10.Untuk Menjadi Penulis, Kita Perlu Menulis

Oleh : Dien Soebari

(Alumni Kelas Menulis Emak Punya Karya)

Mendengar kata penulis mungkin terbersit di benak kita adalah orang yang pekerjaannya menulis buku, majalah, koran dan sebagainya. Itu bisa saja benar, tetapi setiap orang bisa disebut penulis.

Mengapa demikian? Karena setiap orang yang membuat tulisan dan memublikasikan ke media sosial, baik itu Facebook, Instagram Twitter, bisa juga dikatakan penulis.

Penulis jenis di atas biasanya tidak berbayar, mereka menulis karena hobi. Namun, banyak orang yang mengawali karir dari hobi menulis dan akhirnya mendapat cuan.

“Apakah menjadi seorang penulis harus ada sekolah atau pelatihan dulu?”

Untuk menjadi penulis, tidak perlu sekolah formal seperti pekerjaan lainnya. Saat ini banyak penulis yang melahirkan banyak karya bagus, misalnya novel cerpen atau lainnya, tetapi tidak melalui pelatihan atau sekolah tentang kepenulisan apalagi sekolah formal.

Mereka belajar sendiri atau otodidak, menulisnya lantas memposting di media sosial yang saat ini banyak membuka diri untuk menampung tulisan dari para penulis.

Kalau kita ingin menjadi seorang penulis, langkah-langkah di bawah ini bisa menjadi referensi agar keinginan untuk menjadi penulis dapat tercapai.

1. Mengikuti kelas menulis.

Berdasarkan pengalaman yang saya ikuti, kelas menulis sama seperti kita sekolah, ada materi, guru, teman, tempat dan sertifikat keikutsertaan. 

Dengan mengikuti kelas menulis, kita akan mendapat materi kepenulisan dari coach atau guru. Misalnya bagaimana cara menulis yang benar, mulai dari membuat pembuka, isi dan kesimpulan.

Isi sebuah tulisan agar pesannya sampai kepada pembaca harus mengandung unsur 5 W (What, Who, Why, When, Where) dan 1 H (How).

2. Menuliskan apa saja yang disukai atau yang menjadi kesukaan

Setelah mengetahui dasar-dasar kepenulisan, kita bisa menulis dari hal mudah yakni menulis yang kita suka.  Misalnya kita suka pada bunga, tulislah bunga tentang bunga meliputi cara merawat, menceritakan tentang keindahan bunga dan sebagainya.

Dengan menulis hal-hal yang kita suka, proses dalam penulisan pun akan mudah dan hati menjadi bahagia.

3. Banyak membaca

Banyak membaca bukan untuk mereka yang suka menulis saja, tetapi bagi semuanya, karena sejatinya dengan membaca semakin banyak kita tahu. Terlebih bagi penulis, membaca sangat diperlukan.

Dengan membaca maka perbendaharaan kata akan semakin banyak, sehingga hasil tulisan akan lebih berwarna dan bermakna.  Bahan bacaan juga bisa untuk referensi karya kita agar terhindar dari plagiat atau penjiplakan.

4. Menulis dan menulis

Menulis merupakan langkah paling penting yang harus dilakukan bila ingin menjadi penulis. Dengan menulis setiap hari, semakin lama tulisan yang dihasilkan akan semakin rapi. Bukan itu saja dengan sering menulis kebaikan, ada banyak makna yang mungkin berguna tidak hanya bagi kita sendiri juga bagi orang lain.

5. Publikasikan

Setelah menulis, bagikan karya kita di media sosial atau teman agar lebih bermanfaat. Namun, ketika memutuskan untuk mempublikasikan harus siap dengan namanya kritik.

Terkadang kritik itu bernada sinis atau disampaikan secara negatif, tetapi justru kritik akan membawa kemajuan. Kita jadi tahu mana yang salah atau kurang agar tulisan dari waktu ke waktu semakin berkualitas.

Kelima langkah tersebut sebenarnya tidak ada artinya jika dari diri kita sendiri tidak ada motivasi untuk menulis. Paling utama adalah motivasi diri agar tulisan kita selesai. Tidak perlu direpotkan dengan hal-hal yang memberatkan. Mengutip dari perkataan Pak Cahyadi Takariawan, “Menulis semudah bernafas.”

Bondowoso, 3 Juni 2022

Biodata Penulis

Penulis bernama Nurhardini yang memiliki nama pena Dien Soebari, tinggal di Bondowoso, Jawa Timur. Selain menulis di media online, dia juga sebagai pegawai negeri sipil. Media sosial : Facebook Dien Soebari.

Komentar