BAB.7 Playboy Dekil3


Dokumen Pribadi



Sinta menutup mulutnya cepat, matanya membulat pipinya kemerahan. Tak bisa dibedakan antara kaget, senang, semua campur aduk. Badannya tak mendapat keseimbangan, terjatuh dengan bokong mendarat duluan. Aduh, sakit.

"Seruni!" Berdiri cepat berhadapan.

"Tante!" 

"Seruni, apa yang Kamu katakan? Tante nggak kenal Gimbal."

"Kenal!"

"Kagak!"

"Nggak kenal! Kenapa kasih uang!" Ketus.

Sinta linglung berputar, untunglah kesadarannya tak hilang, di putarannya terduduk di empuknya springbet. Tangannya mengatup di kepala, seolah tak kuat menahan beban rasa. Ketika dibuka perlahan pandangannya bersiborok dengan seraut wajah cantik, yang  barusan bersitegang, melihatnya iba. Seruni duduk di dekatnya.

"Tante maafkan Seruni, tapi tolong Abang?

"Kamu tahu tentang uang itu? Jadi kamu tahu semua?" 

Bernada tinggi, perasaan takut yang sempat muncul berubah menjadi keberanian yang membingungkan.

"Tante Sinta, tenanglah. Nggak papa kok, Seruni nggak marah. Walaupun Abang pergi dari rumah, tetapi Seruni nggak putus komunikasi selain Papa. Abang selalu cerita apapun yang dialaminya, tak kecuali dengan Tante."

"Kamu tahu Tante Seruni? Kok Tante nggak tahu kamu ataupun Gimbal?"

"Tante Abang dan Seruni tahu kok tentang Tante, staf umum penurut dan pekerja keras, yang sering dikerjain Papa."

"Oh ya," jawanya bengong.

"Tante nggak tahu kita, soalnya emang nggak pernah ke kantor. Tapi kita tahu tentang Tante dari Tante Ana, sekretaris Papa. Seruni ma Abang Gimbal ada di luar kota Tan. Seruni baru saja wisuda S 1, sedang Abang Gimbal sudah lulus S 2 beberapa tahun lalu."

Maka meluncurlah cerita Seruni sampai keakar-akarnya, dan akhirnya?

"Tante Sinta, mau yaa...."  Tatapnya menghiba.

"...."

"Tante... Ayolah," tangan memegang lengan menggoyangnya berulang.

"Tapi...."

"Tante mau, asik! Yeee.... Yes! yes! yes!"

Menjangkau telapak Sinta menariknya ke lantai kosong memutarnya berulang, Sinta yang masih sok, terpaksa mengikut irama karena bagaimanapun Seruni adalah anak embos. Anak embos berarti embosnya juga.

"Pacaran, pacaran, pacaran. Asik, Abang Gimbal, Tante Sinta pacaran!" tak hentinya Sinta diputar-putar mengikuti tarian Seruni.

"Aduh, sudah, sudah Tante pusing Seruni," keluh Sinta lantas duduk di kursi, tidak pura-pura, beneran.

"Eee... Maafkan Seruni Tante, Tante baik-baik saja kan?" Tangannya sibuk memegang tangan  dengan cemas.

"Nggak papa sayang," sahutnya sambil tersenyum, Seruni terpana pada lubang di pipi, manisnya. Pantas Abang Gimbal terpesona.

"Terpesona, aku terpesona, memandang wajahmu yang manis," nyanyian Seruni bikin Sinta memerah jambu, malu, gemesnya.


BDWS020722

Komentar

Posting Komentar