34. Pinter atau Bodoh



"Aku sudah belanja, sudah siapin tempat yang mu masak, sudah nyiapin tetek bengek. Eh sekarang, ketua ngasih tugas baru, buat daftar menu dan presentasi!" Seru Yasmin ngedumel.


"Wow, hebat!" Sahut Riri dengan dua jempol, sambil menatap Yasmin yang menghempaskan badannya di sebelah kursi taman sekolah yang diduduki dengan tak sabar.


"Apanya yang hebat? Itu menjengkelkan, tauk!"


"Harusnya kamu bersyukur Yasmin." 


Jawaban Riri yang kalem, membuat Yasmin membelalakkan mata dengan mulut ternganga, untung nggak ada laler masuk. Beberapa teman yang lewat depan taman sekolah memandang aneh, tapi diacuhkan saja oleh keduanya.


"Coba pikir Ri, semua aku yang ngerjakan! lantas yang lain tugasnya apa? Pikir RI, pikir!"


Riri hanya bisa memandang dan mendengarkan semua keluhan Yasmin, tanpa banyak bicara. Kadang menyela sekedar menimpali saja. Sepanjang Yasmin berbicara, Riri menyimak dan memandang gerakan mulut Yasmin yang bergerak lucu. Apalagi ditambah ekspresi wajahnya yang berubah dengan cepat. 


Tugas akhir sekolah yaitu membuat kue basah tradisional, semua sudah urun rembuk, disepakati akan membuat kue dadar pelangi. Ketua kelompok memberi tugas Yasmin belanja bahan kue, karena rumahnya dekat pasar dan dekat sekolah.


Setelah Yasmin belanja, ketua kelompok memberi tugas membuat daftar menu dan juga presentasi tentang masakan yang dibuat. Itulah yang menjadi penyebab Yasmin jengkel pada sang ketua kelompok, Budi. Bukannya bilang sama Budi, Yasmin malah berkeluh kesah pada sahabatnya Riri.


Karena asyiknya mendengar cerita Yasmin, nggak tahu mau komen apa, Riri malah fokus melihat mimik Yasmin. 


"Halloo... Rii...."


"Iya Yas, aku dengarkan kok," sahut Riri gelagapan.


"Menurutmu aku harus gimana?" keluh Yasmin.


"Menurutku, nggak papa kok kamu yang ngerjakan semua, asal kamu mampu."


"Kalau mampu ya mampu aku! Lantas anggota yang lain tugasnya apa, kalau semua aku yang ngerjakan."


Yasmin selain cantik, pinter, Yasmin menguasai banyak ketrampilan. Kalau ada tugas yang lain terkadang terima beres, hanya ngeluarkan uang. Kalau bantupun paling-paling cuma tinggal ujung kerjanya saja.


Misalnya kemarin ada tugas membuat laporan hasil kegiatan kunjungan ke peternakan, semua pengetikan, edit foto Yasmin yang ngerjakan. Anggota kelompok yang terdiri dari 10 orang tinggal ongkang kaki dan terima beres nama mereka nangkring di laporan. Yasmin juga dengan lapang hati mengerjakan semua laporan tanpa banyak kata.


Riri sebenarnya gemes juga dengan sifat Yasmin yang nggak enakan sama teman, suka menolong, dan terkesan dimanfaatkan sama teman.


"Riii... Aku harus bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Ich kamu nyebelin Ri!'


"Mau dengar nasehatku."


"Apa?"


"Jangan mau kalau disuruh! Jangan kerjakan!  Gitu aja kok repot!"


"Kok gitu sih Rii... Kalau tugasnya nggak selesai, kan nilainya jelek semua," cicit Yasmin, membuat Riri menarik nafas panjang, nggak tahu  lagi mau jawab apa.


"Baiklah, aku beli solusi, tapi ini yang terakhir. Dengarkan!" Seru Riri pasang wajah galak, Yasmin mengangguk lemah.


"Kamu pura-pura bodoh saja. Jadi orang pinter nggak enak. Orang bodoh, nggak akan  disuruh-suruh!"


"Ririii...!" Tapi teriakan Yasmin tak ada artinya, karena Riri sudah hilang di balik kelas.


Bdws140323

Komentar