36.Harum Harum


Berjalan di keramaian menoleh kanan kiri, yang tampak gedung-gedung menjulang tinggi dengan pantulan cahaya tembus pandang. Keanggunan yang tercipta, tak ada keramahan untuk sekedar mempersilahkan manusia yang mau melaksanakan tugas alamnya.


Seorang satpam perlente dengan tongkat terkokang, mempersilahkan menusia berdasi dengan badan ke depan. Sorot matanya menghujam ketika melihatku datang, menampilkan raut berantakan apalagi gaun yang kusut masai.


"Ada apa, cari sapa!?"


"Maaf Pak, saya kebelet. Bisa ngampung ke jeding?"


" Ada toilet, tapi dalam gedung. Tak sembarang orang bisa memasuki," jawabnya ketus tak selaras dengan wajah tampannya.


"Aduh Pak, saya kebelet nih. Gimana kalau keluar disini?"


"Heh, menjijikkan! Noh sana, ada sungai. Sana kesana!  Hus hus," usirnya tanpa perasaan. Terpaksa aku ngacir, tapi rasa sudah tak tertahan, ya ampun. Keluar deh.


Dasar! satpam tampan! Mulut set** teriakku kencang 


"Ma, Ma! Bangun! Bangun! Sapa yang kamu panggil set**!"


"Hah! Apa Pah!. Enggak!" Pekikku lari ke belakang.


Hahh... Lega rasanya, setelah dilepaskan. Tapi, baru sejenak, perasaan nggak Kent** kok bau harum-harum. Harum apa ya, kenceng banget rasanya. Perlahan keluar, dan terdengarlah desisan, dari arah sumur belakang. Perlahan, rasanya semakin kuat, akhirnya ketauan biangnya.


Gas. Gas berbunyi. Bagaimana ini. Mau kudekati takut, kalau tak kudekati, bisa-bisa meletus. Itu yang kudengar di berita tv. Selama ini, terbiasa termanja beli gas langsung dipasangkan, tengah malam gini, minta tolong ma siapa? Tetangga, emang mau dibangunkan?


"Papah! Papah! Gasnya bunyi!" Pekikku tertahan, takut membangunkan tetangga yang bersebelahan.


"Iya Ma, tadi itu Papa mau membangunkan Mama, mau bilang gas itu." Ternyata papa sudah ada di belakang, membuatku terjingkat, untung nggak jantungan.


" Huh, Papa! Ngagetin aja! Suara dong!" Sahutku kesal.


"Ini dah suara," kubuang nafas.


"Ayo Pah, buka gasnya!" Perintahku lantas menutup mulut, sadar suara satu oktaf meninggi.


"Mana bisa Papa buka gas, itukan tugas Mama."


Jawaban papa membuatku tersadar, betapa pentingnya menguasai bidang yang menjadi tugas kita, jangan asal nyuruh saja. Sekarang, begini akibatnya.


Dengan tergesa aku mencari nomer Bang Maman, penjual gas langganan. Kutoleh jam di dinding, jam 12 malam, semoga tak marah aku telpon. Beberapa hari lalu baru saja menggelar perhelatan di rumahnya.


Bismillahirrahmanirrahim.


Tuttt... Tutt... Tutt...

Hp belelku berbunyi menyaingi bunyi loko tebu yang lewat di belakang rumah. Tak ada sautan, sabar. Coba lagi, apa Bang Maman masih dalam pertempuran? Hah, biarkan saja, sapa suruh jadi penjual gas. Berharap dia cepat datang, mengatasi bunyi gas, yang kian membuatku diliputi kekhawatiran.


Rumah bisa terbakar kalau ada kebocoran gas, apa jadinya rumahku bila itu terjadi. Meskipun barang-barang tak seberapa berharga, tapi itu di dapat dari hasil banting tulang siang malam.


Papa berseliweran di sekitarku, mengambil sebatang rokok di sudut meja, yang langsung aku tepis. Apa nggak tahu, api bisa membuat pemantik ketika ada kebocoran. Tak marah, memandangku seolah minta maaf, lantas memasukkan kembali batang rokok yang bersalto di bawah meja.


"Assalamualaikum Bu," akhirnya.


"Waalaikum salam. Bang Maman maaf mengganggu, bisa ke rumah sebentar."


" Ya Ibu, ini tengah malam. Ini saya lagi kelonan, tega benar Ibu. Emang ada perlu apa Bu, apa nggak bisa ditunda besok saja," jawabnya lirih membuatku tak dapat menahan tawa.


"Ini gasnya bocor dengan suara mendesis, saya takut Bang, nggak tahu mau diapakan."


"O, buka aja Bu regulatornya. Mari saya pandu caranya."


Lulusan sarjana tahunya buat skripsi kalau pergassan manalah tau. Mengalah terima perintah lulusan SMA, tak masalah, daripada daripada. Iyakan, batinku menghibur diri.

 

"Sudah Bang. Bau."


"Saya nggak bau Bu, barusan saya mandi," cicitnya sambil menahan nafas.


"Sapa yang bilang Abang bau. Ini gasnya yang bau. Ini saya sudah di depan gas!" Jawabku meradang, mana gasnya buat sesak.


Dengan panduan lulusan SMA, aku bisa membuka load spring yang baru aku tahu namanya, letaknya nempel di regulator. Regulator terbuka, bunyi desisan menghilang lega. Alhamdulillah.


"Sudah Ma," tetiba papa muncul dengan santai, tak tahu perjuanganku, berjibaku dengan gas. Tanpa kujawab aku melenggang ke kamar, mau melanjutkan mimpi ketemu satpam tampan, yang tadi sempat berpapasan. Akan kubilang, jangan ketus jadi satpam, aku nggak akan naksir duluan. 


#jwgregetdanbernyawa

#belajaridiom

#jeniuswritingindonesia 

#menulisitusedekah


Bdws190423

Komentar