BAB 9. Se.7
![]() |
| Dokumen Pribadi |
"Tante, eh Kakak Ipar, ayo kita pulang."
"Hah! Kakak Ipar? Pulang? Kemana?"
"Ke rumahlah, ketemu Mama Papa."
"Eh, jangan. Eee... Koper Seruni gimana?"
Belum menjawab Seruni menyeret tangannya, sekilas memandang koper besar tergeletak di lantai. Gerakan jalan tergesa mereka menarik perhatian beberapa tamu di sepanjang koridor hotel, heran melihat dua cewek cantik yang tampak saling menarik.
Ketemu tuan dan nyonya bos sudah sering, tapi posisi sebagai pengantar sesuatu, bisa makanan atau barang. Tapi sekarang mau ketemu dalam posisi yang berbeda, sama sekali tak ada dalam bayangan. Mau nurut masih bimbang, nggak nurut takut akan efeknya.
Bayangan dipecat terbayang di pelupuk mata. Bagaimana kalau benar itu terjadi, makan apa keluargaku? Walaupun ayahnya pensiunan, tapi kan gajinya sudah habis buat cicilan mobil dan rumah, hanya mengandalkan gajinya untuk makan sehari-hari.
Asik melamun tak menyadari ada vas bunga di samping pintu, kesenggol siku jatuhlah, prang., Aduh, harganya pasti mahal.
"Kagak sengaja." Sinta terbata.
"Iya tahu, nih hotel milik Papa, Tante tenang saja."
Perasaannya mendingin, bayangan mengganti vas sudah terbayang di pelupuk mata. Sebersih senang menyelinap dada, aman.
Perasaan gamang cemas dan suka kembali datang, serasa Komidi putar sebentar datang sebentar pergi. Senang karena si gimbal akan jadi milik hati, sekaligus cemas dan gamang karena cepatnya perubahan yang terjadi.
Beberapa pelayan membungkukkan kepala tanda hormat pada anak pemilik hotel, Sinta hanya bisa tersenyum kaku, kayak embos juga merasa tidak pantas berasa di samping Seruni. Baru bareng Seruni, bagaimana kalau sudah jadi pacar, tunangan apalagi istri. Up's, Sinta menutup mulut tak sadar.
Sebuah mobil terparkir tepat di depan lobi, dengan seseorang bersidekap berdiri. Begitu melihat keduanya, lantas bergegas membuka pintu, dengan cepat Sinta berujar.
"Seruni, mobil Tante ada di sana."
"Kagak usah!"
Mengamit lengan lantas mendorong masuk di kursi penumpang, yang mau tidak mau Sinta menurutinya.
Mobil mulus hitam membelah jalanan tanpa hambatan, bahkan suaranya saja tidak kedengaran, lain dengan mobilku. Batinnya menaikkan sudut bibir.
"Ngapain Tante senyum-senyum."
"Nggak papa," sahutnya dengan pipi merona.
Pagar besi tinggi bercat hitam menyambut kedatangan mereka berdua, langsung masuk setelah dibukakan penjaga. Dengan menggandeng tangan Sinta, Seruni melenggang masuk ke pintu besar berukir.
"Assalamualaikum, Mama Papa lihat siapa yang aku bawa," teriak Seruni.
"Waalaiku salam, ya ampun Seruni, kebiasaan deh," seraut wajah cantik mempesona muncul dari balik tirai hias di tengah ruangan.
"Mama," peluknya manja dan dibalas tak kalah mesra.
"Siapa ini?" Tanya Rosita heran setelah melepaskan pelukannya.
"Kakak Ipar?" Sahut Seruni cepat membuat dahi tertaut, lantas muncul senyuman.
"Ayo duduk,"ajak Rosita heran.
Akhirnya meluncurlah cerita Seruni sampai ngos-ngosan, bahkan Sinta tak diberi kesempatan untuk memberi pendapat, semua sudah borongan.
"Bagaimana Ma, pilihanku?
Sejenak Rosita berfikir, matanya tajam memandang ke arah Sinta berulang. Wajah biasa saja berkulit kuning Langsat, hidung tak Bangir sedikit walau tak tinggi tapi cukuplah. Dan yang penting senyumnya itu loh, menawan.
Sinta meskipun tak berharap banyak, tahu apa yang difikirkan Rosita, sekarang sedang dianalisa. Dengan senyum kagok kepala tolah-toleh merasa malu dan keki, tak tahu harus ditempatkan dimana kaki dan tangan, jadinya malah goyang sana sini.
Rosita tersenyum manis, lantas berujar.
"Setuju."
"Apa yang setuju!"
Tiga kepala serentak menoleh ke arah pintu, Pak Kelana datang! Waduh!
BDWS040722

Aku setuju juga
BalasHapus