BAB 2. SI GIMBAL

 Dien Soebari

MASIH DIA

Dokumen Pribadi

 

Dengan senyum sendiri Sinta perlahan berjalan mendekati pintu mobil, detakan sepatu bertumit tinggi, berburu seirama dengan detak jantung yang tak beraturan.

Beberapa orang depan toko merasa heran dengan interaksi keduanya, yang bertolak belakang dari semua sisi, mengundang curiga dan memaksa bersiaga.

Reaksi Sinta yang biasa saja, terkesan akrab dan manja di pandangan mereka, membuat sikap yang semula siaga menjadi acuhan saja. Lantas menyibukkan dengan aktivitasnya sendiri tanpa peduli.

Ketukan berulang di setir, senyuman di ujung bibir, ada sisa yang masih terasa dan entah itu apa. Wajah itu meskipun tertutup elusan debu bau, baju dekil tak pernah ganti, tak mampu menutup aura yang terpancar diiringi badan tegaknya.

"Aku terima nikahnya dengan mahar 10 juta"

"Kagak apa, kagak pergi aku"

"Embak cantik"

"Dada... Jumpa lagi. Aku kan ganti berlipat ganda"

Senyum simpul merona, seirama dengan ketukan jari lentik di dashboard mobil, pikirannya melanglang buana entah ke mana. Mencari dan mencari lagi, apa saja kalimat yang tersisa yang bisa diingat dari serabut wajah tegas berambut gimbal.

Kerumunan orang di luar mobil, suara hiruk pikuk berbagai bunyi klakson kendaraan, tak mampu memalingkan wajahnya dari lamunan yang kian tinggi. Baru tersadar setelah bunyi Hp melengking nyaring dan melontar ke udara. It's Hp sialan, umpatnya.

Tak berapa lama ketika hatinya sudah ada di ambang sadarnya, ucapan istigfar menggema seiring badannya yang bungkuk meraih Hp yang jatuh di antara kaki. Alhamdulillah, nggak papa. Membolak-balikkan Hp yang ternyata baik-baik saja, lantas membuka notifikasi siapa yang meneleponnya.

Ya ampun... Pak Kelana sang ketua. Tak sadar berulang menepuk jidat dan nafas tergesa.

"Assalamualaikum, ya Bapak."

"Waalaikum salam, Dimana kau!" Waduh!

"Siap Bapak, saya masih di ATM, tar lagi balik kantor." Jawabnya cepat dengan detak memburu.

"Nggak usah balik kantor, kamu langsung menuju Hotel Baruna, temui Seruni menginap di kamar ... Jemput Dia, dan bawa ke kantor."

"Siap Bapak, siapa Seruni Pak?" Tanyanya lantas pasang wajah meringis dan menutup bibir, aduh salah.

"Heh, apa aku harus lapor ke kamu siapa saja yang harus kutemui. Bla bla bla...." Masih banyak rentetan suara yang terpaksa didengarkan. Ampun deh, saya terima nikahnya, eh saya terima salahku. Hiii.

"Maaf Pak, si siap jemput," jawabnya terbata.

Sinta hanya bisa menyesali ucapannya, berulang kali menampar mulutnya, sakit ringisnya. Ambil nafas, hembuskan. Ambil nafas, hembuskan. Ambil nafas, hembuskan.

Perlahan stater kontak, kopling tarik ke kiri belakang, loh. Nggak jalan, malah asap mengepul tebal di belakang. Kaki kiri sudah dilepaskan, masih terdiam, kenapa nih mobil? Tak sengaja melirik kiri, ya ampun, handrem ternyata belum diturunkan.

Tenang, tenang. Aku terima nikahnya dengan mahar 10 juta, yaaa... Kok terbayang lagi, batinnya mengentakkan kaki berulang. Gimbal pergilah, aku mau kerja, ok.

 

BDWS010622

Komentar