BAB1.SI GIMBAL

 

BAB 1

Dien Soebari


Mata Sinta tertegun menatap seseorang yang berusaha untuk mecongkel pintu kaca mobilnya, dengan kawat panjang, dia lagi dia lagi. Rambut gimbal, celana yang tak pernah ganti, rambut kucel dan kaos bermerek tapi tampak sudah kusam walaupun masih tampak elegan.

Dua kali pertemuan dan sama-sama tidak mengenakkan, anak ini apa memang tercipta untuk memalaknya. tergesa memasukkan tangannya ke dalam tas cangklong, merogoh uang yang hendak disetor ke ATM, seolah takut ada yang akan rampas.

Sebenarnya Sinta sudah mau masuk ke ATM, ketika merasa hpnya tertinggal di dashboard mobil, jadi balik ke mobil lagi. Dan pemandangan yang menjengkelkan terpampang di depan matanya. Si gimbal kucel beraksi lagi, berusaha membuka pintu mobil dengan paksa. Anak ini, benar-benar.

"Heh! Ngapain loo! Mu nyolong yah"

Kepala itu menoleh cepat, membelalak dengan mulut penuh, lantas nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal tanda gugup. Emmbak cantik ketemu lagi kita, jodoh kale, batin gimbal.

"Eh, Emmbak cantik. Saya e...e...."

"Eee... Apaan! Mau nyuri, mu nyolong! Kemarin malak!"

"Yah, Emmbak cantik! Jangan sembarang menuduh dong...."

kepalanya tolah-toleh tanda takut, beberapa orang menoleh ke arah mereka tanda curiga. Jalan depan pertokoan memang tak begitu ramai, tapi orang yang lalu-lalang tidak juga sedikit.

Sedikit agresif si gimbal mendekat, membuat Sinta mundur beberapa langkah, dan siap-siap teriak jika diperlukan. Sejenak terpesona, ketika mata elang dengan alis bertautan itu memandang tajam ke arahnya. Alamak gantengnya.

Walau dalam hati ada rasa takut, tapi dalam lubuk hatinya seakan pandangannya mengisyaratkan bahwa dia lelaki tampan yang baik, dan seakan hatinya merasa ada jeratan yang tak kasat mata. Hah!

"Terpesona ya. Emmbak cantik, ma gua," ucapnya lirih.

"Brengsek!"

Tapi semburat merah di pipinya bisa di tangkap si gimbal, membuat sudut bibirnya naik, wanita di depannya jatuh hatinya. Ketangkap kau. Tanpa banyak kata, langsung balik badan dan memilih pergi.

"Heh Gimbal! Jangan pergi!" Ucap Sinta tanpa sadar. Betul kan.

"Emmbak cantik, ada apa. Mu kenalan?" Memutar badan dengan senyum tipis, tak lupa tangan terulur dengan sikap sopan.

"Kagak!" Ucapnya terbata menyembunyikan tangan di belakang punggung.

"Kagak apa? Kagak pergi aku." Jawabnya menunjuk diri sendiri, tak lupa senyumnya membuat Sinta enggan berpaling. Ayah bunda tolong aku.

"Inih! Dan jangan malak atau mencuri lagi!" Meraih tangan kanan, meletakkan segebok uang dan mengatupkannya, tanpa sadar enggan melepaskan.

"Bu, buat apa, Emmbak cantik?" Terheran dengan cewek muda yang mungkin beberapa tahun di bawah usianya. Memandang mata dan tangan halus bergantian.

"Ituh 5 juta buatmu! Gunakan untuk apa saja, agar hidupmu berubah. Jangan malak lagi," walaupun dengan terbata, akhirnya kesampaian juga. Huh lega.

Cowok gimbal itu tertegun, memandang bergantian antara tangan halus yang menggenggam dengan segepok uang yang perlahan dilepaskan, menyisakan rasa kehilangan. Akhirnya ada orang yang peduli padanya, seorang gadis cantik yang tak tahu namanya. Mengerjap perlahan mencoba menahan cahaya bening yang akan turun, siapa gadis peri ini.

Tersenyum samar sambil memasukkan kertas merah dalam sakunya, lantas di antara senyum dan terharu memandang seraut halus yang menghentak jiwa.

"Baiklah Emmbak cantik, aku terima nikahnya dengan mahar 5 juta."  Ucapnya senyum lantas melambai pergi, sebelum wajah yang tertiba sebal akan memuntahkan laharnya.

"Brengsek!" Tapi hati tak sesuai dengan ucapan, kenapa berbunga-bunga?

"Dada cantik... Jumpa lagi, aku kan ganti berlipat ganda," masih terdengar ucapan samar di telinga, perlahan hilang tanpa sisa di antara seliweran manusia di sepanjang pertokoan. Tiba-tiba ada hati yang hampa.

Sinta terpaku atas aksinya yang tiba-tiba, tanpa dipikir dua kali. Walaupun itu uang pribadinya tanpa ayah dan bunda tahu, jadi amanlah. Entah mengapa hatinya merasa tertancap pada seraut wajah yang senyumannya mampu mengoncang jiwa dan tanpa sadar melayanglah uangnya. Tapi Sinta yakin, seyakin-yakinnya, bahwa apa yang diperbuatnya tidaklah salah. Dengan senyum dikulum hatinya bergumam, kutunggu kau belahan jiwa. Boh!

 

Aleepenaku.com

Komentar

Posting Komentar