BAB 5. Playboy Dekil 1

Dokumen Pribadi


"Playboy? Seruni, Tante bingung, apa yang kamu maksud Gimbal itu, sama dengan yang Tante kenal?"

"Inikan, Tante?" 

Memperlihatkan foto di layar hp, yang membuat Sinta terbelalak sambil menutup mulut, ya ampun itu benar dia. Bagaimana ini, merasa takut cemas jadi satu, ternyata si gimbal ada hubungan dengan embos. Setelah bisa menguasai diri dia menjawab pelan.

"Iya, Tante ketemu Gimbal, beberapa saat lalu sebelum menjemputmu. Apa hubungan Seruni ma Gimbal?"

"Its Tante Sinta biasa kale. Nggak usah cemas. Tante, Abang Gimbal, Abangku sulung. Anaknya Papa Kelana, jelas!"

Sinta hanya bisa manggut-manggut diikuti tangannya yang mendadak kacep dan keringetan. Dadanya berdebar dahinya tumbuh air sebiji jagung, mending sebiji ini dah sepasukan. Seruni mendadak iba, tersenyum devil, ada yang jatuh cinta nih.

Di bayangan Sinta, degub beberapa jam lalu kini terasa ambyar terselimuti rasa yang menekan dada dan itu sakit sekali. Di usianya yang sudah menginjak 26 tahun, baru si gimbal yang sanggup memporandakan hati yang sama sekali belum tersentuh cinta.

Pernah sih Sinta merasakan cinta waktu di SMA, tapi itukan hanya cinta monyet yang tak pernah terucapkan dan hanya sebatas rasa suka, tak ada aksi yang menunjukkan atau balasan cinta.

"Sinta, ngapain lho lihat-lihat Si Jon mulai tadi, naksir ya?" ucapan Hani sahabatnya hanya dibalas dengan tabokan dan tak ada tindak lanjut yang berarti.

Atau, pernah juga naksir kakak senior yang kece habis karena penampilannya yang tegab karena jago karate, eh ujung-ujungnya ada yang punya. 

Sinta hanya bisa membayangkan yang namanya pacaran seperti teman-temannya, karena ortu mereka yang masih kolot melarang keras untuk pacaran.

"Sekalian kawin saja, nggak ada pacar-pacaran!" ujar ayah Maman tegas, setelah mendapati Sinta pulang belajar kelompok di antar salah satu teman cowok.

"Ayah sapa yang mau pacaran? sapa yang kebelet kawin? Dedi hanya teman yang mengantar pulang habis belajar kelompok!" Jawabnya berlari ke kamar diikuti tangisan berderai.

Itu kejadian pertama dan terakhir yang Sinta lakukan, setelah itu bagaimanapun malamnya atau jauhnya belajar atau ada keperluan tidak pernah lagi minta antar teman pria.

Dan sekarang, di usianya yang sudah menginjak 26 tahun, baru merasakan rasa kupu-kupu terbang, akhirnya harus gigit jari, karena yang disukai ternyata seorang playboy. 

Sinta menurunkan pundaknya perlahan, diikuti helaan nafas panjang, terasa hawa menjadi panas dan gerah. Padahal AC terpasang model kencang, tapi butiran jagung di dahinya masih saja keluar.

Seruni tersenyum simpul melihat perubahan raut wajah staf papanya, padahal tadi dia asal bicara. Tapi perubahan wajah Tante Sinta membuatnya berpikir keras, sebenarnya apa yang terjadi antara si gimbal dan Tante Sinta?

Sepertinya Tante Sinta orangnya polos banget, baru satu jurus kebohongan dikeluarkan sudah kelihatan jawaban, apalagi kalau jurus lainnya dikeluarkan. Bisa pingsan dia. Kepolosan Tante kayaknya cocok buat Abang Gimbal, yang orangnya susah diatur dan mau enaknya sendiri.

Tapi sejak kapan nih Tante Sinta kenal Abang Gimbal? Baru tadi siang? Ah yang bener. Kayaknya aku bisa jadi detektif papa nih, pikirnya, dan itu membuatnya tersenyum lebar membuat Sinta heran.

"Seruni kok senyum-senyum sendiri?"

"Ah masak sih? Perasaan Tante yang mulai tadi ngelamun sampai tuh muka keringetan," wuss tambah merah padam muka Sinta, membara, padahal Seruni hanya bicara spontan saja. Nah ada apaan tuh!


BDWS060622

Komentar