05. Fenomena BBM



Pagi-pagi aktivitasku memanaskan sepeda Sambil melap dengan kanebo yang sudah pudar tapi masih bagus dipakai. Teringat tiga hari lalu isi bensin, hari ini waktunya minum untuk si kumbang hitam. Menyebutnya begitu karena hiasan plastik sudah aku babat habis, yang tersisa hanya cat hitam legam memenuhi seluruh permukaannya.

Begitu melewati pom bensin baru teringat, kepalang basah kuteruskan saja jalan, agak cemas takutnya bensin habis. Perhitungan lima kilometer masih cukup buat jalan. Dengan tenang aku jalan dan berharap sepeda kumbang tidak mogok.

Alhamdulillah di ujung jalan ada bensin eceran yang sudah buka, pelan jalan kepinggir dan memencet bel yang terletak di pintu kecil lapak bensin. Tak lama seraut wajah bapak usia 50 puluhan datang.

"Berapa liter Bu?"

"Dua Pak."

Bapaknya dengan sigap mengambil 2 botol bensin, membuka tutupnya, lantas menuangkan di bibir tangki yang sudah kubuka. Teringat fenomena bensin, lantas kutanya iseng.

"Pak tarlagi beli bensin harus daftar dulu ke my Telkomsel."

"Iya Bu, ini Sekarang kulaan saja dibatas 5 liter."

"Loh itu punya Bapak lebih dari 5 liter?"

"Beberapa kali bolak-balik kalau kulakan."

Aku manggut-manggut tanda mengerti, memandang bapak yang lantas kutahu bernama pak Kasdi, mantan pegawai PG. Mengisi hari tua dengan berjualan bensin untuk menambah pendapatan karena uang pensiun kecil.

"Makasih ya Pak," menyodorkan uang dua puluh ribuan.

" Ya Bu sama-sama," jawabnya dengan senyum.

Sambil menstater sepeda kutoleh bapak Kasdi yang memandangi aktifitasku. Tak lama bunyi halus terdengar, walaupun sepeda tua, aku servis secara rutin. Hasilnya suara bagus, gas ringan dan yang penting larinya kencang.

Sambil jalan aku melamun membayangkan Pak Kasdi, bagaimana jadinya kalau mau beli pertalite harus daftar dulu di aplikasi. Iya kalau punya HP android kalau tidak? Tentu kesulitan kalau mau kulakan.

Juga aku mau beli dimana pertalite, karena keberadaan pedagang eceran lebih sering aku beli daripada ke pom bensin. Walaupun berkurang dikit tak masalah, karena bisa membantu orang kecil secara tidak langsung.

Sampai di kantor karena belum waktunya mulai jam kerja, pada heboh soal fenomena pertalite yang dibahas di TV one semalam. Aku sempat melihat hanya sebentar karena ada tamu.

"Coba pikir, mau beli pertalite masih buka aplikasi dulu, padahal tahukan kalau buka hp di pom itu di larang, bisa menyebabkan gangguan pada mesin. Dan katanya juga, bisa menyebabkan kebakaran, la inikan bertolak belakang," Renia teman satu jejer meja berapi-api.

"Betul itu. Setiap mau beli buka aplikasi, kan makan waktu banyak dan antrian pasti tambah panjang, apa itu tidak dipikirkan. Kalau telat ngantor bagaimana?" Rudi kali ini yang komentar karena sering telat ngantor.

"Iya aku juga kasihan pada pedagang eceran, apa mereka punya kesempatan untuk kulakan. Keberadaan mereka diperlukan karena terkadang kita lupa kalau bensin sudah habis sewaktu-waktu." Jawabku.

Tetiba bunyi suara mobil memasuki halaman kantor, Rudi, Renia dan aku pada kembali ke meja masing-masing. Mbak Susan yang nggak sempat ngomong, mengerucutkan mulutnya.

"Nanti aku mau ngomong juga ya," kita bertiga hanya manggut-manggut saja, apa ya sempat ngobrol kalau pak kepala datang.

Sambil melap meja kerja aku ngelamun, bagaimana nasib mobil yang di rumah. Selama ini selalu minum pertalite saja, jarang-jarang beli Pertamax. Perbandingan harga yang mencolok tentu saja harga termurah yang dibeli.

Menurut CNN Indonesia, Kamis 30 Juni 2022 akan ada pembatasan pembelian bahan bakar Pertalite, tidak hanya pengguna roda empat, melainkan roda dua dengan 250 CC akan terdampak.

Semua produk sepeda motor mulai dari Honda, Yamaha Kawasaki, BMW akan terdampak Pertalite karena ada produk mereka yang ber CC 250.

Ditegaskan oleh BPH migas Saleh Abdurrahman, sesungguhnya kalau mampu membeli mobil mewah, mestinya mampu juga beli BBM non subsidi.

Aku terpaku kaget dari lamunan ketika sebuah ketokan mendarat di kepala, ternyata bapak kepala.

"Maaf Pak Ryan, siap."

"Siap, siap! Siap opo?"

"Siap laksanakan!" Jawabku tegas disambut tertawaan teman seruangan. Menjengkelkan.

"Pagi-pagi ngelamun, kenapa diputusin apa?"

"Nggak Pak, hanya kepikiran Om Pertalite," ujarku dengan senyum manis, takut digetok lagi.

"Om Pertalite dipikir, nggak usahlah. Nggak mungkin pemerintah akan menyengsarakan rakyat. Bapak dewan dan para pakar sekarang, pasti sudah membicarakan, solusi apa yang terbaik bagi masyarakat agar mereka membeli sesuai kapasitas kantongnya, begitu."

" Siap Pak."

"Ayo ikut ke lapangan, kau juga!" Tak makan waktu lama aku dan Rudi langsung mengambil tas cangklong dan HP, mengikuti Pak Ryan. Memeletkan lidah sejenak pada Mbak Susan dan Renia yang mengacungkan kepalan tangannya. Ternyata ngerjain teman lucu juga.


BDWS300622

Komentar

Posting Komentar