BAB.6 Playboy Dekil 2
![]() |
| Dokumen Pribadi |
Menutupi rasa gugup Sinta meremas perut yang mendadak mules,
tergesa turun dari dipan dan melesat ke toilet. Seruni menambah volume senyum,
terbahak tanpa suara, tahu Tante Sinta mencoba menghindar. Ke tangkap basah loh
Tante, wajah dewasa, sikap seperti abg
tua? Lucu juga. Hhh.
Sengaja berlama-lama di toilet, Sinta menepuk-nepuk pipi dan
dada, banyak menghirup udara dan menghembuskan berulang. Mencoba secepatnya
menghilangkan debar di dada dan semu wajahnya. kenapa Seruni senyum-senyum, apa
dia tahu perasaanku? Anak kecil, tahu apa? Hiburnya.
Menatap wajah di toilet Sinta melihat pantulan wajahnya yang
pucat tanpa ada cahaya. Bedak dan lipstik sudah hilang entah ke mana, bibir
yang biasanya merah delima kini agak kepucatan , yang tersisa hanya sisa rona
yang mulai tadi tak luntur dari wajahnya.
Bagaimana mungkin seorang Sinta bisa taksir anak si embos,
orang nomor satu di kantornya, kan aku nggak sengaja Bunda. Lagian kenapa aku
harus takut, toh tidak ada orang yang tahu, aku belum mengatakan pada seorang
pun.
Tapikan aku ngasih duit 10 juta, tar dikira apa, masak cewek
agresif gitu. Mengentakkan kakinya berulang, Sinta tak henti menyalahkan diri
sendiri. Terbata ketika ada teriakan.
"Iya, iya ini dah selesai."
"Tante Sinta, ngapain lama banget, Seruni kebelet juga
nih," menerobos masuk begitu pintu dibuka.
"Iya-iya," jawabnya bingung melihat tingkah Seruni
yang asal. Nggak mengira saja bagaimana mungkin anak selucu itu bisa jadi anak
embosnya, yang terkenal galak dan pelit bicara.
setelah mencoba
meletakkan hati pada seseorang diluar jangkauan, baik dari segi mana pun. Sang
embos Pak Kelana, sudah tahu bagaimana keluarga itu dikenal sebagai keluarga
yang sangat menjunjung tinggi adap bebet bibit bobot.
Belum habis bingungnya Seruni menariknya ke kursi tamu dalam
kamar, duduk berdampingan lantas buka suara.
"Tante tahu kagak?"
"Kagak!"
Tara panjang menggema dalam kamar, kalau orang melihatnya
pasti mengira mereka 2 saudara atau Tante dan keponakan yang sangat akrab.
"Tante, Abang Gimbal tuh sedang marah sama Papa,
minggat pergi dari rumah, begitu ceritanya."
"Oh, gitu," jawab Sinta gagu, badannya tegak agak
kaku antara kepingin tahu dan pura-pura, Seruni tahu itu, makanya mancing
cerita.
"Abang Gimbal disuruh nerusin usaha Papa, begitu lulus
S2. Tapi, Abang nggak mau karena masih mau istirahat dulu, capek katanya habis
kuliah. Otaknya diperas tiap hari, dan sekarang tidak kuat mikir, agar pulih
jadi mau senang-senang dulu. Papa marah dan usir Abang. Abang pergi Luntang-luntung
tak punya uang, jadi gelandangan, begitu ceritanya Tante."
Seruni meremang memeluk dengkulnya, Sinta mendekati tak
tega, dielus pelan rambutnya. Beberapa saat Seruni mendongak.
"Tante mau bantu Seruni kagak?" Seruni mengangguk
ragu.
"Bantu Abang Gimbal agar nggak dimarahi Papa lagi.
Pokoknya Seruni percaya ma Tante Sinta. Abang meskipun playboy, tapi baik Lo
Tante." Seruni mencibir putus asa.
"Caranya," dengan bibir bergetar.
"Jadi pacarnya!" Hah!
BDWS080622

Lanjut Bu... Keren
BalasHapusOk, makasih
HapusKeren bu....jadi pingin belajar buat cerpen
BalasHapus