20. Kejepit Dien Soebari
Perjalanan kali ini agak ribet, sepeda kopling pakai rok panjang, seperti ada yang berkibar-kibar di perjalanan. Sebagai ASN yang baik, kewajiban bagi kita untuk mentaati setiap keputusan yang sudah ditetapkan.
Jadi santai saja, dengan badan naik turun mengikuti irama nyanyian jalan, dikipasi lambaian dedaunan, tak terasa sudah sampai di kantor kelurahan. Tempat kerjaku selama hampir 3 tahun, sedikit jauh, tak apalah tarlagikan mau pensiun.
Merasa ada yang menarik rokku, aku hentikan sepeda. Ternyata ujung rok sudah masuk ke jerusi besi, untung aku nggak jatuh, kutarik pelan akhirnya berhasil. Walau agak berlepotan oli, untunglah roknya nggak robek, mungkin karena sepeda tua cengkraman ruji tidak begitu kuat.
Temanku pada heboh melihat stempel rokku di ujung kaki.
"Untung Bu, pesan nggak jatuh." Ujar Mimi.
"Iya alhamdulillah, begitu ketarik aku langsung ngerem."
"Bu, kemarin sore ada ibu-ibu yang jatuh di depan rumah, yaitu gara-gara roknya masuk ruji."
"Nggak papa orangnya?" Tanyaku.
"Ya nggak papa sih, hanya malunya itu. Habis roknya ketarik, tinggal legingnya," ujar Sisi tertawa, ada musibah malah ketawa.
Agak sial juga ketika pulang kantor, bojoku melihat stempel di rok, padahal maunya nggak akan bilang, biar nggak rame.
"Kenapa tu Buk."
"Masuk jeruji Yah.'
"Ibuk! Bajuku, aaa...." Risa datang, membolak-balik rok yang kupakai.
"Jangan lebay, tar Ibuk cuci," ujarku, kita berdua memang sering tukeran baju, tergesa aku pergi ke belakang lagi kebelet. Samar kudengar Risa ngoceh.
"Ayah Ganti! Bajuku dirusakin Ibuk!"
"Yang rusakin sopo?" Hemm...
Bdws181022

Komentar
Posting Komentar