13. Stater
Menatap kesal pada antrian di SPBU yang panjang mengular, bagai ular tangga meliuk tak beraturan. Walaupun antri beberapa menit tidak akan membuatku telat ngantor, tapi melihat antrian membuatku kesal.
Seolah bertolak belakang dengan hati, tanganku tanpa sadar mengarahkan stang ke antrian, paling belakang. Ada sekitar 20 sepeda motor jalur kiri kanan, full penuh. Melirik sekilas di sebelah seolah bertolak belakang dengan Pertamax yang jual mahal.
Sebenarnya lebih cepat beli Pertamax karena kosong pembeli, tapi mau bagaimana lagi sepeda kumbangku nggak mau kuberi minum Pertamax. Alasannya sih mahal. Hiii...
Mataku cuci mata ke sekitar, melihat kanan kiri, bukan melihat orang tapi pemandangan di sekitar SPBU yang mempesona mata. Pantas saja SPBU ini banyak yang beli disini karena pemandangan yang menyejukkan serta, petugasnya yang ramah.
Karena hanya SPBU ini saja yang paling dekat dengan rumah, juga tidak terlalu besar, jadi antrian yang sedikit menjadi pilihan termudah.
Di sebelah kiri ada bangunan terbuka tempat mengisi oli, berjejer bangunan berkaca yang berisi gas elpiji. Ada fasilitas toilet, musolla, dan ATM bersama.
Sambil menggeser maju sedikit demi sedikit, akhirnya antrianku tiba di gilirannya juga. Ada 2 petugas yang melayani, bagian mengisi bensin dan bagian terma uang. Terbayar sudah rasa kesal yang sempat singgah di hati, giliranku tiba.
"Barapa Bu?"
"20 ribu Mas," sambil menyodorkan uang, kupanggil mas karena masih muda.
Tidak penuh sih, tapi cukup untuk kebutuhan 2 hari. Kudorong sepeda, memberi kesempatan sepeda di belakangku mendekati moncong bensin.
Baru teringat sepeda kumbangku kemarin kehujanan, dan harus pakai manual untuk menstater. Bagaimana ini?
Dengan agak malu aku mendekati mas kasir.
"Mas bisa minta tolong?"
"Ya Bu?"
"Tolong staterkan sepeda Ibu."
"O, bisa. Saya kira mau menstater hati Ibu."
Waduh, mau tak mau gigi putihku menyembul dari balik bibirku, diikuti masnya. Kwkwkw
Bdws041022

Keren
BalasHapusMenulis, menulis dan menulis
BalasHapus