang kale."
"Apa waktu ngunci, nggak dicabut kuncinya Ma?"
"Makanya kalau kunci pintu didoain."
Waduh! Baru ingat, waktu ngunci, kunci nggak dicabut tetap di lubang pintu. Jalan satu-satunya, buka pintu belakang pakai kunci linggis, dengan bantuan Pak Wari mantan...
Bdws140423

Komentar
Posting Komentar