43. Wedus Gembel
Tok tok tok
"Assalamualaikum...." Suara siapa? Kayak yang kenal.
Tok tok tok
"Assalamualaikum...."
Dok dok dok
"Assalamualaikum... Wen... Wen... Ini Mama. Kamu di dalam?"
Hah! Mati aku, benar suara Mama. Kemarin sore baru telponan, kok sekarang sudah nongol di kossan. Berjingkat cepat Wenny lari ke kamar mandi, cuci muka cuci mulut, lalu sisir rambut dengan jari. Beres.
"Waalaikum salam," tangan kiri menutup mulut, tangan kanan membuka kunci kamar.
Seraut wajah yang dirindukan suaranya, tapi tidak kedatangannya. Merasa aneh, kemarin sudah berjam-jam bicara di telpon. Itrogasi segala macam, lah sekarang kok nongol di kossan. Alamat!
"Mama...."
"Ya ampun Weny, ini sudah jam berapa, kamu baru bangun tidur dan belum mandi?"
Seru Mama Kiki, membelalakkan mata dan mengendus-endus hidungnya. Wedus gembel belum hilang ternyata. Makasiswi jam 9 pagi, masih belekan, dengan rambut awut-awutan. Huh, apa kata dunia?
Beberapa kepala menyembul dari balik pintu, mendengar suara mama Kiki yang melengking nyaring, laksana peluit kereta tanda lewat. Dengan sigap meraih tangan mama, menariknya, supaya cepat masuk dalam kamar kos. Merah padam muka Wreny, malu-maluin aku nih mama, batin Weny.
Tempat Weny kos desainnya berjejer kamar dengan pintu yang saling berhadapan, ada 10 kamar dan tiap kamar didiami oleh satu orang. Disediakan dapur dan kamar mandi yang cukup, ruang tv juga ruang tamu. Rumah keluarga Pak Bambang sang pemilik kos ada di sebelah, rumah kos putri.
Mama memindai kamar Weny yang rapi, tampak jejeran buku memenuhi lemari kecil sekaligus meja belajar, ada lemari baju di sebelahnya. Penampilan kamar yang rapi, meredam sedikit tanduk di kepala mama yang mulai meruncing, berbanding terbalik dengan penampilan Weny.
"Duduk Mama syantik, Weny bisa jelasin."
"Jelasin apa, penampilanmu sudah menjelaskan semuanya. Dasar wedus gembel!" seraya melengos, tak sengaja lihat kripik pisang kesukaan di meja, Weny meraihnya, dan meletakkan di atas tempat tidur tempat mama duduk.
"Mama! Jangan panggil aku wedus gembel lagi. Akukan sudah besar Ma, sudah kuliah, masih aja dipanggil wedus gembel. Denger ya Ma, Weny tu baru tidur jam 3 pagi, semalam. Mengerjakan skripsi, sampai ke akar-akarnya. Plisss ... Jangan marahi Weny yah Ma. Weny tak meninggalkan kewajiban, segala macam persholatan, pokoknya komplit deh. Suer," tak lupa jari dua tangan mendukung pernyataan, mama tersenyum. Alhamdulillah, batin mama dalam hati.
"Kamu, Mama bilang sekecap, jawabnya seratus kecap. Iya, Mama percaya. Tapi sayang, wedus gembelmu mbkyao dihilangkan. Itu yang bikin Mama kilaf dan sedih," keluh mama dengan alis tertaut tak mau kalah, pelan mengunyah kripik, enaknya.
"Ich Mama! Yang bener ajah, wedus gembel itu dulu waktu Weny sek kecil. Nggak mandi, bau dan belekan. Tapi lihat, sekarang Weny sudah besar, putih cantik dan menawan. Ayolah Ma, janganlah Weny dipanggil itu lagi. Malu kalau teman-teman kossan tahu," sungutnya mengerucutkan bibir.
"Iya, iya, Sana cepet mandi biar wedus gembelnya ilang. Mama tunggu."
"Iyah Ma, siap," jawab Weny berdiri hormat, menyambar handuk lantas keluar mau ruang permandian.
Mama Kiki senyum simpul senang, kejutan kedua sudah dipersiapkan, menunggu sang wedus gembel alias si bungsu kesayangan selesai mandi. Sempat cemas, tapi setelah mendengar penjelasan, hati Mama Kiki jadi tak bimbang. Anakku sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Bukan tak ada maksud mama mendadak datang, itu dilakukan untuk kejutan ulang tahun Weny yang ke 23. Semua saudara sudah menunggu di seberang jalan, siap dengan perlengkapan perang.

Komentar
Posting Komentar