25. Mas Yayang

Rumah sakit, rumahnya orang sakit, kalau berkunjung harus tahu ada beberapa aturan yang harus ditaati. Misalnya saja, dilarang merokok, dilarang bicara keras, dan lain-lainnya.

"Permisii," suara tegas lembut menghentikan sejenak obrolanku dan Bu Sia yang menunggu giliran masuk ke ruang pasien, menjenguk istri pak Kasiran kepala sekolah. 

Pandangan kami terpaku pada sesosok berKulit putih, tinggi, rambut cepak gaya aparat khas anak muda masa kini. Bermata hitam, selembar masker tak dapat menutupi wajah tampannya.

Teman guru menoleh serempak pada sosoknya yang sedang mendorong benda segiempat, kereta makanan rumah sakit, sedikit ada jeritan mungkin karena sudah lama dipakai.

Deheman terdengar dari jejeran guru, terpesona pada ciptaan Tuhan, tak ada yang terucap yang ada malah bengong. kuputuskan buka mulut, iseng.

"Monggo Mas, apa ngak berat dorongnya?" kupanggil mas, karena masih muda.

Dia berhenti sejenak dengan jarak sekitar 1 meter dariku, tidak menjawab hanya tersenyum sedikit. Berhenti bukan untuk menjawab usilanku, tetapi dari arah berlawanan ada brangkar yang membawa pasien, menunggu.

"Tidak Bu, makasih. Kagak berat kok," jawabnya kalem sambil tersenyum manis. Bergeser Lagi, mendekat ke arahku, karena jalan sempit. Posisinya bahkan berada di depanku, teman-teman tak bisa pada nahan senyum.

"Kalau begitu, tak bantuin ngabisin saja, mungkin ada yang lebih," padahal aku juga tidak tau, apa isinya. Perkiraan menu makan siang. Sekarang sekitar jam 12.30 jam kunjung berakhir 30 menit lagi.

Teman-teman pada cengar-cengir melihat ulahku. Apalagi Bu Sia dan Bu Hani, menutup mulut menahan tawa.

"Namamu siapa Mas," Bu Mimi ikutan, masnya senyum manis, kukira tidak akan jawab.

"Nama saya Bu guru?" menunjuk diri sendiri, mungkin tahu kalau kita guru dari penampilan.

"Laiyalah, masak yaiya dong," jawaban Bu Mimi, membuat koor tawa serempak. Masnya Yo senyum-senyum saja, memegang erat kemudi kereta makanan, takut kita ambil mungkin.

"Namaku Yayang Bu guru, alamat Rt.5 Rw.3 gang Cinta," ledakan tawa membahana.

"Wah, Mas Yayang lucu juga."

"Mas udah ada gandengan belum?"

"Ada Bu, laini," sambil melirik tangannya yang memegang kemudi kereta.

Serentak kita ketawa heboh mendengar jawaban lucu, lupa sekarang sedang berada dimana.

Tapi ucapan kita grecep terdiam setelah kepala rombongan Bu Kasiatun melongokkan kepala, sambil melotot dari balik pintu ruang rawat Pak Kasiran. Kita memang bergantian masuk ke dalam, soalnya tidak boleh banyak-banyak yang masuk ruangan. 

Sampai di belokan ternyata Mas Yayang masih sempat-sempatnya melambaikan tangan pada kita, yang tentu saja dibalas dengan gemulai dan senyum manis.

"Ayo giliran masuk, dua orang, gantian!" ujar Bu Kasiatun ketus. Aih.

Bdws081122

Komentar