BAB I Salah Paham

 

Dokumen Pribadi

"Umi, Umii. Umi di mana? Payudaraku kenapa kok keras?" Suara Cika membuat kening abinya berkerut. Abi Yusuf sedang duduk santai di ruang tamu.

Menikmati secangkir kopi yang baru disesapnya, serasa tertahan di tenggorokan, menciptakan efek panas yang menjalar di dada.

Cika tidak melihat Abi Yusuf yang sedang duduk di kursi tamu, dia malah membuka pelan pintu kamar depan sejajar dengan ruang tamu, karena tau Uminya berada di dalam.

Melihat Umi yang tertidur pulas di sebelah Bagas adiknya, menutupnya pintu kembali. Ketika berbalik arah, tertabrak pandangannya dengan Abi Yusuf yang heran. Tanpa malu menghampiri padahal dia hanya memakai penutup handuk.

Mungkin karena usianya yang baru berumur 8 tahun dan belum menyadari apa itu kata malu. Langsung saja dia membuka dadanya yang belum berkembang sempurna.

"Abiii. Payudara aku sakit, seperti kemeng gitu Bi. Lihat nih Bii...." Ringisnya, membuka sebagian handuk.

"Sayang yang mana yang sakit?" Sambil memandang payudara Cika yang baru tumbuh. Tonjolan dua dada, hanya seperti ada yang mengkilat di gundukannya.

"Dua-duanya nggak nyaman Bi. Nyeri. Nih di sini, di sini."

Mendengar keluhan Cika, secara reflek memegang pangkal payudara Cika yang baru mengembang. Ditekannya pelan, dan ujung jarinya merasakan menekan sesuatu yang keras.

Tidak mungkin, tidak mungkin batinnya. Pandangannya mengabur ke 20 tahun silam. Ibu dan kakaknya merasakan nyeri seperti itu ketika awal penyakit itu dirasakan. Dan kanker itu sekaligus mengambil nyawa keduanya, dua orang yang sangat disayanginya. Membuatnya pergi jauh dari rumah kenangan masa kecil karena peristiwa itu.

Kanker ganas itu, benar-benar momok yang meremukkan sendi kebahagiaan dan menghapuskan semua rasa yang ada. Tidak, tidak, jangan anakku. Jangan Cikaku, rasa nyeri menjalar seketika di dadanya, membuatnya tercenung.

Tak menyadari kedatangan tamu Pak Lesmana dan Pak kasdiro yang memandangnya terbelalak, karena posisi tangannya yang berada di payudara Cika, tanpa disadari keduanya.

Tak ada sapaan sopan, malah yang ada bentakan gusar keduanya, yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

"Dasar laki-laki buaya, laknat. Anak sendiri mau digrepe-grepe!"

"Pelecehan anak! Dasar Abi kurang ajar!"

Dua ucapan yang diucapkan hampir bersamaan mengagetkan keduanya, yang menoleh dengan wajah pias. Buru-buru Yusuf menarik tangannya yang tentu saja sudah terlambat.

Cika lantas berlari masuk ke kamarnya dengan malu, karena tatapan Pak Lesmana dan Pak Kadiro seakan membunuhnya.

"Bukan, bukan seperti itu Pak. Bukan seperti yang Bapak bayangkan," berdiri dengan tergesa dan menjawab gagap. Kode tangan yang mengatakan tidak ada apa-apa, tak ditanggapi oleh keduanya.

Kasdiro menatap nyalang Yusuf, tanpa permisi duduk di meja tamu berhadapan. Di sebelah Lesmana mengekor apa yang dia lakukan.

"Mau mengelak, sok alim," ejeknya dengan Jari telunjuk dan tatapan membunuh.

"Sebenarnya tadi, saya...."

Kasdiro menepis ucapan Yusuf dengan menampar mukanya. Plak, membentuk sebuah lukisan jari, yang diusap Yusuf dengan pelan. Tak lama telapak Lesmana hinggap juga di pipi sebelahnya.

Ya Allah, mengapa mereka tidak percaya, jeritnya dalam hati. Perasaan gundah yang sedari tadi membayangkan kerasnya payudara Cika, kini ditambah oleh kesalahpahaman. Kepalanya memutar bingung.

"Kami akan memperpanjang masalah ini, telpon Pak RT, Dir!" ucap Lesmana keras.

"Pak kadiro, Pak Lesmana, kita sudah lama bertetangga, mengapa Bapak tidak percaya saya?" Rintih Yusuf pelan.

"Memang kita sudah lama bertetangga, tapi bukan berarti, kita memihak yang salah. Rupanya selama ini, kedok Ustaz hanya untuk menutupi rupamu. Sudah berapa lama kamu grepe-grepe anakmu hah!" Ucapan Lesmana disertai tatapan jijik.

Kadiro keluar sambil memencet hpnya, rupanya benar akan menelpon pak rt.

Deritan pintu menolehkan keduanya, yang ditatap meresa heran. Mendengar ribut-ribut membangunkan diri yang tertidur setelah menyusui Banar.

"Ada apa Bi. Kok aku dengar suara ribut-ribut." tanyanya heran.

"Duduk Sari. Aku akan buka kedok suami Ustazmu yang brengsek ini!"

"Jangan sembarangan ngomong Pak, jaga sopan santun ini rumah saya," jawab Sari gusar.

"Kamu nggak tau saja suamimu ini, alim di depan, di belakang brengsek tau!" Tukas Lesmana.

Tak lama Kasdiro muncul, dan bilang kalau pak RT dalam perjalanan pulang dari pasar. Sehari-hari berjualan pak RT berjualan di pasar.

"Bagaimana sudah telpon?"

"Udah Pak!" Ujar Kasdiro mantap.

Sari memandang Abi yang kelihatan sangat tertekan sekali. Ada sorot kesedihan, bingung jadi satu. Gerakan mata Abi seolah dimengerti Sari yang lantas masuk mancari Cika.

Tanpa mengetok pintu seperti yang biasa dia lakukan, tertegun melihat Cika tertelungkup di kasur hanya berbalut handuk. Ada sesenggukan terdengar.

"Sayang, ini Umi."

Tak ada kata sautan, tapi tak lama kemudian, berbalik dan memeluk Sari. Dengan mengelus lembut, dibiarkannya sampai cegukan beberapa lama. Cika mengangkat kepalanya.

 

"Umi, Cika takut." Bola matanya merabun.

"Takut apa sayang, katakan pada Umi. Jangan takut, Umi percaya pada Abi dan Cika."

"Itu Bapak 2 itu yang di depan marahi Abi, Cika takut."

"Ngak usah takut sayang. Memang kenapa kok mereka berdua marah ma Abi." Sari mengelus rambut Cika, menenangkan mengorek cerita apa yang sebenarnya terjadi.

"Karena Abi pegang payudara Cika Mi," Sari terbelalak kaget, jadi benar apa yang dikatakan Pak Lesmana dan Pak Kasdiro tadi.

Rasa tak percaya merembet perlahan di dada, antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin Abi yang merupakan salah satu Takmir mesjid, mengumandang azhan terbaik di desanya, melakukan perbuatan seperti itu. Rasa marah perlahan bercokol di hatinya, awas kamu Abi, batinnya.

"Tapi Mi, Abi hanya periksa payudara Cika!" Memegang tangan Sari lembut, belum selesai  Sri memotong ucapannya.

"Memeriksa?"

"Ya Umi, soalnya payudara Cika sakit dan keras!" Seolah terhantam dasyat dada Sari mendengar ucapan putrinya,.ada penyesalan karena sudah mencurigai Abi.

"Sakit? Sayang, boleh Umi lihat," perlahan dirabanya gundukan yang belum tumbuh sempurna itu. Walaupun sedikit tegang, dirabanya berulang untuk memastikan apakah benar yang anaknya katakan.

"Sakit Umi," isakannya seolah memastikan betapa sakit yang dirasakan Cika.

Sari bingung, takut cemas jadi satu. Teringat pada pada apa yang diderita oleh ibu mertua dan kakak iparnya. Pantas saja, Abi tadi terlihat bingung. Setelah bisa menguasai diri, Sari lantas tersenyum dan berucap.

"Baiklah sayang besok kita ke rumah sakit, untuk memastikan kenapa payudaramu sakit. Ok, jangan nangis lagi ya. Sekarang pakai baju,nanti tambah masuk angin kamu."

"Ya, Umi," lantas beranjak menuju lemari pakaian.

Masih dengan menahan gusar, Sari keluar kamar melangkah ke ruang tamu, setelah menutupnya pelan. Dilihatnya ada tiga orang lelaki yang bersitegang, yang satu menunduk takut, yang dua menatap dengan garang.

"Abi," ucapnya lembut, lantas duduk di sebelahnya.

"Ya Umi, bagaimana Cika?"

"Dia baik-baik saja, sudah tidak takut dan menangis lagi. Besok kita bawa ke rumah sakit." Menenangkan Abi yang sangat tertekan, antara cemas dan tekanan yang diberikan dua orang di depannya.

Sari memposisikan diri setenang mungkin, lantas menggeser posisi tubuhnya, menghadap Kasdiro dan Lesmana.

"Bapak berdua, maafkan suami saya. Kejadian yang Bapak berdua lihat tadi, tidak seperti yang Bapak duga."

"Enak saja, kau mau membela suami brengsekmu itu!' sindir Kasdiro.

Heran, padahal sehari-hari mereka adalah rekan suaminya yang selalu bertutur kata lembut, sekarang hanya karena salah paham  dengan yang mereka lihat, semua kata sopan santun jadi hilang. Menyadari hal itu, Sari mengambil nafas panjang, agar hatinya tidak ikut terbawa emosi.

"Assalamualaikum...." Rupanya pak RT.

"Waalaikum salam."

Sari lantas berdiri memberi kesempatan kepada pak rt, untuk duduk, dia sendiri masuk ke dalam mau membuat kopi.

"Sari, jangan pergi kau! Duduk disini," bentak Kasdiro garang, dipikirnya Sari mau mengelak dari sidang kecil ini.

"Saya mau buat kopi Pak, saya tidak akan lari!' bentaknya.

"Duduklah Dari, mari kita selesaikan masalah ini, dengan kepala dingin." Ujar pak RT, pusing mendengar suara bentakan.

Mana tadi jualannya di pasar masih tersisa banyak, ditambah masalah ini. Tapi pembawaannya yang kalem dan bijaksana, makanya orang-orang memberi mandat dia untuk jadi RT. Walaupun secara ekonomi, masih banyak warga lain yang lebih darinya.

"Baiklah, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian bersitegang?" Empat orang yang ada di ruangan itu terdiam, tanpa ada yang memulai bicara.

"Ayo siapa dulu yang bicara! Kamu, Kasdiran!"

"Begini pak RT. Tadi saya mau bertamu ke Ustaz, tetiba saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Ustaz Yusuf meraba payudara Cika dengan tangannya. Ini saksinya Lesmana. Kami berdua melihat dengan mata kepala sendiri!" Ujar Kasdiran berapi-api.

"Betul Pak, saya melihat dengan jelas, kami berdua ada di pintu. Sedang Cika dan Ustaz duduk di kursi panjang ini," jelasnya panjang lebar, disertai mimik muka yang menampakkan kebencian.

"Baiklah, silahkan Ustaz dijawab," kata pak RT bijak. Dengan mengambil nafas panjang, Ustaz Yusuf menjawab.

"Memang benar saya memegang payudara Cika...." Belum selesai bicara langsung saja Kardiman memotong.

"Betulkan kataku, ngaku sekarang kamu brengsek!" hendak mengangkat tangan, untunglah pak RT menangkap tangan Kardiman.

Beberapa tetangga yang mendengar keributan di rumah ustaz Yusuf, langsung mendatangi, dan memenuhi pintu. Mereka heran dengan apa yang terjadi, tapi mulai paham setelah Ustaz Yusuf melanjutkan ucapannya.

"Pak RT, tadi Cika bilang, payudaranya keras dan sakit. Jadi dia memperlihatkan kepada saya, otomatis saya menyentuhnya. Saat itulah Pak Kardiman dan Pak Lesmana datang, dan menyangka say grepe-grepe anak saya," ditundukkannya kepala dalam, merasa malu.

 

Apalagi beberapa ibu yang menyaksikan ikut melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Dasar kurang ajar, ustaz nggak tahu adat dan banyak lagi yang lainnya. Setelah pak RT buka bicara, semua pada diam.

 

BDWS120622

Komentar

Posting Komentar