16. Ucapan Doa Dien Soebari



"Ibuk! Lihat ada kupu-kupu," telunjuk Resi anakku balita.

"O iya, kupu-kupunya bagus ya Kak," ujarku senang.

 Tak hentinya Resi tawanya berderai sambil loncat-loncat hendak menangkapnya. Tapi tubuh kecilnya tak dapat menangkap, karena sudah hinggap di gorden ruang tamu. Aku menutup pintu mencegah kupu-kupu keluar ruangan.

"Tangkap Buk, tangkap."

"Eh, jangan dong Kak. Kita lihat saja ya, kalau ditangkap, tar kupunya mati. Kasian kan...." ucapanku dibarengi anggukan Resi.

Kita berdua hanya memandangnya dengan kagum, warnya coklat tua bercorak mata putih ditiap kelopak. Di antara putih ada beberapa bayangan warna, sungguh indah dipandang mata.

Tetiba Mas Ari suamiku nongol dari belakang, memandang heran pada kita berdua yang lagi asik fokus memandang indahnya ciptaan-Nya.

"Kupu-kupu to."

"Ayah, cantikkan."

"Iya cantik. Kupu-kupu datang artinya mau ada tamu datang," gumamnya.

"Iya benar, apalagi kalau sambil antar berkat lantas pulang," jawabku dengan tawa berderai, diikuti Mas Ari.

Baru saja menghentikan tawa, terdengar bunyi sepeda motor berhenti di halaman diikuti bunyi ketokan di balik pintu.

"Assalamualaikum," ternyata Pak Yayan teman mengajar berdiri di balik pintu dengan dus berkat di tangan.

"Waalaikum salam, masuk Pak Yayan," 

"Nggak usah Bu, ini berkat turun tanah Dedek. Nggak mampir, soalnya masih ada beberapa berkat yang akan diantar."

Senyum mengembang diikuti berkat kuangkat tinggi, pamer pada mas Ari, yang melongo senang. Ucapan adalah doa.


Bdws111022

Komentar