Postingan

42. Lahiran

Gambar
  Dengan tertatih-tatih ke hempaskan pelan bokongku di tepi tempat tidur, merasakan perut yang sebentar-sebentar menegang kaku. Mungkin efek menjelang lahiran.  "Sakit ya Dek, nggak usah mendesis. Eleng, eleng. Bu bidan dalam perjalanan, tahan dulu yaa. " Mas Ravi mengelus perutku pelan, tapi malah membuatku tak nyaman, tapi kubiarkan agar menenangkannya. Omongannya kalau kujawab akan tambah lebay, pakai rayuan segala, nggak tahu suasana.  "Wes ta Dek, jangan meringis gitu, sakit gigiku, " tak lupa mengelus rahang, tanganku mau menabok tapi kutahan.  "Mas! Sakitt...." Pekikku tak tahan, bukannya tambah berkurang, perutku tambah melilit.  "Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum! " Gedoran pintu terdengar bertubi, ya ampun, mules merambah perutku. Bergegas Mas Ravi bukakan pintu, seperti suara ibu.  "Ya ampun Mimi, sakit ya Nak? Aduh cucu Ibu mau lahir. Aduh, aduh," ya ampun ibu, kenapa nggak diam. "Ini minum," membuka botol...

41. Sepotong Hati

Gambar
  Hatiku mengkerut Melihatmu berlutut Pada rembulan berwajah imut Di malam larut Hatiku berasa masam Menatap wajah rembulan Yang mampu menaklukkan malam Dengan senyum dan alunan Bukan bukan aku cemburu Pada tarian yang melenggang Di antara hiruk-pikuk rindu Yang saling berbungkus pedang Hanya saja Luruh hati tak bisa kusangga Dengan galah yang menjulang pongah Menanti rindu tak kunjung datang

40. Debar Debar

Gambar
 Kucoba mengambil nafas panjang berulang, mencoba bersikap tenang, debaran dada terus saja menggema. Terdengar pintu kamar berderit, Mas Aak menyembuhkan kepala, aku beri senyuman sambil menggulung mukena dan meletakkan di atas tempat tidur.  Tampak heran di wajahnya melihatku yang mandi sebelum Asyar, kebiasaan selalu Asyar dulu mandi setelah mau Maghrib. Tapi sebelum membuka mulut aku sudah membungkamnya.  "Aku mu ke arisan Mas, arisan jam 4, sekarang jam 3," sambil melipat sajadah menumpuknya di atas mukena.  "O. Sekarang tanggal 4, Hari Minggu," tangannya tampak seperti menghitung, mulut komat kamit, aneh. "Pakai baju kuning Ma." tambahnya.  "Ich! Kenapa emang? " heran.  "Kalau mau ngena arisan, turuti deh," ujar Mas Aak ngeloyor pergi.  Ich sejak kapan jadi dukun, ada aja. Tapi emang sih Mas Aak ada keturunan orang pinter, nggak pinter-pinter juga. Dulu, ibu Mas Aak selalu jadi andalan ketika ada barangku yang hilang. Barang apa sa...

39.TAKI

Gambar
Aku tak tahu apa yang menyebabkan anggota keluarga baru itu benci, tidak seperti di awal datang ke rumah Yayang Vivi, membelai sayang bulu lembutku. Sayang itu hanya beberapa hari saja, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak menyentuh apalagi mendekati. Seolah aku, binatang najis yang menjijikkan. Apa salahku?  "Mas dadaku bunyi krek krek, gatal dalam dada," adunya pada Mas Viko yang baru datang dari kantor. Reaksiku langsung lari di bawah meja begitu mendengar jawaban Mas Viko. "Biar kukandangin!" samar tapi kudengar dengan jelas. Pasrah saja saat Mas Viko menyambar tubuhku dan Doi ke dalam kandang. Sebenarnya tak masalah asal makanan dan minuman aman. "Sayang...." ucap yayang Vivi lembut.  Uh, leganyaaa. Gadis manis adik mas Viko ini membebaskanku dan si Doi. Sebenarnya aku tak begitu suka pada Mas Viko, orangnya suka angin-anginan, kadang sayang kadang badanku terlempar karena tangannya yang melayang. Karakternya berseberangan d...

38.Grudak Gruduk

Gambar
Ya ampun, malam yang dingin. Tak mampu selembar selimut menghangatkan badan, setelah seharian berjibaku memindahkan barang-barang, ke dalam rumah.  Menjadi mimpi buruk di malam harinya, suara tikus yang berjalan cepat di plafon, tanpa ada jeda. Mungkin para tikus mengira, rumah masih kosong tak ada penghuni, jadi aman kalau dipakai jalan-jalan malam.  Meong... Meong... Grudak.  Bibirku merekah melihat pahlawan kemalaman datang. Seekor kucing liar loncat dari atap, menimpa selimut ku yang reflek ku tarik. Aich, alamat ini.  "Hal loh Empus, pa kabar? " sapaku melucu, Empus mengeong.  "Empus lapar? Noh, banyak makanan di atas, " telunjuk ku diikuti kepala empus. Mungkin empus ijin mau berburu, karena ada tuan rumah baru.  "Empus, mau makan malam? Tuh atas plafon banyak makanan. Gratis buatmu!" ulasku senang.  "Meong... Meong.... " Seolah mengerti, dalam sekali loncat, si empus menghilang dalam gelap malam.  Teringat dulu punya si Taki yang klemeng-k...

37.SI TAKI SONGONG

Gambar
                                                   POV 3 Ketika baru menikah, aku langsung ikut suami di perumahan mertua indah. Kaget juga, ketika disambut dua ekor kucing di pintu masuk, berwarna putih totol-totol hitam dan abu-abu. Mata keduanya yang tajam cantik mempesona, menggerakkan tanganku untuk membelainya. "Mbak suka kucing? Taki yang warna hitam putih. Doi yang abu-abu."  " Suka juga," membelai bulu sehalus sutra. "Asyik." "Huh, gitu aja senang!" Mas Viko menoyor VIvi. "Biarin! Mbak jangan ikutan Mas Viko, dia jahat ma kucing." Mata bulat bibir mengerucut membuatku gemas, aha! Selain dua kucing lucu, ada adik lucu juga. Kubayangkan hari-hari indah yang akan kulalui, benar kata Mas Viko, aku tak akan sedih lagi kalau tinggal disini. "Lololo, anggota baru kok disambut begini sih!"  Grecep. ...

36.Harum Harum

Gambar
Berjalan di keramaian menoleh kanan kiri, yang tampak gedung-gedung menjulang tinggi dengan pantulan cahaya tembus pandang. Keanggunan yang tercipta, tak ada keramahan untuk sekedar mempersilahkan manusia yang mau melaksanakan tugas alamnya. Seorang satpam perlente dengan tongkat terkokang, mempersilahkan menusia berdasi dengan badan ke depan. Sorot matanya menghujam ketika melihatku datang, menampilkan raut berantakan apalagi gaun yang kusut masai. "Ada apa, cari sapa!?" "Maaf Pak, saya kebelet. Bisa ngampung ke jeding?" " Ada toilet, tapi dalam gedung. Tak sembarang orang bisa memasuki," jawabnya ketus tak selaras dengan wajah tampannya. "Aduh Pak, saya kebelet nih. Gimana kalau keluar disini?" "Heh, menjijikkan! Noh sana, ada sungai. Sana kesana!  Hus hus," usirnya tanpa perasaan. Terpaksa aku ngacir, tapi rasa sudah tak tertahan, ya ampun. Keluar deh. Dasar! satpam tampan! Mulut set** teriakku kencang  "Ma, Ma! Bangun! Bangun! ...