08. Budaya Mengantar Manten
Baru mau sholat Isyak ketika kudengar ketokan pintu depan. Terburu tanpa melepas rukuk bergegas menuju ke ruang tamu. Begitu kubuka pintu ternyata suami istri Pak Sosro dan Santi.
"Assalamualaikum Bu Dien."
"Waalaikum salam, ayo masuk-masuk, silahkan duduk," ternyata ada suamiku mengekor baru datang dari mesjid.
"Tamu jauh, ada perlu apa nih," ujarku basa-basi.
"Kami mau mengantar Sarah besok ke rumah mertuanya, ada acara walimahan juga disana."
Memang seminggu yang lalu Pak Sosro dan Santi menikahkan putri kedua mereka Rini dengan Rusdi asal Desa Kemusuk Kecamatan Kalianyar yang berprofesi sebagai tenaga sekuriti di bank SS.
Dengan senang hati aku terima, dan mereka bilang tidak usah bawa kue dan juga kendaraan karena semua sudah disediakan, jadi tinggal bawa badan saja. Begitu selesai langsung mereka berdua pamit pulang.
Keesokan harinya sesuai jam yang telah ditentukan aku sudah bersiap, kulihat di depan Rita Rosi dan suami juga yang lainnya, mereka membawa nampan berisi kue yang sudah dibungkus plastik dan dihias indah.
"Mbak ayo, kok belum bersiap?"
"Ya tar, aku tinggal salin baju dan pakai lipstik," jawabku yang dijawab derai tawa mereka, nggak tahu apanya yang lucu.
Cepat bergegas aku ganti baju, di kamar Mas Rudi suamiku malah sudah siap pakai baju batik dengan songkok hitam terpasang rapi. Gamis warna senada sudah kukenakan, tinggal menambah bedak dan lipstik yang luntur karena sarapan pagi.
Mengantar manten adalah tradisi yang sudah ada sejak aku kecil dan turun menurun ada di daerahku. Tidak tahu sejak kapan tradisi ini ada, tapi yang aku tahu, ketika aku menikah tradisi itu memang sudah ada.
Tradisi ini diawali dengan beberapa hari sebelum acara tuan rumah yang punya hajat, pergi ke tetangga yang akan diajak ikut ke rumah besan, atau mau dipinjami mobil jika si empunya belum punya. Mengutarakan keinginannya apa saja yang diperlukan, kita sebagai tetangga akan dengan hati membantu.
Ada yang menyumbang kue sudah siap bawa, ada yang bawa bahan mentah agar diolah oleh si empunya rumah, atau bawa gula plus uang sebagai tanda ikut menyumbang. Agar kuenya tidak sama, tuan rumah akan bertanya pada para penyumbang menghindari penyumbang membawa kue yang sama. Kue dimasukkan rapi di mampan plastik bertutup bening yang dibeli di toko, sudah ada hiasannya, jadi tinggal tutup dan streples. Jadi deh.
Karena sekarang pak Sosro dari pihak perempuan, kue yang dibawa tidaklah sebanyak kue yang dibawa pihak laki-laki. Misalnya saja, dulu pihak laki-laki membawa sepuluh nampan, pihak perempuan boleh sama atau kurang dari sepuluh nampan tak jadi masalah.
Setelah kuhitung jumlah nampan ada sembilan, jadi aman. Aku dan suami berangkat dengan mobil Isuzu panter dikemudikan yang punya mobil pak Jamil, sedang satunya kepunyaan Pak Sosro sendiri.
Sesampainya di rumah besan, acara dilaksanakan seperti walimahan perkawinan biasa. PIhak besan mengundang banyak orang dengan berkat sudah di depan masing-masing, sambil duduk bersila di bawah tenda yang lumayan bagus.
Semua tamu dari pihak dari perempuan, dipersilahkan duduk di dalam ruang tamu yang cukup besar, tampak ruang tamu baru saja dibangun kelihatan dari bau catnya.
Aku duduk manis menikmati hidangan yang telah disediakan, tak terasa waktu 2 jam berlalu, selesailah acara dengan pembacaan doa. Di akhir acara pengantin secara bergantian bersalaman dengan semua undangan, penganti lelaki ke undangan lelaki, demikian juga sebaliknya.
Hanya teriring doa semoga bahagia. Selamat menempuh hidup baru ananda Ris dan Doni, bahagia dan rukun selalu. Aamiin.
Bdws240722

Duduk manis sembari mencumbu hidangan penambah kolesterol...
BalasHapusHati hati kawana