01.DEBAR DEBAR


 

"kenapa Buk?"

Kalimat tanya dari anakku ketika terduduk di kursi tamu sambil terpaku bengong. Tak bisa langsung menjawab, karena aku masih berusaha menenangkan debar jantungku yang berdetak sangat kencang.

Aku sendiri sangat heran dengan dadaku, tidak biasanya berdebar sangat cepat seperti ini. Biasanya aman-aman saja tidak ada masalah, walaupun aku beraktifitas banyak dan padat.

Sekarang usiaku sudah menginjak hampir kepala 5, dan aktifitas pekerjaan yang kujalani, sama seperti 30 tahun yang lalu ketika pertama kali bekerja. Lantas kenapa sekarang ada yang berbeda dengan detak dadaku?

Belakangan ini atau beberapa hari ini, ketika menjalankan suatu kegiatan, aku sering ngos-ngosan seperti dikejar hantu. Padahal kegiatan yang kujalani biasa saja.

Seperti saat ini, aku baru saja menstandar sepeda di garasi, lantas duduk di ruang tamu. Jarak antara garasi dan ruang tamu bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tirai bambu.

Tapi selama berjalan dan duduk nafasku berdetak sangat cepat, dan itu sangat tidak mengenakkan. Kalau dipakai bicara jadi terbata-bata.

"Ibu kenapa?" Teriak anakku Leri yang ternyata masih di sebelahku memperhatikan nafasku yang memburu. Setelah beberapa saat akhirnya, nafasku stabil dan  bisa menjawab keheranannya.

"Nggak kenapa-kenapa Ler."

"Tapi kok Ibu ngos-ngosan. Jatuh cinta kale!"

Langsung saja kutabok kepalanya dengan buku yang kuraih dari atas meja, tadi kupinjam dari perpustakaan sekolah. Dasar anak bengal, masak mengatakan kata-kata yang tidak sopan kepada orang tua.

"Ada apa Bu?"

Ternyata Mas Pramono suamiku muncul dari balik pintu, rupanya dia juga baru datang dari kantor. Karena asiknya Leri dan aku tidak menyadari kedatangannya. Padahal suara sepeda kumbangnya cukup keras, karena memakai knalpot yang dimodifikasi.

"Ini Ayah, Ibu lagi jatuh cinta!"

Nih anak minta ditabok lagi, tapi Leri menghindar dengan lari ke ruang tengah. Suamiku yang sudah mendampingiku hampir 25 tahun, lantas duduk di sebelahku, sambil tersenyum simpul.

"Jatuh cinta? Ma siapa Bu?"

"Ayah, jangan ambil ucapan Leri. Jantungku akhir-akhir ini sering berdebar, dan rasanya nggak nyaman di dada," ucapku merajuk.

"Iya percaya, sejak kapan? Kita ke dokter ya, mumpung gejalanya masih awal," jawab Mas Pramono menenangkan.

"Nggak ah, aku mau pikir-pikir dulu, kenapa akhir-akhir ini jantungku sering berdetak sangat cepat."

"Yowes, tapi jangan lama-lama mikirnya, tar parah baru ke dokter."

"Ya Ayah, yuk masuk," ajakku berlalu diikuti Mas Pram.

Mas Pram masih wiritan ketika selesai shalat Dhuhur berjamaah, aku duluan berlalu setelah mencium tangannya, tidak kuat menahan kantuk.

Begitu memeluk guling malah merem melek tidak bisa tertidur. Rasa deg-degan masih saja berulang, begitu aku membaringkan diri di tempat tidur.

Teringat beberapa hari terakhir aku banyak aktifitas, mulai dari workshop yang berurutan harinya, juga ada saudara yang meninggal. Walaupun tidak bantu-bantu secara penuh, tapi jenguk-jenguk sekedar setor muka.

Dengan menyangga kepala aku membuka gawai yang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dadaku, apa benar kata Leri kalau aku lagi jatuh cinta. Memangnya jatuh cinta pada siapa?

Akhirnya aku dapat jawaban juga dari geogle, kondisi jantung jantung sering berdebar-debar atau papitasi bukanlah suatu keadaan yang berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya.

 Kondisi ini tidak berbahaya asal tidak disertai keluhan lain misalnya :

* Tubuh lemas

*Linglung atau bingung

*Nyeri di lengan leher dan punggung

*Cemas berlebih

*Sulit tidur

Sepertinya tanda-tanda di atas hanya satu yang muncul dariku, akhirnya aku bisa bernafas lega. Alhamdulillah, aman.

Komentar

Posting Komentar