Postingan

40. Debar Debar

Gambar
 Kucoba mengambil nafas panjang berulang, mencoba bersikap tenang, debaran dada terus saja menggema. Terdengar pintu kamar berderit, Mas Aak menyembuhkan kepala, aku beri senyuman sambil menggulung mukena dan meletakkan di atas tempat tidur.  Tampak heran di wajahnya melihatku yang mandi sebelum Asyar, kebiasaan selalu Asyar dulu mandi setelah mau Maghrib. Tapi sebelum membuka mulut aku sudah membungkamnya.  "Aku mu ke arisan Mas, arisan jam 4, sekarang jam 3," sambil melipat sajadah menumpuknya di atas mukena.  "O. Sekarang tanggal 4, Hari Minggu," tangannya tampak seperti menghitung, mulut komat kamit, aneh. "Pakai baju kuning Ma." tambahnya.  "Ich! Kenapa emang? " heran.  "Kalau mau ngena arisan, turuti deh," ujar Mas Aak ngeloyor pergi.  Ich sejak kapan jadi dukun, ada aja. Tapi emang sih Mas Aak ada keturunan orang pinter, nggak pinter-pinter juga. Dulu, ibu Mas Aak selalu jadi andalan ketika ada barangku yang hilang. Barang apa sa...

39.TAKI

Gambar
Aku tak tahu apa yang menyebabkan anggota keluarga baru itu benci, tidak seperti di awal datang ke rumah Yayang Vivi, membelai sayang bulu lembutku. Sayang itu hanya beberapa hari saja, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak menyentuh apalagi mendekati. Seolah aku, binatang najis yang menjijikkan. Apa salahku?  "Mas dadaku bunyi krek krek, gatal dalam dada," adunya pada Mas Viko yang baru datang dari kantor. Reaksiku langsung lari di bawah meja begitu mendengar jawaban Mas Viko. "Biar kukandangin!" samar tapi kudengar dengan jelas. Pasrah saja saat Mas Viko menyambar tubuhku dan Doi ke dalam kandang. Sebenarnya tak masalah asal makanan dan minuman aman. "Sayang...." ucap yayang Vivi lembut.  Uh, leganyaaa. Gadis manis adik mas Viko ini membebaskanku dan si Doi. Sebenarnya aku tak begitu suka pada Mas Viko, orangnya suka angin-anginan, kadang sayang kadang badanku terlempar karena tangannya yang melayang. Karakternya berseberangan d...

38.Grudak Gruduk

Gambar
Ya ampun, malam yang dingin. Tak mampu selembar selimut menghangatkan badan, setelah seharian berjibaku memindahkan barang-barang, ke dalam rumah.  Menjadi mimpi buruk di malam harinya, suara tikus yang berjalan cepat di plafon, tanpa ada jeda. Mungkin para tikus mengira, rumah masih kosong tak ada penghuni, jadi aman kalau dipakai jalan-jalan malam.  Meong... Meong... Grudak.  Bibirku merekah melihat pahlawan kemalaman datang. Seekor kucing liar loncat dari atap, menimpa selimut ku yang reflek ku tarik. Aich, alamat ini.  "Hal loh Empus, pa kabar? " sapaku melucu, Empus mengeong.  "Empus lapar? Noh, banyak makanan di atas, " telunjuk ku diikuti kepala empus. Mungkin empus ijin mau berburu, karena ada tuan rumah baru.  "Empus, mau makan malam? Tuh atas plafon banyak makanan. Gratis buatmu!" ulasku senang.  "Meong... Meong.... " Seolah mengerti, dalam sekali loncat, si empus menghilang dalam gelap malam.  Teringat dulu punya si Taki yang klemeng-k...

37.SI TAKI SONGONG

Gambar
                                                   POV 3 Ketika baru menikah, aku langsung ikut suami di perumahan mertua indah. Kaget juga, ketika disambut dua ekor kucing di pintu masuk, berwarna putih totol-totol hitam dan abu-abu. Mata keduanya yang tajam cantik mempesona, menggerakkan tanganku untuk membelainya. "Mbak suka kucing? Taki yang warna hitam putih. Doi yang abu-abu."  " Suka juga," membelai bulu sehalus sutra. "Asyik." "Huh, gitu aja senang!" Mas Viko menoyor VIvi. "Biarin! Mbak jangan ikutan Mas Viko, dia jahat ma kucing." Mata bulat bibir mengerucut membuatku gemas, aha! Selain dua kucing lucu, ada adik lucu juga. Kubayangkan hari-hari indah yang akan kulalui, benar kata Mas Viko, aku tak akan sedih lagi kalau tinggal disini. "Lololo, anggota baru kok disambut begini sih!"  Grecep. ...

36.Harum Harum

Gambar
Berjalan di keramaian menoleh kanan kiri, yang tampak gedung-gedung menjulang tinggi dengan pantulan cahaya tembus pandang. Keanggunan yang tercipta, tak ada keramahan untuk sekedar mempersilahkan manusia yang mau melaksanakan tugas alamnya. Seorang satpam perlente dengan tongkat terkokang, mempersilahkan menusia berdasi dengan badan ke depan. Sorot matanya menghujam ketika melihatku datang, menampilkan raut berantakan apalagi gaun yang kusut masai. "Ada apa, cari sapa!?" "Maaf Pak, saya kebelet. Bisa ngampung ke jeding?" " Ada toilet, tapi dalam gedung. Tak sembarang orang bisa memasuki," jawabnya ketus tak selaras dengan wajah tampannya. "Aduh Pak, saya kebelet nih. Gimana kalau keluar disini?" "Heh, menjijikkan! Noh sana, ada sungai. Sana kesana!  Hus hus," usirnya tanpa perasaan. Terpaksa aku ngacir, tapi rasa sudah tak tertahan, ya ampun. Keluar deh. Dasar! satpam tampan! Mulut set** teriakku kencang  "Ma, Ma! Bangun! Bangun! ...

35.PINTU AJAIB

Gambar
Aku heran dengan pintu rumahku, yang bisa menutup dan membuka sendiri dengan bantuan tanganku atau siapapun yang keluar masuk rumah. Hehehe... "Lewat pintu kecil Ma, jangan lewat garasi." "Akukan mau keluarin sepeda Mas. Kemarin kunci garasi aku patahin, garasi tetap saja nggak kebuka." "Lo, tinggal 1 dong kuncinya. Emang mau kemana?" "Ke pasar." "Ayo, aku ajarin buka pintu Ma." "Nanti aja, tar pulang." Pintu rumah ada 2. Pintu kecil terhubung dengan ruang tamu, sedang pintu besar bernama pintu garasi tempat beberapa sepeda nongkrong. Punyaku, suami dan dua punya cowok cewek masing-masing. Sepeda banyak bukan mau buka showroom, tapi lebih kepada kebutuhan dan kepraktisan. Pintu mempunyai tugas masing-masing. Tugas pintu kecil tempat lewat orang terhubung langsung ke ruang tamu, sedang pintu garasi tempat lewat sepeda.  Ketika keluar sendiri-sendiri, menutup atau mengunci pintu tak jadi masalah, tinggal tutup saja, bereslah. La...

34. Pinter atau Bodoh

Gambar
"Aku sudah belanja, sudah siapin tempat yang mu masak, sudah nyiapin tetek bengek. Eh sekarang, ketua ngasih tugas baru, buat daftar menu dan presentasi!" Seru Yasmin ngedumel. "Wow, hebat!" Sahut Riri dengan dua jempol, sambil menatap Yasmin yang menghempaskan badannya di sebelah kursi taman sekolah yang diduduki dengan tak sabar. "Apanya yang hebat? Itu menjengkelkan, tauk!" "Harusnya kamu bersyukur Yasmin."  Jawaban Riri yang kalem, membuat Yasmin membelalakkan mata dengan mulut ternganga, untung nggak ada laler masuk. Beberapa teman yang lewat depan taman sekolah memandang aneh, tapi diacuhkan saja oleh keduanya. "Coba pikir Ri, semua aku yang ngerjakan! lantas yang lain tugasnya apa? Pikir RI, pikir!" Riri hanya bisa memandang dan mendengarkan semua keluhan Yasmin, tanpa banyak bicara. Kadang menyela sekedar menimpali saja. Sepanjang Yasmin berbicara, Riri menyimak dan memandang gerakan mulut Yasmin yang bergerak lucu. Apalagi dita...