40. Debar Debar





 Kucoba mengambil nafas panjang berulang, mencoba bersikap tenang, debaran dada terus saja menggema. Terdengar pintu kamar berderit, Mas Aak menyembuhkan kepala, aku beri senyuman sambil menggulung mukena dan meletakkan di atas tempat tidur. 


Tampak heran di wajahnya melihatku yang mandi sebelum Asyar, kebiasaan selalu Asyar dulu mandi setelah mau Maghrib. Tapi sebelum membuka mulut aku sudah membungkamnya. 


"Aku mu ke arisan Mas, arisan jam 4, sekarang jam 3," sambil melipat sajadah menumpuknya di atas mukena. 


"O. Sekarang tanggal 4, Hari Minggu," tangannya tampak seperti menghitung, mulut komat kamit, aneh. "Pakai baju kuning Ma." tambahnya. 


"Ich! Kenapa emang? " heran. 


"Kalau mau ngena arisan, turuti deh," ujar Mas Aak ngeloyor pergi. 


Ich sejak kapan jadi dukun, ada aja. Tapi emang sih Mas Aak ada keturunan orang pinter, nggak pinter-pinter juga. Dulu, ibu Mas Aak selalu jadi andalan ketika ada barangku yang hilang. Barang apa saja, bila lupa pasti ibu mertua bisa menemukan. 


Yang paling aku perfek banget, ketika suatu hari kehilangan anting di kamar mandi. Beratnya hanya seupil, tapi karena emas, berhargalah. 


"Dimana hilangnya Umi? " tanya ibu mertua ketika aku mengadu, berdebar dadaku apa anting bisa ketemu. 


"Di kamar mandi Bu."


"Ibu selesaikan ini dulu," sambil meneruskan makan. 


Dengan berdebar aku menanti ibu mertua menyelesaikan makannya, maklum sudah tua, aku duduk sabar menunggu. 


Debar dada semakin tinggi nggak mau berhenti, teringat dulu aku juga berdebar seperti ini ketika ketemu pertama kali dengan Mas Aak. Aku langsung deg deg ser, begitu mendekap tangannya tanda perkenalan. 


Saat itu ada program pertukaran mahasiswa di kampus, program pertukaran mahasiswa yang berprestasi dalam akademik atau non akademik. Non akademik maksudnya... 


"Hilang dimana?"


It's Ibuk ngagetin aja karena lamunan yang terpotong. Rupanya sudah selesai makan, bahkan piringnya sudah duduk manis di atas rak piring. 


"Kamar mandi Ibu.... " perasaan dah bilang tadi. 


"Ayo Ibu cari," sambil menarik tanganku. 


Ibu komat kamit dalam kamar mandi, tak lama kemudian berjongkok lalu berdiri mperlihatkan benda kecil yang membuatku terpekik senang, melenyapkan debaran yang langsung hilang. 


Kurapikan kerudung dengan menariknya ke pundak kiri, menyematnya dengan jarum pentul. Ragu dengan ucapan Mas Aak, masak mau salin baju, nggak lucu ach. Males juga, inikan baju dah cantik. Kalau memang waktunya ngenak, ya ngenak. Rejeki mah, takkan lari kemana. 


Masak gara-gara baju putih, lalu lotnya keluar keluar gitu, yang benar aja. Kalau ibu almarhum ibu mertua yang ngomong, mungkin aku akan percaya. Laini Mas Aak, yang nggak pernah kulihat aksinya. 


Kupacu sepeda dengan pelan, sore jam sedikit macet, waktunya pulang kantoran. Senyum mengembang membayangkan kalau ngena arisan, mau dikemanakan tuh uang, aku jadi beruang, hhh. 


Tampak orang-orang sudah banyak yang datang. Mbak Santi ketua arisan sudah duduk manis di meja depan toko klontongnya dengan baju warna keemasan. Hah! Kuning keemasan. 


Banyak arisan yang diketuai Mbak Santi, mulai dari arisan harian, mingguan dan bulanan. Arisan yang kuikuti sekarang, arisan bulanan, dapatnya lumayan bisa beli sepeda terbang. Bohong, maksudku sepeda motor. 


Dengan dibantu Rere anaknya, memanggil orang satu-satu mengambil angka lotrean, tak lama aku dalam giliran. Sesudah semua mengambil nomor, tinggal mengocok angka dalam botol, keluar nomor berapakah? 


Dengan bersemangat ibu-ibu, eh ada bapaknya juga, fokus pada Rere yang pegang botol berisi nomor. Akhirnya keluarlah nomor itu, dan... 


"Nomor 7," Rere dengan lantangnya, belum juga kulihat dalam genggaman, tetiba... 


"Kena aku! " hah! Mbak Santi! Yaaa...



Komentar