43. Iiii...
"Buk, nggak libur taa?" Tati anakku, menata menu sarapan.
"Nggak, mana ada libur kalau di kantor. Paling nanti, akhir tahun baru libur," sambil mengambil oseng kangkung, tempe, dadar telur.
"Rara udah bangun?" Tanyaku sambil menggigit tempe, lauk andalan.
" Udah dari tadi Buk, tuh lagi main di kasur, tarlagi kumandiin. Ibuk nggak beli ikan hiunya?"
"Ada di kulkas."
"Buk, Mbak Tati, mana ada ikan hiu. Adanya ikan pindang," seru Bik Sari, meledak tawa kita bertiga.
Ulah cucuku Rara, memberi nama setiap ikan laut, ikan hiu. Kita orang tua, bukannya membenarkan, malah ikut-ikutan salah. Biar saja wong nggak dosa, toh nanti kalau sudah besar, akan tahu sendiri. Menjelaskan dengan gambar, ikan hiu itu besar, bukan sejari telunjuk, tapi tetap saja.
"Mas berangkat," pamit sambil cium tangan, tak lupa dapat kis di dahi, lagi kumat lebaynya.
"Hati-hati, jangan ngebut," sambil melambai tangan, aku gas sepeda dengan lambat.
Jam 7 pagi, tumben tidak ada kemacetan di sepanjang jalan yang aku lalui, hanya satu dua sepeda motor dan mobil. Kupacu kencang, dengan mulut komat kamit baca doa, agar selamat sampai di tujuan.
Tak terasa, 30 menit berlalu aku mengendarai sepeda motor, sampai di tempat tujuan. Kantor masih sepi, hanya aku yang datang. Cepat kuambil kunci kantor yang menyatu dengan kontak sepeda, klik klik. Terbukalah pintu coklat yang terapit korden berwarna pastel.
Kubuka beberapa jendela dan mengibas korden ke kanan ke kiri, agar ada pergantian udara. Menghilangkan capek, duduk sebentar sambil membuka hp, mungkin ada informasi penting.
Aplikasi wa kubuka, banyak sekali titik hijau di tiap grup, kubuka satu-satu yang nggak penting aku delete. Di grup kantor, ada file yang dikirim pak kepala, tentang pemberiantahuan libur Natal dari tahun baru.
Hah! Libur Natal? Tahun baru? Emang sekarang tanggal berapa? Kugesek telunjuk ke bawah pada permukaan hp. Hah lagi! Ya ampun, sekarang tanggal 25. Kutepuk dahiku pelan, aduh, sakit.
Cepat-cepat kuraih jaket dan kupakai kilat, lanjut mengunci pintu. Begitu menstater motor, baru ingat kalau jendela di ruangan belum kututup, terpaksa sepeda dimatikan.
Mukaku rasanya memerah, mana masker! Mana masker? Ini dia, nyempil di saku jaket. Ya ampun, tutup muka, tutup muka. Stater cepat, langsung ngejos ngebut.
Hiii... Nggak ada orang, intipku di pintu rumah yang terbuka, nyelonong saja. Melesat masuk kamar, ganti baju, naik tempat tidur. Menutup muka dengan bantal, aku bergumam sendiri, aduhh, iiii...
Bdws25Des23

Komentar
Posting Komentar