19. Luppah Dien Soebari


Seperti biasa, Senin pagi kusambut dengan senyum ceria memulai aktifitas di mulai pagi buta. Emak merangkap pekerja yang harus selalu siap dalam segala aktifitas.

Jam 6 pagi makanan sudah siap di meja, semua masih panas. Ada sayur bayam, tahu goreng ikan cakalan, tak lupa sambal dan krupuk pelengkapnya.

Jam 6.30 siap otw kantor, baju keki sedah melekat pas di badan, ditambah kerudung dengan bahan senada.

"Berangkat ya Yah?"

"Iya, ati-ati. Jangan ngebut Buk," cium tangan.

Dengan restu di tangan aku melenggang pergi, mengendarai sepeda kumbang dengan santai. TK berapa lama mendekati SD, banyak anak berjalan ke sekolah, tapi anehnya mereka memakai baju Koko dan baju muslim untuk perempuan.

Astagfirullah hal azim baru teringat, seminggu menjelang hari santri ada pemberitahuan dari dinas, bahwa semua ASN diharuskan memakai baju muslim. Kupikir tadi anak SD kenapa kok dah pulang pagi, eh ternyata....

Untunglah, baru sekitar setengah kilometer aku jalan, cepat kuputar haluan sepeda. Agak kugeber suara, menandakan dalam mode kesusu.

"Loh, kok balik Buk," tanya bojoku heran.

"Sekarang, satu Minggu pakai muslimah Ayah, memperingati hari santri."

"Oalah Buk, nggak kira dimarahi."

"Iya nggak juga, tapikan nggak nyaman kalau baju nggak sama dengan teman," ujarku nginbrit ke belakang.


Bdws171023

Komentar