04.Serba Guna

"Buk punya uang recah nggak?"

"Ada, beli apa sih?"

"Kerupuk, dimana Buk?"

"Tas ransel di kasur."

Sekilas percakapan, ketika aku sedang membuka tudung saji, pulang dari kerja sedang anakku  pulang sekolah. Sama-sama masih dengan seragam masing-masing, karena kelaparan tidak sempat berganti baju, malah langsung ke ruang makan.

"Ya ampun... Ibuk! Ibuk!" 

Pekik Rosa dari kamar, diikuti langkah tergesa menuju kamar. Apa sih nih anak, nggak tau apa kalau perut lapar, malah main drama. Sampai di kamar langsung menuju Rosa yang terfokus melihat tas ranselku yang terbuka.

"Apa sih Ros?"

"Lihat Buk!"

"Oh itu, Ibuk tadi belanja di kantor."

Jawabku enteng lantas mencomot bungkusan resek berisi sayur ketela, dan bahan sambelan dari tas. Rosa terbelalak melihat tingkahku, tak peduli buru-buru pergi ke ruang makan, karena perut yang keroncongan.

Membuntuti langkahku menuju dapur, meletakkan bungkusan lantas menuju meja makan. Sepertinya rasa kaget gundah gulana melanda, hanya karena ada bungkusan resek di tas kerja. Bagai buntut yang ngintel tak mau lepas mulai tadi, dia hanya mengekor dan duduk di meja bersebelahan denganku, tampaknya Rosa kesal banget hanya gara-gara resek putih.

"Ayo, mau lauk apa?"

"Ngak mau! ih sebel!"

"Ayo makan, sebelnya nanti."

Tak kuhiraukan, berbalapan sendok garpu mencapai mulut, akhirnya tandaslah semua isi piring tanpa sisa. Kupandang Rosa, yang segan makan padahal tadi bilang lapar, dan hanya memutar-mutar malas. Kugeser piring dan mengambil sendok, menarik dagunya menghadap ke arahku, dan senyum manis semanis madu.

"Sayang, kenapa marah sekali sih, hanya gara-gara isi resek."

"Ibuk tidak menghargai Rosa! Rosa sudah capek-capek nabung, eh ujung-ujungnya tas mahal untuk tempat sayur terasi!" keluhnya sebal.

Pecahlah tawaku, walaupun aku sudah tahu, tapi tak urung jawabannya sungguh lucu. Kupaksa makan dengan sendok depan mulutnya. Tega-teganya perutnya dibiarkan kelaparan, memang apa salah perut, sampai dibiarkan kelaparan, salah sayur dan terasi?

Apa salah dengan tas, memang gunanya untuk menampung semua barang yang kita inginkan tak peduli benda apa itu. Semua bisa masuk, buku dompet fulpen dan geng, tak masalah kan? Lantas apa hubungan antara manfaat tas dan harga tas? Tak ada hubungannya. Semua manfaatnya hanya satu, yaitu untuk isi barang apapun, tak terkecuali  sayuran dan terasi.

Begitu suami pulang, langsung mengadu. Tak dapat menahan tawa, Mas Andi menasehatiku.

"Buk, Buk. piye too, kan bisa diletakkan di jok atau di cantol di sepada."

"Bapak, yang benar saja, pakai seragam bawa sayur? Apa kata dunia. Yang aman masuk dalam tas."

"Kan bisa masuk jok Buk<" protes Rosa.

"Jok kecil, hanya bisa isi jas hujan," akhirnya mereka berdua tak bisa berkata-kata.

Keesokan harinya begitu ketemu Santi di kantor, dia malah mendukungku, tak masalah dengan isi tas berapapun mahalnya dan bentuknya. tuh kan, betul, selevel denganku.

Menurutku tas kerja itu selain untuk menampung peralatan kerja, tak masalah diisi barang lainnya, asal tidak menganggu orang saja. Ok.

BDWS200622



 

Komentar

Posting Komentar