22. Malu


"Pak, Pak! Anakmu ini menjengkelkan!"

Aku menghentikan sejenak aktifitas di depan laptop, melihat istriku Ais yang baru saja datang dari rapat komite di sekolah Fery anak sulung kami. Feiy sekarang ada di kelas 11, di SMA Jatiluhur kota, adiknya Sera masih di kelas 7 di sekolah yang sama.

"Opo to Bu?"

"Itu Lo Pak, anakmu!" Dengusnya kesal.

"Kenapa dengan anakku? Ganteng, hitam manis, pinter!  Anakmu, anakmu. Sopo seng ngeluarin dari perut? Enak saja bilang anakmu, anakmu!" 

Sahutku tak mau kalah, mana aku lagi sibuk buat Vidio pembelajaran untuk esok hari. Belum selesai pekerjaan ngedit, datang-datang ngomel.

Ibunya anak-anak itu kebiasaan, kalau ada masalah dan anaknya melakukan sesuatu yang  tidak cocok dengan keinginannya, pasti akan bilang, anakmu pak. Tentu saja aku hafal, karena sudah hampir 20 tahun aku membina rumah tangga, jadi sepak terjangnya di dunia anakmu pak, sudah tersemat erat di kepala.

Tapi coba kalau anaknya dapat prestasi seperti barusan, juara 1 tingkat kelas menulis pengalaman paling berkesan, apa yang Ais bilang.

"Pak lihat anakku, juara 1," memperlihatkan piagam dan kado segiempat.

Mendengar sanggahanku, otomatis ibunya terdiam, dan senyum manis seraya mepet-mepet. Curi pandang ke arah laptopku yang menayangkan Vidio belum jadi.

"Opoh?"

 Tanyaku dengan voltase suara rendah, soalnya dia sudah pasang wajah manis.

"Pak anakmu...."

"Opo'o anakku."

"Masak Fery mempermalukan Ibuk tadi di rapat komite."

"Emang dia bilang apa, kok Ibu merasa malu?"

"Sekolah mau mengadakan ekstra mengaji lanjut Sholat Dhuha, jadi sekolah yang semula masuk jam 6.30, dimajukan jam 6 pagi. Itu usulan sekolah. Eh giliran anakmu yang menanggapi, Fery bilang gini. Pak kalau masuk jangan pagi-pagi, soalnya saya nggak pernah sarapan dan sangunya mepet."

"Lo kan bener itu, apanya yang malu?"

"Ich Bapak, malulah."

"Emang malu bisa di makan?" Cecarku, membuat Ais pergi ke belakang tanpa menoleh lagi. Kenyataan memang begitu, ngapain malu. Ada saja.


Bdws011122

Komentar