BAB 8 Playboy Dekil 4


Dokumen Pribadi


"Seruni?"


"Ya Tante, ada apa?"

"Tante bingung."

"Tante nggak usah bingung, pokoknya fokus Tante ke Abang, masalah i' o' i' o' serahkan ma Seruni . Ok!"

"I' o' i' o'? Hah! Aih!"

Kening Sinta bertautan tanda mikir sedalam lautan eh sedalam kerutan mulut tak bisa bicara apa, senang bercampur senep nggak kebayang akan menghadapi masalah seruwet ini. Seumur-umur ada masalah sekecil apapun selalu berunding dengan ortu, la kalau masalah ini, gimana dong? 

Tadi siang masih pede bicara dengan gimbal, sok kuasa lempar uang, mata memandang karena tertawan. Sekarang rasanya berbeda, si gembel gimbal orang muda kaya, bukan orang sembarangan.

Sinta menghembuskan nafas kasar, mencoba menghilangkan rasa terbang di awan yang mulai siang tiba-tiba bersemayam tanpa di undang. Apa yang akan dikatakan pada ayah dan bunda?

Bagaimana menghadapi masalah rasa ini? Merasa aneh, kalau seorang wanita diberi tugas mengejar cowok, karena selama usianya Sinta tidak pernah pacaran dengan cowok, kecuali bergaul masalah pekerjaan.

Tapikan aku nggak mengejar, aku hanya harus bersikap yang menarik perhatian. Hits, Sinta mulai membenci diri sendiri bila hal itu dilakukan, memangnya aku cewek murahan, yang harus bersikap manis agar cowok tertarik.

"Tante."

"Tante."

"Tante!"

"Ya!"

"Ya ampun Tante, tiga kali loh Seruni panggil! Ngelamunin Abang ya." 

Melambaikan tangan depan mata, tersenyum manis memperlihatkan sumur di pipi. Lo kok sama, pikir Sinta heran.

"Maaf, Tante mundur deh, kagak sanggup!" Terbata, mengangkat dua tangan di samping telinga.

"Mundur, tapi wajah Tante nggak mendukung! Tante suka kannn. Sudah Tan, Seruni mau telpon Papa!"

Sinta menaikkan hidung menyipitkan mata malas, sikap sok manja dan main perintah serasa merendahkan harga dirinya.  Meskipun aku pekerja dan kau majikan jangan begitulah, aku lebih tua darimu. Untung kau anak embos, kalau tidak sudah kujitak kepala kau, batin Sinta.

"Papa, ini Seruni."

"Assalamualaikum dulu sayang...."

"Eh iya, waalaikum salam. Papa! aku sudah punya calon buat Abang Gimbal."

"Waduh, benarkah? Oh ya, siapa?"

"Tante Seruni!" 

Sejenak Kelana tertegun mendengar jawaban putrinya, Seruni? Staf umum tukang disuruh-suruh? Ah yang benar? Apa yang menarik darinya? Kelana mencoba tenang tak mencoba menentang kehendak putrinya, karena soal pergaulan anak muda, merasa sebagai papa sudah ketinggalan zaman.

"Alasannya?"

"Abang ketemu Tante sudah 2 kali. Pertama mau malak, kedua mau congkel mobil Tante, Lantas  Tante kasih Abang uang 10 juta buat modal biar nggak jadi gelandangan."

Jawaban lugas dan cepat membuat Kelana tersenyum lebar. Pintar juga nih anak, anak siapa? Anaknya embos. Tapi Kelana masih mau mengorek informasi lebih banyak tentang Sinta, kenapa Seruni dengan sangat pasti menjadi tameng.

"Ketiga?"

"Tante Seruni, wajahnya bersemu merah ketika menyebut Bang Gimbal, artinya sedang jatuh Cinta. Dan... Abang Gimbal cerita padaku tentang pertemuannya dengan Tante Seruni. Bahkan dia tahu banyak tentang Tante Seruni. Bagaimana Pa?"

"Boleh!"

"Asyik. Yes!"


BDWS030722

Komentar

Posting Komentar