BAB 3 SERUNI


Perlahan meninggalkan parkiran dengan hati yang masih gamang, bergantian antara bayangan si gimbal atau teman kencan si bos yang menunggu di hotel. Hus, hus pergi kau, menghentakkan kepala kiri kanan. Untunglah mengendarai mobil sudah seperti mainan, masih aman, tapi...cittt...

"Hei bregsek keluar Lo," terdengar sebuah teriakan, mau tak mau minggir pelan.

"Ada apa Pak?"

Baru tertegun menyesal, seorang bapak sudah tergeletak di pinggir jalan, dengan kaki agak terpincang berdiri pelan. Kerumunan orang menyadarkan Sinta, mobilnya menyenggol orang. Semua tertegun diam yang keluar seorang cewek dengan sepatu kantoran.

"Tanggung jawab Neng."

"Jangan ngelamun Non, nyawa orang jadi taruhan."

"Ganti rugi saja, biar saya yang antar Bapak ni ke puskesmas."

Setelah ada kesepakatan, uang 1 juta melayang, tapi tak apalah, masalah sudah terpecahkan. Dengan dada berdebar kencang Sinta duduk di belakang setir, pikirannya masih melayang-layang di awan. Kalau terus begini, kerjaannya akan berantakan. Ya ampun, gimbal pergilah, gumamnya berulang.

Ya, Seruni. Sinta harus menjemput cewek bernama Seruni di hotel Baruna. Melirik pergelangan ada waktu baru pukul 12 siang, kalau jalan pelan, kalau banter bisa sampai hanya 15 menitan. Untunglah lalu lintas lancar, bisa tepat waktu sampai tujuan, lantas cari tempat pakiran.

Dengan sopan menyapa nona resepsionis cantik, yang terkaget karena sedang berbenah lipstik yang sudah cetar. Berdiri tegak, lantas menjawab sopan.

"O, Seruni baru saja sampai. Beliau ada di kamar... Mari saya antar," dengan senyum mengembang.

Mengikut pelan Sinta sempat berfikir, mau jemput saja ada fasilitas diantar, apa Seruni orang yang sangat istimewa bagi bosnya. Tapi lamunannya terhenti ketika masuk lift dengan beberapa orang berseragam hitam, wuih kerennya, decaknya bergumam.

Dengan heran Sinta ngikut jalan, heran kenapa di tingkat 5 ini hanya ada 2 pintu yang saling berhadapan. Ini hotel terbagus yang ada di kota Astra. Tak lama Riri sang resepsionis mengetuk salah satu pintu, muncullah seraut wajah bagai boneka, dan rambutnya?

"Ya, ada apa?" 

Sinta terbengong dengan mulut ternganga, wajah itu kenapa sama dengan wajah si gimbal, bagai pinang dibelah dua. Rambut itu, rambut itu kenapa bagai duplikat, apakah ada hubungan keduanya?

"Masuklah."

Setelah bisa mengatasi ketertegunannya, Sinta masuk ke dalam kamar yang baru pertama dilihatnya. Matanya memindai setiap sudut ruangan yang tertata apik dan wah. Springbet lemari kecil dengan bunga di atasnya, menandakan status sosial penyewanya.

Seruni seorang gadis muda mungkin usianya setara si gimbal, walaupun hatinya penuh tanya, ditahannya takut salah bicara.

"Bener kata Om Papa, Mbak Sinta cantik," ujarnya lantas melemparkan diri ke kasur, memantul-mantul seperti anak balita yang kegirangan.

"Om Papa, perempuan ya cantiklah. Ayok kita pergi," teringat pada tugasnya.

"Tante aku masih capek, baru saja meluruskan badan, nanti kalau ketemu Om Papa pasti sibuk deh," ujarnya dengan mimik lucu.

Terpaksa Sinta ikut rebahan di sebelahnya, saling berhadapan dan melempar senyuman. Gadis ini sepertinya lebih muda beberapa tahun  dari si gimbal, fitur wajah postur tubuh bahkan jemari mereka seperti dari cetakan yang sama.

Merasa ditelisik Seruni tak marah malah tertawa ngakak, membuat Sinta bagai kepergok maling ketangkap basah. Dengan suara renyah dan badan digoyang-goyang Seruni berkata nyaring.

"Tante. Om Papa, cakep kagak?"

"Cakeplah. Tapi lebih cakep si gimbal," keceplosan lagi, ada semu merah di pipinya. 

"Hah! Tante kenal si gimbal? Dimana Tan? Aku kangen si gimbal...." Rengeknya manja, duduk dengan cepat, mengahap Sinta yang tertegun dengan semu merah. Apa mereka ada hubungan? Hubungan Apa? Mendadak pusing Sinta.


BDWS020622

Komentar