37.SI TAKI SONGONG

                                                

POV 3


Ketika baru menikah, aku langsung ikut suami di perumahan mertua indah. Kaget juga, ketika disambut dua ekor kucing di pintu masuk, berwarna putih totol-totol hitam dan abu-abu. Mata keduanya yang tajam cantik mempesona, menggerakkan tanganku untuk membelainya.


"Mbak suka kucing? Taki yang warna hitam putih. Doi yang abu-abu." 


" Suka juga," membelai bulu sehalus sutra.


"Asyik."


"Huh, gitu aja senang!" Mas Viko menoyor VIvi.


"Biarin! Mbak jangan ikutan Mas Viko, dia jahat ma kucing."


Mata bulat bibir mengerucut membuatku gemas, aha! Selain dua kucing lucu, ada adik lucu juga. Kubayangkan hari-hari indah yang akan kulalui, benar kata Mas Viko, aku tak akan sedih lagi kalau tinggal disini.


"Lololo, anggota baru kok disambut begini sih!" 


Grecep.


Mama Santi Papa Heru tersenyum lebar, melewati mereka berdua, menyambut uluran tanganku bergantian. Meremang mataku ketika pelukan bergantian kurasakan, semoga awal bahagiaku setelah sekian lama tak mendapatkan kasih sayang orang tua yang pilih kasih.


Benar saja Vivi si bulat lucu, Doi si kucing abu-abu yang sukanya meloncat-loncat kesana sini, dan Taki yang sukanya makan dan tidur saja.  Kebahagiaan yang lengkap, tak muluk-muluk.


Krek krek krek. 


"Mas dadaku kok berbunyi ya, krek krek gitu. Rasanya gatal tapi ada di dalam dada, jadi nggak bisa digaruk."


"Kamu ada alergi makanankah? Atau apa gitu?"


"Nggak kok Mas. Oh iya Mas, krek kreknya tambah banter kalau lagi gendong si Taki atau si Doi," ucapan yang memicu Mas Viko mencari biangnya.


"Mas mau ngapain?" Jeritku ngeri membayangkan yang tidak-tidak.


"Mau kukandangin!" Waduh.


Benar saja begitu pulang sekolah Vivi teriak-teriak karena tidak melihat kucing dalam penyambutan kepulangan dari sekolah. Teriakannya berakhir menjadi isakan setelah melihat keduanya duduk manis dalam kandang.


"Sapa yang jahat padamu sayang, yayangku, Doi Taki," isaka nya terdengar pilu, seperti ibu kehilangan bayi, cih segitunya.


"Mas Viko jahat! Jahat," memukul dada bidang Mas Viko, nampak jengkel, capek pulang kerja.


"Mbak Lili alergi kucing Vi, makanya Mas kandangin."


"Loh, Mbak Lili kenapa?"


"Dadanya bunyi krek krek, rasanya gatal, kalau dekat-dekat kucing," Vivi membulatkan matanya, memandangku meminta penjelasan.


"Betulkah Mbak? Iya deh, maaf Mbak Vivi, gara-gara kucingku Mbak Vivi jadi sakit." Lirihnya sedih.


"Nggak kok, nggak papa, asal nggak dekat-dekat saja," ucapanku membuyarkan ketegangan sore ini.


Karena nggak enak dadaku, begitu Dio atau Taki mendekat, kaki langsung mendepak. Kalau duduk di pangkuan, langsung berdiri dengan tangan menyentil telinga. Sikapku yang agak memusuhi, mengakibatkan Taki takut mendekatiku, menatapku sambil duduk manis di pojokan pintu.


Kalau datang usilku, kuketuk kepalanya dengan ujung jari, kepala Taki mengangguk-angguk tanpa reaksi. Karena diam saja, kuulang terus ketokan jariku. Pokoknya setiap ada kesempatan, pasti tangan usilku menjahilinya. Apapun benda yang ada di dekatku, kujadikan alat untuk menjahilinya. 


Ketika Vivi mengetahui keusilanku, bibirnya mengerucut tak senang.


"Emmbaaakkk."


"Hiii... Maaf, habis Taki lucu, diketok gitu nggak lari."


"Tar kuwalat Mbak, baru tahu rasa."


"Maaf deh," ujarku nyengir lantas berlalu.


Malam harinya, aku bermimpi di datangi Taki yang berkata sambil memandang lekat lurus ke bola mataku. Tampak wajahnya gusar tak senang, bibirnya mendecih saat berkata.

Dalam mimpiku Taki berkata 'mentang-mentang manusia, mentang-mentang cantik suka memukul binatang, dasar tak berkebinatangan'


Malam berikutnya, mimpi itu datang lagi, dengan perkataan yang sama. 


Malam ketiga mimpi itu datang lagi, dengan perkataan yang sama. 


Dengar berdebar di dada, aku mengadu ke Mas Viko, saat sarapan bersama. Taki dan Doi yang makan di ujung tembok, serempak menoleh, mendengar aduanku.


"Mas, aku mimpi didatang Taki. Taki bilang, aku sok cantik mentang-mentang jadi manusia, tidak berkebinatangan."


"Hah! Yang bener?"


"Mbak Lili jahat ma Taki Mas! Ketularan Mas Viko. Suka pukul kepala Taki, suka  menyentil, suka menendang juga," Vivi tetiba menyerobot keluhanku.


"Heh, Mas cuma jahat kalau Taki ma Doi nakal. Eh benar kamu benar lakuin itu Li?" Tanya Mas Viko membolakan mata, huh, menjengkelkan. Bukannya membela.


"Pura-pura Lili Mas," elakku.


"Kamu didatangi dalam mimpi, berarti kamu benar lakuin itu. Ayo minta maaf ma Taki," ujar Mas Viko sambil menoyor kepalaku pelan. Tapi, apa benar aku harus minta maaf ma Taki? Minta maaf ma kucing?


"Iya Mbak, minta maaf ma Taki. Kena karma kamu Mbak," ejek Vivi sambil mendecih senang. Ayah dan Ibu hanya memandang senyum-senyum melihat perdebatan di meja makan.


Mau tak mau, dengan disaksikan seluruh anggota keluarga, aku meminta maaf kepada Taki, si kucing yang songong. Aich kemana harga diriku, kalau begini.


"Taki, maafkan aku ya. Aku berjanji tak akan menyakiti kamu lagi. Tidak akan menendang, memukul, apalagi ketok-ketok kepala kamu," tak lupa tangan Taki kujabat erat, dengan ucapan sepenuh hati.


Akhirnya, malam harinya mimpi itu tak datang lagi, legaa rasanya. Alhamdulillah.


Komentar